JANGANLAH DUDUK DI TEMPAT KEHORMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Sabtu, 29 Oktober 2016) 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:1,7-11) 

Bacaan Pertama: Flp 1:18b-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3,5 

Kalau ada satu sikap yang secara konsisten dicemoohkan oleh “dunia”, maka sikap itu adalah “kerendahan hati” dan hal itu terutama terjadi karena dunia tidak memahami apa arti sebenarnya dari kerendahan hati. Yang pertama dan utama adalah bahwa kerendahan hati itu menyangkut suatu “ketergantungan penuh kepercayaan” pada Allah. Lawannya adalah “kesombongan”, yang pada hakekatnya adalah suatu penjauhan diri dari Allah (Sir 10:12). Kerendahan hati percaya bahwa Allah adalah baik, maka menemukan kekuatan untuk bertekun di bawah berbagai godaan dan pencobaan. Di sisi lain kesombongan yang melarikan diri dari Allah hanya membimbing kepada sikap mementingkan diri sendiri, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menanggung kesulitan-kesulitan – atau memahami arti penderitaan.

Jantungnya kerendahan hati adalah pengetahuan bahwa kita adalah pihak yang menerima kerahiman Allah yang berlimpah, dan yang memiliki kesadaran bahwa kita sebenarnya tak pantas untuk menerima kerahiman Allah tersebut. Ketika kita mengalami kasih Yesus yang murah hati dan penuh pengampunan, kita dibuat menjadi rendah hati dan dalam diri kita mulai berkembanglah suatu kemurahan hati yang bersifat ilahi. Dalam terang pengalaman kita akan kasih Allah, kita sadar bahwa kita sendiri hanyalah para pengemis dan tidak berbeda dengan orang-orang yang dicampakkan oleh dunia. Kita menjadi sadar bahwa siapa saja di muka bumi ini adalah saudari dan saudara kita, dan kita dipanggil untuk berdiri bersama dengan mereka yang berada di “tempat yang paling rendah” (Luk 14:10) dan mensyeringkan dengan mereka kasih yang baru kita terima itu.

Yesus adalah teladan paling sempurna dari kerendahan hati. Dia sangat berendah hati untuk menamakan diri-Nya sebagai saudara kita, untuk mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita yang penuh dosa dan kelemahan, dan bahkan sampai menjadi sama seperti kita, agar dapat menyelamatkan kita. Dengan cara yang sama, Yesus minta kepada kita untuk berendah hati agar dapat memandang setiap orang yang membutuhkan di sekeliling kita sebagai saudari atau saudara, dan agar kita pun melayani orang-orang itu.  Seperti Yesus selalu memperhatikan kepentingan kita, Dia memanggil kita juga untuk memperhatikan kepentingan-kepentingan sesama, yaitu saudari dan saudara kita (Flp 2:4).

Pada hari ini, mohonlah kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada anda harga yang telah dibayar oleh-Nya untuk membebaskan anda dari dosa dan mengangkatmu – meninggikanmu –  untuk sampai kepada takhta Allah Bapa. Biarlah kasih-Nya menggerakkan anda untuk mensyeringkan kasih itu dengan orang-orang di sekelilingmu. Semoga kita semua membuat komitmen dalam diri kita sendiri untuk mengangkat saudari dan saudara kita, sehingga dengan demikian bersama-sama kita dapat memuliakan Yesus, Penebus kita yang rendah hati!

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menaruh kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi hari ini dan tolonglah aku untuk mengasihi dan memperhatikan siapa saja yang Kautempatkan pada jalan hidupku hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-11), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN RUMAHLAH YANG AKAN MENENTUKAN” (bacaan tanggal 29-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 26 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS