MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI YANG TULUS DAN IMAN YANG TEGUH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Kamis, 26 Januari 2017)

imam-besar-agung-1Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu, marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pebuatan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat. (Ibr 10:19-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Mrk 4:21-25

Kalau kita mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara serius-menyeluruh, maka akan terungkaplah mercu suar kebenaran yang memancarkan sinar cahaya dari awal sampai akhir, yaitu bahwa Allah mengasihi kita masing-masing dan Ia tidak pernah berhenti memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Hal ini adalah kebenaran yang sangat mengejutkan apabila dilihat dalam terang kekudusan Allah dan kedosaan kita.

Allah sepenuhnya sadar akan dosa-dosa kita – bahkan lebih daripada kita sendiri. Namun Ia ingin membersihkan kita, menyembuhkan kita dan menguatkan kita. Dia mengutus Putera-Nya ke tengah-tengah dunia untuk kemudian mencurahkan darah-Nya dari kayu salib bagi kita semua. Inilah contoh betapa dalamnya kasih Bapa surgawi bagi kita.

Melalui kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, dosa-dosa kita diampuni dan kita pun menerima kuasa untuk berubah. Sekarang, terbukalah jalan bagi kita untuk “menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh” (Ibr 10: 22) dari hari ke hari. Rasa percaya dan ketaatan kepada Bapa yang telah ditunjukkan oleh Yesus di kayu salib sekarang tersedia bagi kita sehari-hari selagi kita membuka hati kita untuk menerima kasih-Nya.

Sesungguhnya sebelum kita berdosa melawan Dia – bahkan sebelum kita lahir ke dunia – Bapa surgawi sudah berniat untuk mengutus Putera-Nya agar kita dipenuhi dengan kehidupan dan kasih ilahi. Dosa-dosa kita tidak akan menghentikan Allah mengasihi kita atau mengundang kita masuk ke hadapan hadirat-Nya. Paulus menulis: “…… tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian anugerah akan berkuasa oleh pembenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm 5:20-21).

Dengan Allah yang sedemikian penuh empati dan kasih, mengapa kita begitu sering bergumul sendiri dan merasa ragu-ragu menghadap Dia untuk mohon pertolongan dan bimbingan-Nya? Barangkali pandangan kita tentang Allah telah dibuat melenceng oleh suatu ide duniawi: Pandangan bahwa kita harus membuat diri kita pantas dikasihi oleh Allah, telah berhasil menyusup ke dalam hati kita. Hal ini menyebabkan kita meninggalkan Tuhan. Barangkali luka-luka dalam keluarga kita telah membuat kita menjadi enggan untuk mempercayai orang lain. Sesungguhnya realitas yang indah adalah, bahwa Allah dapat menyembuhkan hati kita dan memenuhi diri kita dengan kasih dari hati-Nya. Dia dapat melakukan hal ini setiap kali kita berdoa. Jesus selalu berdoa syafaat bagi kita, melingkupi kita dengan kasih-Nya. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). Oleh karena itu marilah “kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus” (Ibr 10:19). “Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:22). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur!

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji-muji Engkau dengan penuh rasa syukur karena Engkau telah mencurahkan darah di kayu salib bagiku dan sesamaku. Aku berterima kasih kepada-Mu karena aku dapat menghadap Engkau setiap saat untuk mohon pertolongan-Mu, penghiburan dari-Mu dan pengampunan-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI” (bacaan tanggal 26-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Januari 2017 [Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements