RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Kamis, 8 Desember 2016)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT 

annunciation-philippe-de-champaigne
Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)
 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12.

Sejak kekal, Allah telah mempunyai sebuah rencana bagi Putera-Nya – bahwa Dia akan membawa Putera-Nya itu ke tengah dunia melalui seorang perempuan yang akan dijaga oleh-Nya dari dosa asal. Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini, tanggal 8 Desember, sebenarnya adalah suatu perayaan tentang rencana agung dan mahasempurna dari Allah Bapa. Hari raya ini adalah sebuah pengakuan, bahwa hal seperti perkandungan Maria pun sudah direncanakan dengan kemahatelitian sehingga perempuan ini kelak menjadi sebuah bejana sempurna bagi Allah Putera. Dengan sekadar pikiran manusia, kita sungguh tidak dapat membayangkan betapa “rumit” karya Allah dalam diri Maria sehingga perempuan dari Nazaret ini dapat memainkan perannya dalam sejarah keselamatan dengan baik. Seperti dengan Maria, Allah juga telah merencanakan setiap detil kehidupan kita. Apakah kita percaya bahwa Allah menciptakan kita dengan perhatian dan kasih kepada kita, tidak bedanya seperti halnya dalam kasus Maria? Apakah kita percaya bahwa Allah bangga kepada kita dan apa yang telah diminta-Nya untuk kita kerjakan, seperti juga dalam kasus Maria?  Memang begitulah! Segala sesuatu tentang kehidupan kita adalah berdasarkan rencana Allah yang mahasempurna sehingga kita dapat menjalani hidup ini seturut “takdir” masing-masing.

Tidak ada seorang pun dari kita “ada” secara kebetulan, dan Allah sang Mahapencipta tidak membiarkan kita sendiri dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sadar akan hal itu, kita pun dapat belajar mengenai rencana Allah dan mengikuti rencana itu, seperti yang telah dicontohkan Santa Perawan Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Kita tahu bahwa dalam Kristus, Allah menginginkan agar kita kudus, tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Dia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia … (lihat Ef 1:4-6).  Namun agar mampu memainkan peranan spesifik kita masing-masing, kita harus selalu waspada dan responsif terhadap panggilan Allah dalam hidup kita.  Dalam bacaan Injil di atas kita lihat, bahwa Maria telah “ditakdirkan” untuk memainkan peranan khusus dalam sejarah penyelamatan. Hal ini sebenarnya tidak berbeda bagi kita. Kita masing-masing juga diciptakan secara unik untuk memainkan suatu peranan vital dalam kerajaan-Nya. Untuk itu kita harus banyak belajar dari Bunda kita, Maria.

Baptism-of-the-Holy-SpiritDalam jawaban “ya” (fiat) Maria kepada Allah (yang diwakili oleh Malaikat Gabriel), Lukas memberikan gambaran sekilas tentang hati Maria yang tanpa noda-dosa (Inggris: Immaculate Heart of Mary). Maria menunjukkan kepada kita sebuah hati yang begitu menaruh kepercayaan pada Allah, mengasihi-Nya, dan yang berkeinginan hanya untuk menyenangkan-Nya dan taat kepada-Nya. Sebagai seorang pribadi “yang dikaruniai Allah” secara istimewa, Maria – atas dasar kehendak bebas – memilih untuk memeluk rencana penyelamatan Allah dan siap sedia untuk berkorban demi memajukan rencana tersebut.

Teristimewa pada hari ini, tidak salahlah kalau kita menghormati serta memuliakan hati Maria yang tak bernoda. Namun juga tidak salah bagi kita hari ini untuk mengingat hal yang sama, yang telah menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat dia dikandung, yaitu segala manfaat serta keuntungan yang disebabkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan kepada kita semua pada waktu pembaptisan. Pada waktu kita dibaptis, kita dicuci bersih dari segala noda dosa, dan pintu surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita dan Yesus datang untuk hidup di dalam hati kita masing-masing. Kita menjadi mampu memiliki disposisi ‘mempercayai dan mengasihi Allah’ seperti telah ditunjukkan oleh Maria. Namun disposisi hati seperti Maria itu harus dibentuk dalam diri kita secara bertahap sementara kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sepenuhnya sebagai pelayan/hamba Allah. Kita mencari Dia dalam doa,  dalam liturgi (teristimewa Ekaristi), dalam pembacaan Kitab Suci, dalam persekutuan dengan para anggota keluarga kita yang kita yakini sebagai “ecclesia domestica” (gereja domestik), persekutuan dalam komunitas-komunitas teritorial seperti lingkungan/wilayah/paroki.; ataupun persekutuan dalam komunitas-komunitas kategorial. Selagi kita mencari-Nya, Allah pun akan memberi petunjuk peranan apa kiranya yang harus kita mainkan. Kita tidak perlu takut, karena apa yang direncanakan Allah untuk dilakukan oleh kita akan dilengkapi dengan pemberdayaan diri kita oleh-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Hanya kita sendirilah yang dapat mengisi peranan yang telah ditentukan bagi kita. Dan dia akan memberikan rahmat-Nya yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-Nya itu.

DOA: Allah yang Mahakuasa, rencana dan jalan pikiran-Mu tak mampu ditangkap oleh pikiranku. Dengan rendah hati aku hanya mohon kepada-Mu, ya Allahku, agar Engkau memenuhi rencana-Mu bagi hidupku. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku lebih menaruh kepercayaan pada-Mu selagi Engkau berkarya membangun kerajaan-Mu melalui diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:3-6,11-12),  bacalah  tulisan yang berjudul “BAGAIKAN SEBUAH KATEDRAL YANG INDAH” (bacaan tanggal 8-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 6 Desember 2016 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements