CERITA TENTANG DUA ORANG ANAK LAKI-LAKI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan Martir – Selasa, 13 Desember 2016)

KSFL (Kongregasi Suster-Suster Fransiskanes St. Lusia [Fransiskanes Pematang Siantar]): Pesta S. Lusia, Perawan Martir, Pelindung Tarekat 

jesus-christ-super-star“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Zef 3:1-2.9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23 

Yesus suka memberi pengajaran dengan merujuk kepada rupa-rupa karakter yang dimiliki manusia. Perumpamaan tentang dua orang anak ini menunjukkan bagaimana Yesus sungguh memahami manusia. Ada anak-anak yang mengatakan bahwa mereka taat serta patuh terhadap perintah-perintah orangtua mereka, namun mereka tetap saja melakukan apa saja yang mereka inginkan sendiri. Di lain pihak ada juga anak-anak yang menggerutu ketika diperintahkan sesuatu oleh orangtua mereka, namun mereka melakukan juga apa yang diinginkan orangtua mereka.

Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk membenarkan orang-orang yang dipandang hina oleh para pemuka agama pada zaman-Nya. Orang-orang ini menolak kehendak Allah pada awalnya, namun kemudian bertobat dan hidup mereka benar di mata Allah. Di sisi lain para pemuka agama itu, berkhotbah serta mengajar orang-orang untuk mengikuti hukum Allah, namun pada kenyataannya membuat diri mereka sendiri HUKUM, yang harus diikuti oleh orang-orang. Yesus mengajarkan bahwa ketaatan serta kepatuhan kepada kehendak Allah bukanlah sekadar dalam ucapan kata-kata, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan. Yesus memahami kita dan Ia tahu betapa sulit bagi kita untuk membuang egosentrisme serta egoisme dari diri kita, agar mampu merangkul sepenuhnya kehendak Allah.

Namun demikian, Yesus menghendaki lebih dari sekadar ucapan kata-kata dari kita masing-masing. Dalam “Doa Bapa Kami” kita memang mengatakan, “Terjadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga”, akan tetapi setelah mengucapkannya kita juga harus meneladan Yesus dalam arti sesungguhnya. Menjelang sengsara dan kematian-Nya Dia mengajar para murid-Nya: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. …… Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:13.15).

hqdefaultMeskipun Yesus memiliki kodrat ilahi, Dia juga memiliki kodrat insani. Dia menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa (bdk. Ibr 4:15) dan ketaatan-Nya sebagai manusia terhadap kehendak Bapa-Nya membawa-Nya kepada kematian di kayu salib. Apakah hal ini mudah bagi Yesus. Tentu saja tidak!  Pada waktu Dia menderita di taman Getsemani pada malam hari sebelum kematian-Nya, Yesus seperti anak yang mengatakan, “Aku tidak mau” dalam perumpamaan di atas. Akan tetapi dari doa-Nya Yesus menemukan kekuatan untuk mengatakan kepada Bapa, “Ya Abba, ya Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Mrk 14:36). Kita semua tahu bahwa Yesus taat sampai titik terakhir, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8).

Nabi Zefanya hidup pada zaman penuh dekadensi sekitar abad ke-7 SM. Pada masa itu kota Yerusalem telah memberontak melawan Allah, dan telah melakukan penyembahan kepada ilah-ilah. Selagi orang-orang meninggalkan Allah, mereka pun menjadi berdosa karena terlibat dalam ketidakadilan sosial yang serius. Kepada kota yang sudah murtad ini nabi Zefanya mengumumkan akan adanya penghakiman yang tidak dapat dihindari. Namun gambarannya tidak seluruhnya gelap. YHWH berjanji bahwa Dia akan memelihara sekelompok sisa-sisa Israel yang suci yang akan tetap setia kepada-Nya (lihat Zef 3:12-13).

Kita merenungkan nubuatan ini dalam masa Adven karena melalui sisa Israel ini lahirlah Sang Juruselamat ke di tengah-tengah umat manusia. Sisa Israel yang suci ini adalah satu mata-rantai manusia yang memimpin kepada kedatangan Kristus yang pertama. Apakah masyarakat kita sekarang tidak berada dalam kegelapan juga seperti Yerusalem sekitar 2.000 tahun lalu? Tidak sedikit anggota masyarakat yang dalam hidup sehari-harinya menyembah “berhala-berhala” dalam rupa kekuasaan dan uang; mereka mendewa-dewakan harta-kekayaan,  individualisme, konsumerisme dan lain-lain “is-me” yang sudah kita ketahui, yang semuanya mengakibatkan ketidak-adilan sosial dalam berbagai bentuknya.

Kalau kita sungguh mengasihi Allah, maka kita tidak pernah dapat mengabaikan orang-orang lain, terutama mereka yang miskin dan tersisihkan. Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk menghayati hidup yang penuh kasih tanpa pamrih, bukan sebagai orang-orang yang sehari-harinya dipenuhi kegiatan untuk memuaskan diri belaka. Sekarang pun Allah memanggil kita untuk menjadi sisa-sisa suci dari Israel yang baru. Kita juga diundang menjadi salah satu mata-rantai yang akan membawa kepada hari kedatangan Kristus kelak untuk mendirikan kerajaan-Nya yang bercirikan keadilan, kasih dan damai-sejahtera.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menyesali dosa-dosa kami karena segala ketidak-taatan kami kepada-Mu. Berikanlah kepada kami rahmat untuk menghayati suatu kehidupan Kristiani yang otentik, yang memberikan kemuliaan kepada nama-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “BERBALIK KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 13-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 10 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements