ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 2 Desember 2016) 

OSCCap: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris-Kapucines

11dosciegos
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”  Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)
 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Di bagian lain dari Injil Matius dikisahkan bagaimana beberapa orang murid Yohanes Pembaptis datang menemui Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat11:5). Itulah jawaban Yesus mengenai identitas-Nya. Mukjizat pencelikan mata  dua orang buta yang diceritakan dalam bacaan Injil kali ini merupakan satu dari serangkaian tanda yang mengarah kepada identitas Yesus sebagai Mesias.

Dua orang buta mendekat kepada Yesus dengan sebuah permintaan sederhana, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman mereka mengenali Yesus sebagai bukan sekadar seorang rabi biasa, namun sebagai Mesias – seorang pewaris takhta Daud – Dia Yang Diurapi –  yang telah datang untuk menggenapi janji Allah kepada umat-Nya. Memang “Anak Daud” adalah sebuah gelar mesianis! “Anak Daud” sama artinya dengan “Dia yang akan datang, Dia yang dijanjikan para nabi”. Kebutaan fisik kedua orang itu tidak memampukan mereka untuk melihat Yesus, namun mereka percaya kepada-Nya. Mereka berseru-seru kepada Yesus karena mereka tahu Yesus dapat menganugerahkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat ditolak – kesembuhan dan suatu hidup baru.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus masih bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Yesus menanyakan apakah kedua orang buta itu memiliki iman, karena Dia ingin memurnikan iman mereka. Dia membimbing mereka bergerak dari posisi “memikirkan diri sendiri” ke posisi “memusatkan pikiran pada pribadi Yesus”. Mukjizat yang akan dilakukan-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis dan magic, melainkan membutuhkan iman. “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28),  itulah jawaban mereka. Sebagai tanggapan terhadap iman mereka, Yesus menunjukkan kepada mereka  kedalaman cinta kasih Allah. Tidak saja Yesus menyembuhkan kebutaan fisik kedua orang itu, Dia juga memulihkan kebutaan spiritual mereka.  Dua orang buta itu menghargai apa yang telah dilakukan Yesus atas diri mereka. Dari bacaan Injil ini pun kita percaya bahwa dua orang buta yang disembuhkan itu, dengan dua mata yang terbuka lebar mengenali siapa Yesus sebenarnya, kemudian merangkul Dia sebagai Juruselamat mereka. Meskipun dengan tegas dilarang oleh Yesus, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu ( Mat 9:31).

Nah, Yesus ingin sekali agar kita semua mendekat kepada-Nya dengan penuh kepercayaan seperti ditunjukkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan-Nya itu, yaitu mohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Apa yang dapat menahan atau menghalangi kita? Mungkin rasa masa bodoh, atau mungkin ketidak-percayaan kita, atau mungkin juga rasa tidak berarti. Ingatlah pesan Santo Paulus, bahwa tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan maut sekali pun (Rm 8:31-39). Memang terkadang kita merasa tidak mempunyai cukup iman kepada Yesus yang mau menjawab seruan kita kepada-Nya.

Kita sering  kali merasa hampir putus-asa ketika berdoa kepada-Nya. Seakan-akan Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa kita! Dalam situasi seperti ini, ingatlah akan sebuah kenyataan: Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita lebih daripada kita sendiri. Dia pun selalu siap memberikan rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi firman-Nya dengan penuh rasa percaya dan ketaatan. Dia mau memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita mohonkan atau bayangkan.

Mata kita dibuka pada waktu kita dibaptis. Pada waktu itulah kepada kita diberikan “penglihatan” khusus yang dinamakan iman. Dengan mata iman, kita perlu mengamati dengan seksama segala hal yang dilakukan Yesus bagi diri kita. Melalui baptisan kita pun dibersihkan dari kekustaan dosa. Kita tidak lagi tuli terhadap Kabar Baik yang diberitakan kepada kita, artinya kita mampu mendengar sabda Allah. Kita telah dibangkitkan dari kematian dosa dan diberikan hidup baru dalam Kristus. Kita berjalan dengan gagah dalam terang Kristus. Apakah kita harus mencari pribadi lain selain Yesus? Tentu saja tidak! Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Semoga dalam masa Adven ini kita dapat semakin dekat lagi dengan Yesus, berpengharapan teguh bahwa Dia akan memenuhi semua janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur bahwa Engkau mendengarkan doa sederhana yang dipanjatkan dari hati yang tulus. Kami juga sangat terkesan atas kenyataan bahwa Engkau menghargai kebebasan pribadi kedua orang buta itu sebagai anak manusia: Engkau membangkitkan dan meningkatkan pengharapan, hasrat dan iman mereka, namun Engkau tidak memaksa… ; dan mukjizat pun terjadi menurut iman mereka. Tuhan, tingkatkanlah iman dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31],  bacalah  tulisan yang berjudul “PERCAYA DAN MELIHAT” (bacaan tanggal 2-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12  PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 30 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS