PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 11 Oktober 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-44

Tidak jarang kata-kata, sikap dan perilaku Yesus menyebabkan kontroversi di mata kaum Yahudi yang “saleh”, antara lain karena Dia tidak mengikuti semua praktek keagamaan tradisional yang berlaku pada zaman itu. Misalnya, orang Yahudi wajib untuk mematuhi seperangkat aturan yang kompleks berkaitan dengan bagaimana berperilaku dalam bermacam-macam situasi, untuk menjaga kemurnian ritual. Yesus dan para murid-Nya tidak selalu melaksanakan upacara cuci tangan sebelum makan (Luk 11:38). Dengan mengabaikan praktek-praktek sedemikian, Yesus mencoba mengajar apa yang sebenarnya bersifat sentral dalam penghayatan iman-kepercayaan sebuah agama.

Unsur-unsur eksternal dari praktek keagamaan telah begitu menjadi beban-berat bagi umat, sehingga mereka menjadi tidak fokus pada hakekat atau jiwa agama yang benar. Misalnya, seseorang diizinkan mempersembahkan harta-miliknya untuk Allah dan dengan demikian diperkenankan untuk tidak melakukan kewajiban membantu orangtuanya seandainya mereka mempunyai kebutuhan (Mat 15:3-6). Yesus mengajarkan bahwa praktek keagamaan dalam dirinya bukanlah tujuan, karena praktek tersebut harus dikaitkan dengan cintakasih kepada Allah dan sesama (baca: Luk 6:1-11). Allah  menghendaki belas kasihan dalam hati dan tindak-tanduk kita (lihat Mat 9:13).

Yesus memiliki keprihatinan besar terhadap orang-orang miskin, para pendosa, orang-orang yang terbuang, para janda, orang-orang asing dan mereka yang suka melawan. Ia mengajarkan bahwa mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati merupakan perintah hukum yang paling besar (lihat Luk 10:25-28). Mengasihi sesama merupakan penggenapan hukum (lihat Rm 13:8-10) sehingga tindakan karitatif merupakan sebuah tanda seseorang itu benar di hadapan Allah. Bagi Lukas, pemberian derma atau sedekah merupakan bagian hakiki dari kehidupan Kristiani dan suatu pencerminan keadaan hati yang benar dari seseorang (Luk 11:41).

Lukas secara istimewa memiliki keprihatinan atas kebutuhan orang-orang miskin. Injil yang ditulisnya sebenarnya ditujukan kepada sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah non-Yahudi dan orang-orang kotaan (urban) yang mempunyai posisi relatif baik dalam masyarakat. Keprihatinan Lukas di sini adalah agar orang-orang “yang nggak miskin-miskin amat” ini juga percaya kepada Yesus dan menghayati kehidupan seperti Yesus yang mengasihi orang-orang miskin, “wong cilik” zaman itu. Cintakasih kepada orang-orang kecil itu dicerminkan dalam praktek pemberian derma atau sedekah.

Sebuah hati yang dipenuhi kuasa ilahi akan membawa cintakasih Kristus kepada orang-orang lain melalui tindakan kasih (karitatif), bela-rasa dan pewartaan Injil. Penghayatan iman dari sebuah agama yang benar akan membuat seseorang melakukan pembalikan total dalam sikap dan perilakunya, dari yang semula memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri, menjadi pemusatan segalanya kepada Allah dan tentunya orang-orang lain. Artinya, menjadi lebih terbuka kepada orang-orang lain, dan menanggapi secara positif terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Tindakan-tindakan karitatif mencerminkan penghayatan iman yang benar manakala tindakan-tindakan itu dilakukan demi kemuliaan Allah dan didasarkan motivasi cintakasih kepada sesama (lihat misalnya Luk 21:1-4).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah agar aku dapat bertumbuh dalam penghayatan iman yang benar. Semoga iman-kepercayaanku kepada-Mu mentransformasikan hatiku. Anugerahkanlah kepadaku, ya Yesus, cintakasih kepada sesamaku, teristimewa mereka yang miskin, tersisihkan dalam masyarakat, “wong cilik”, yang menggantungkan segala harapan pada Allah yang Mahapengasih; kaum “anawim” zaman ini. Semoga cintakasih kepada sesama yang Kauanugerahkan kepadaku dapat diungkapkan dalam kemauanku untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 11-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 7 Oktober 2016 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS