MANUSIA YANG HIDUP SECARA PENUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Elisabet dr Hungaria – Kamis, 17 November 2016)

yesus-menangsisi-yerusalem-003Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44) 

Bacaan Pertama: Why 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6a,9b

Santo Ireneus dari Lyon [130-201], seorang uskup dan teolog pernah mengatakan yang berikut ini: “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup sepenuhnya, karena kehidupan sesungguhnya dari manusia adalah gambaran Allah.” Kita dapat menangkap “gambaran Allah” dalam Injil, di mana kita melihat dalam diri Kristus suatu contoh seorang manusia yang sungguh “hidup sepenuhnya”.

Misalnya, cerita-cerita dalam Injil menunjukkan kepada kita bahwa tidak benarlah apabila dikatakan jika kita menjadi lebih kudus, semakin menjadi tanpa emosilah diri kita jadinya. Renungkanlah cerita Injil hari ini tentang Yesus yang menangisi Yerusalem (Luk 19:41). Yesus adalah manusia yang paling kudus yang pernah hidup di dunia, dan kita melihat Dia dipenuhi kesedihan dan dukacita! Atau, pikirkanlah tentang kemarahan yang ditunjukkan oleh-Nya ketika Dia mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah (lihat Yoh 2:13-17). Jadi, mengapa kita kadang-kadang menjadi takut terhadap emosi-emosi kita sendiri, atau mencoba untuk menyembunyikannya?

Pada waktu Allah menciptakan kita (manusia) menurut rupa dan gambar-Nya, Dia mendeklarasikan bahwa setiap hal tentang kita adalah baik (lihat Kej 1:26,27,31). Namun luka yang disebabkan dosa asal menyebabkan peningkatan dalam keserakahan, dan hasrat-hasrat yang tidak keruan, dan juga agresi yang bernuansa kekerasan. Karena dosa manusia, kita semua telah terkena luka dalam pencarian kita akan kasih, dan kita semua telah mengalami betapa merusaknya emosi yang tak terkontrol. Jadi, untuk melindungi diri kita, kita seringkali  membangun benteng-benteng pertahanan.

Masalah dengan strategi ini adalah bahwa benteng-benteng pertahanan kita juga dapat menghalangi kita untuk mengekspresikan secara alamiah perasaan-perasaan kita yang sesungguhnya. Karena ditutup rapat-rapat untuk jangka waktu lama, perasaan-perasaan ini kadang-kadang dapat “meledak” dalam upaya kita membela diri dan hal ini membuat kita merasa lebih bersalah lagi. Sementar itu, luka-luka yang belum tersembuhkan dan kebutuhan-kebutuhan yang belum/tidak terpenuhi tetap terpendam dalam hati kita. Dalam analisis akhir, benteng-benteng pertahanan kita dapat membuat kita merasa sunyi sepi sendiri dan hanya merasa hidup separuh-separuh saja, artinya tidak penuh.

Allah ingin membuat kita hidup secara penuh sehingga dengan demikian kita dapat menunjukkan kepada dunia apa artinya suatu hidup Kristiani yang sehat dan seimbang. Allah ingin membebaskan kita  agar dapat bersukacita maupun berdukacita, untuk menjadi marah ketika menghadapi ketidakadilan, dan untuk menunjukkan kasih kita untuk setiap hal yang benar dan indah dalam dunia ini.

Saudari dan Saudaraku, jika kita menghadapi suatu situasi yang memprovokasi diri kita (anda dan saya) untuk memberi tanggapan yang bersifat emosional, maka kita tidak boleh menyangkal perasaan-perasaan atau menuduh diri kita sebagai tidak cukup suci. Sebaliknya, marilah kita membawa reaksi-reaksi kita ke hadirat Allah. Kita memohon kepada-Nya agar reaksi-reaksi kita itu dimurnikan dan kita memperkenankan Allah untuk membuat diri kita hidup secara penuh!

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku agar dapat bersukacita bersama-Mu dan berdukacita bersama-Mu juga, untuk berharap akan kedatangan-Mu, dan untuk mengalahkan rasa takutku. Anugerahkanlah kepadaku rahmat agar dapat menyalurkan segala energi emosi-emosiku ke dalam upaya memenuhi tujuan-tujuan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan yang berjudul “WALAUPUN  TELAH MENDENGAR SABDA-NYA, HATI MEREKA TETAP TERTUTUP” (bacaan tanggal 17-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2065. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 14 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS