STEFANUS: SEORANG SAKSI KRISTUS SEJATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama, Hari Kedua dalam Oktaf Natal – Senin, 26 Desember 2016)

 stoning-of-saint-stephen-by-lorenzo-lotto

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”  Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Baru saja kita selesai merayakan kedatangan Sang Raja Damai, pada hari ini kita sudah menghadapi cerita tentang martir Kristiani yang pertama. Sungguh suatu perubahan sebagaimana apa adanya. Kita dipanggil untuk mengakui bahwa damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus kepada kita itu dimenangkan dengan harga yang sangat mahal: Darah-Nya dan darah semua martir dari abad ke abad. Dari sejak awal kita telah belajar bahwa damai sejati hanya dapat datang kalau kita merangkul Dia yang mati untuk kita dan memperkenankan salib-Nya merasuki kehidupan kita.

Mengikuti jejak Kristus bukan perkara lenggang-lenggang kangkung. Yesus sendiri telah mengingatkan para murid-Nya: “…waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Mat 10:17-18).

stefanus-di-depan-dean-sanhedrinBetapa indahnya Santo Stefanus merefleksikan kebenaran-kebenaran ini! Selagi dia menceritakan kisah Stefanus ini, Lukas secara istimewa memberi penekanan atas kemiripan Stefanus dengan Yesus. Stefanus penuh dengan rahmat dan kuasa; dia mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran; dia berbicara dengan hikmat dari Roh Kudus (Kis 6:8,10). Selagi dia dianiaya, dia berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59) dan sesaat sebelum meninggal dia juga mengampuni para penganiayanya: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60; bdk. Luk 23:34).

Inilah alasannya mengapa Yesus datang ke dunia: untuk membuat kita menjadi anak-anak Allah yang penuh dengan kuasa Roh Kudus. Ketika kita bertobat dan dibaptis, kita juga menerima Roh Kudus. Akan tetapi selagi kita menjalani hidup kita sehari-hari, bukanlah sesuatu yang tidak biasa kalau terjadi berbagai gangguan dan bermunculannya urusan-urusan duniawi yang mempengaruhi kita secara negatif. Dosa, yaitu pengaruh-pengaruh dari Iblis dan hasrat-hasrat akan hal-hal duniawi dapat mengisi hati kita dengan begitu cepat. Itulah sebabnya mengapa kita harus berdoa setiap hari: “Datanglah Roh Kudus. Penuhi diri kami, ubahlah kami, buatlah agar kami lebih serupa lagi dengan Yesus.” 

Segala hal yang dialami oleh Santo Stefanus dan para murid awal juga tersedia bagi kita. Pada Masa Natal ini, marilah kita mengundang Tuhan untuk berkarya lebih dalam lagi dalam kehidupan kita. Biarlah Dia membebaskan anda dari dosa; berilah kepadanya ruangan yang lebih lagi dalam hatimu; sediakanlah waktu yang lebih banyak lagi untuk merenungkan firman-Nya; bukalah hatimu lebih lagi pada saat anda menerima Dia dalam Ekaristi Kudus. Ini semua adalah cara-cara dengan mana kita menempatkan diri kita siap dibentuk oleh Roh Kudus dan dipenuhi dengan kelimpahan hidup dan cintakasih Allah. Dipenuhi Roh seperti yang dialami oleh Stefanus, kita pun dapat mencerminkan kemuliaan Allah dan menjadi pewarta Injil yang berani.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah diri kami seperti Engkau memenuhi para murid Yesus Kristus yang awal. Buatlah agar kami dapat lebih menyerupai Yesus. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan pekerjaan baik yang Kaurencanakan untuk kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10; 7:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA BERDIRI DI SEBELAH KANAN ALLAH” (bacaan tanggal 26-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak,  23 Desember 2016         

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements