HIDUP SEJATI BUKAN BERARTI MEMILIKI HARTA DENGAN BERKELIMPAHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dari Antiokhia, Uskup – Senin, 17 Oktober 2016) 

jesus_christ_picture_013Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21) 

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5 

Dalam perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh”, Yesus menunjukkan bahwa hidup sejati bukan berarti memiliki harta dengan berkelimpahan, akan tetapi kaya di mata Allah. Santo Paulus juga menunjukkan hal yang sama ketika dia berkata: “Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2).

Cinta akan harta milik duniawi – dan hasrat yang tak kunjung henti untuk memperoleh lebih banyak lagi harta duniawi – hanya akan merugikan dalam jangka panjang. Yesus tahu bahwa semakin jelas kita memahami siapa kita ini sebenarnya dan mengapa kita ada di sini, semakin penuh pula kita akan mencari harta hidup surgawi bersama Dia. Orang kaya dalam perumpamaan Yesus di atas terlambat belajar bahwa kepemilikan harta duniawi tidak akan pernah mampu memberikan hidup sejati. Tentu saja, harta milik duniawi kita adalah anugerah dari Allah – berbagai sumber daya untuk mana Dia menginginkan kita menjadi pengurus yang baik. Kalau Allah memberkati kita dengan barang-barang duniawi secara berkelimpahan, kita harus bersyukur kepada-Nya dan berupaya untuk menggunakan semua itu dengan cara terbaik dalam melayani-Nya dan orang-orang lain. Selagi kita belajar menjadi “kaya di hadapan Allah” [1] dengan cara ini (Luk 12:21), hati kita pun dapat menjadi lebih terbuka bagi kasih Yesus dan kita pun dapat dipenuhi dengan harta kekayaan kerajaan Allah.

parable of the rich foolHarta kekayaan yang paling agung yang dapat kita terima adalah anugerah Roh Kudus, karena Roh Kuduslah yang memimpin kita kepada kekayaan kerajaan Allah. Melalui Roh Kudus, kita dapat belajar bagaimana menempatkan kasih akan Allah dan kasih akan sesama lebih dahulu dari cinta-diri dan keuntungan-keuntungan duniawi. Roh Kudus dapat mengajar kita untuk pertama-tama mencari kerajaan Allah dan mempercayai bahwa Bapa surgawi yang penuh kasih akan menyediakan bagi kita segalanya yang kita perlukan di dunia ini (Mat 6:33). Ada tiga hal yang sungguh bertahan lama, yaitu iman, harapan dan kasih (1Kor 13:13). Apabila kita dipenuhi dengan anugerah-anugerah Allah yang tak ternilai harganya ini, maka pasti kita tak akan kekurangan sesuatu pun.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah memasuki hidup kami dengan lebih penuh lagi; ajarlah kami untuk menghargai kekayaan kerajaan Allah dan kemudian memilikinya. Tolonglah kami untuk mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, sebelum kebutuhan-kebutuhan kami sendiri. Jagalah kami agar  selalu memusatkan perhatian kami pada hal-hal yang di atas, bukan hal-hal dunia ini. Amin. 

[1] Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA YANG BODOH” (bacaan tanggal 17-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 12 September 2016 [Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS H

Advertisements