LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja –  Rabu, 7 Desember 2016) 

MARILAH DATANG KEPADAKU“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

“Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat11:29).  “Lemah lembut” berarti baik hati, tidak pemarah, tidak juga galak. Sifat pemarah adalah salah satu dari dosa-dosa manusia yang amat berat. Kemarahan dapat menyebabkan perselisihan dalam keluarga, ketegangan dalam lingkungan atau pun dalam paroki, juga dapat menyebabkan kekacauan di dalam masyarakat. Praktis setiap hari kita dapat menonton TV yang menayangkan adegan-adegan kekerasan: tawuran antar para mahasiswa dan/atau pelajar, perang antar desa, konser band yang berakhir dengan kekacauan, konfrontasi antara petugas dan para PKL, dan banyak lagi, termasuk “perang di lapangan sepak bola”. Wajah-wajah yang terlihat adalah wajah-wajah yang penuh kemarahan. Sifat pemarah dikecam keras dalam Kitab Suci: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mzm 37:8)  Yesus sendiri juga pernah berfirman, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus di hadapkan ke Mahkamah Agama …” (Mat 5:22).

Kesombongan adalah lawan dari kerendahan hati. Sombong, angkuh atau tinggi hati, bahkan termasuk yang pertama dari tujuh dosa maut. Orang yang angkuh tidak disenangi sesama, apalagi oleh Allah: “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN (YHWH), sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Ams 16:5).  Memang ada bermacam-macam bentuk keangkuhan, namun yang paling berat adalah kesombongan atau keangkuhan rohani, misalnya mereka yang merasa diri lebih suci, lebih pintar dalam hal-ikhwal Alkitab, sehingga sampai-sampai memandang remeh orang lain. Contoh dalam Injil dari orang-orang seperti ini adalah “para ahli Taurat”, “orang Farisi”, juga “orang Saduki” dan para imam kepala. Dalam satu surat katolik yang terkenal ada tertulis: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6; bdk. Ams 3:34). Demikian pula dalam satu surat katolik lainnya tertulis sebuah petuah ampuh bagaimana caranya berelasi satu sama lain dalam hidup komunitas, apakah di rumah, di lingkungan dan lain sebagainya: “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’ Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (2 Ptr 5:5-6; bdk. Ams 3:34).  Marilah kita mohon kekuatan dari Allah untuk dapat mempraktekkan semua itu.

“Pikullah gandar yang Kupasang … sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat11:29.30). Mengapa kuk atau gandar yang dipasang oleh Yesus itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan? Apakah hal ini disebabkan karena Yesus menetapkan standar yang rendah bagi kita? Samasekali tidak, karena Yesus pernah berfirman: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).  Apakah karena Yesus minta komitmen yang sedikit-sedikit saja dari kita semua? Tidak juga, karena Yesus pernah berfirman: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat10:38).  Kalau begitu, bagaimana Yesus sampai berkata, bahwa gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya ringan? Jawabannya dapat berlainan, tergantung pada imaji (image) Yesus yang digunakan oleh orang yang memberikan jawaban.

Sebuah kuk atau gandar terbuat dari sepotong kayu yang dipasang di atas leher-leher dua ekor hewan (misalnya sapi atau kerbau) agar kedua ekor hewan itu dapat dikendalikan secara bersamaan.  Di mana Yesus dalam gambaran ini? Apakah Ia berjalan di muka kita? Di belakang kita? Apakah Ia berada dalam gerobak yang kita tarik? Samasekali tidak! Ia berada di samping kita, Ia menarik gerobak bersama kita. Dengan perkataan lain, Yesus mengundang kita untuk melepaskan kemandirian kita dan membiarkan kekuatan-Nya menjadi kekuatan kita. Yesus tahu sekali, bahwa kita tidak pernah dapat menjadi serupa dengan Dia atas dasar kekuatan kita sendiri, oleh karena itulah Dia menawarkan kepada kita kekuatan-Nya agar kita dapat melakukan segala hal melalui Dia dan bersama Dia.

Kehadiran Yesuslah yang menyebabkan mengikuti-Nya menjadi mudah-menyenangkan dan ringan. Sebagai manusia seperti kita, Yesus tahu sekali betapa sulitnya hidup ini. Ia tahu apa artinya digoda dan dicobai, dan Ia pun tahu sekali keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, karena Yesus juga mempunyai kodrat ilahi, Yesus adalah sumber segala rahmat dan kekuatan. Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, dan Ia pun memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Ia merasakan sakit kita, dan Ia berjalan bersama kita, sambil menawarkan kita penyembuhan dan kenyamanan. Sungguh adalah suatu sukacita, apabila Yesus memasang gandar-Nya pada diri kita, dengan demikian kita akan menjadi teman seperjalanan-Nya dalam perjalanan hidup kita. Apakah anda membutuhkan teman yang setia? Apakah anda membutuhkan kekuasaan untuk mengatasi dosa? Teristimewa dalam masa Adven ini, ambillah tempat di sebelah Yesus dengan gandar-Nya. Taruhlah kepercayaan anda pada Yesus dan tariklah kekuatan dari Dia. Yesus yang memiliki Hati yang begitu mencintai, pasti siap menolong anda!

DOA: Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30),  bacalah  tulisan yang berjudul “MENYENANGKAN DAN RINGAN” (bacaan tanggal 7-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements