KUASA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven –  Senin, 12 Desember 2016) 

Suster-suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus (Sorores Missionariae Clarissae A SS Sacramento) [MC]: HARI RAYA SP MARIA YANG TETAP PERAWAN, BUNDA ALLAH PENCIPTA SURGA DAN BUMI GUADALUPE, Pelindung Utama Tarekat 

konflik-dgn-orang-farisi-dll-dengan-kuasa-mana-engkauLalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Jawab Yesus kepada mereka, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.” Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Yesus pun berkata kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mat 21:23-27) 

Bacaan pertama: Bil 24:2-7.15-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Para pemuka agama Yahudi menuntut penjelasan dari Yesus mengapa boleh–bolehnya Dia mengajar di Bait Allah? Dalam pandangan mereka Yesus tidaklah lebih dari seorang pengkhotbah keliling tanpa kredensial-kredensial, misalnya lulusan madrasah ini atau pesantren itu. Yesus tidak menjawab pertanyaan orang-orang itu, melainkan Ia mengajukan pertanyaan-balik yang tidak akan mampu dijawab oleh para pemuka agama tersebut. Inilah contoh berkata-kata dengan hikmat Allah. Yesus samasekali tidak ingin berargumentasi, apa lagi mempermalukan mereka. Ia tidak bermaksud menyudutkan orang-orang “suci” itu.  Di sini Yesus ingin membuat para pemuka agama itu menyadari, bahwa ada lebih banyak lagi misteri dalam Kerajaan Allah daripada yang selama ini mereka ketahui. Iman itulah yang diperlukan, bukannya polemik-polemik. Hal ini juga merupakan peringatan bagi para pemberita Injil Kristiani yang suka memancing polemik dengan mengkritisi denominasi Kristiani lainnya setiap ada peluang untuk itu.

Di belakang seluruh situasi tersebut, sesungguhnya ada pengandaian bahwa Yesus tidaklah lebih daripada apa/siapa Dia seperti penampilan-Nya sehari-hari. Akan tetapi kita telah dipimpin oleh Allah untuk pergi melampaui dunia pengandaian dan penampilan. Dia mau mengajak kita kepada suatu perwahyuan. Dalam iman, kita percaya bahwa Yesus bukan sekadar seorang manusia; kita percaya bahwa Dia juga memiliki kodrat ilahi: Dia adalah Putera Allah yang kekal. Iman akan keilahian Yesus inilah yang seharusnya menjadi motif dasar dari segala kegiatan kita dalam masa Adven ini guna mempersiapkan kedatangan-Nya dengan baik. Kalau Yesus ini hanya seorang manusia, mengapa kita mesti bersusah-payah? Apakah kita perlu melakukan persiapan selama empat minggu untuk perayaan ulang tahun anak kita? Natal itu lebih daripada sekadar sebuah perayaan ulang tahun! Natal adalah suatu kesaksian (testimoni) atas cintakasih Allah yang tak akan dapat dipahami oleh pikiran manusia, cintakasih yang menggerakkan-Nya untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat kita.

Bacaan dari Kitab Bilangan untuk hari ini mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat membatasi bagaimana dan/atau di mana Allah akan bekerja. Ketika orang-orang Israel berada di tengah perjalanan dari Mesir menuju tanah terjanji, raja Moab – Balak bin Zipor – merasa takut jangan-jangan orang-orang Yahudi akan merampas tanah kerajaannya. Oleh karena itu raja mengirim Bileam bin Beor – seorang juru tenung/dukun/ “orang pinter” – untuk pergi dan mengutuk orang-orang Israel sehingga menjadi tidak berdaya. Namun Allah tidak mau membiarkan Bileam mengucapkan kata-kata kutuk. Yang keluar dari mulut Bileam hanyalah kata-kata berkat. Orang-orang Israel itu  terkejut. Mereka tidak percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam diri seorang kafir. Namun kesadaran mereka bahwa Allah berbicara juga melalui Bileam samasekali tidak mengurangi penghargaan mereka terhadap identitas mereka sendiri sebagai umat Allah yang istimewa. Yang penting diyakini adalah kenyataan, bahwa kita – manusia – tidak dapat membatasi bagaimana dan/atau di mana Allah akan bekerja!

DOA: Allah yang mahamulia, imam-Mu Santo Yohanes telah mengingkari dirinya sendiri dengan sempurna dan mencintai Kristus dan salib-Nya. Semoga kami dapat mengikuti jejaknya, agar Kauizinkan kami memandang kemuliaan-Mu yang kekal. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 21:23-27),  bacalah  tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA BERLAGAK BODOH SEPERTI PARA PEMUKA YAHUDI” (bacaan tanggal 12-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 9 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements