YUSUF PUTERA DAUD

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SANTO YUSUF, SUAMI SP. MARIA – Senin, 20 Maret 2017)

SANTO YUSUF

Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau  akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Mat 1:16.18-21.24a)

Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-5a,12-14a,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27-29; Bacaan Kedua: Rm 4:13.16-18,22

Pada hari ini Gereja menghormati salah seorang yang paling rendah hati dalam Kitab Suci. Walaupun cerita Yusuf (Yosef) hanya ada sedikit sekali dalam narasi-narasi Injil, kebenaran dirinya terang bercahaya di setiap ayat yang menyangkut dirinya.

Allah memang selalu bekerja dengan cara-cara yang indah namun penuh misteri. Dalam kasus ini Allah memilih seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret untuk menjadi “ayah angkat” bagi Putera-Nya yang tunggal, yang berasal dari keabadian. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seorang sederhana diberi tugas untuk memelihara dan mendidik Putera Allah? Sebagian besar dari semua ini adalah misteri, namun kita tahu bahwa bilamana Allah memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu, maka Dia akan mencurahkan segala rahmat yang diperlukan untuk melaksanakan tugas itu.

Yusuf adalah seorang pribadi yang mempunyai iman matang, yang percaya sepenuhnya kepada penyelenggaran ilahi. Terasa bahwa Yusuf bukanlah orang yang suka banyak bicara, namun tindakan-tindakannya speak louder ketimbang khotbah-khotbah, wejangan-wejangan dan berfalsafah tentang sejarah Kristianitas. Pada awal kehidupan Yesus di dunia, ketika penebusan kita-manusia sudah di depan mata, kita membaca tentang seorang laki-laki yang kekuatannya, dapat dipercayanya, dan kerendahan hatinya berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru yang akan dibuat mungkin oleh Yesus bagi kita semua melalui salib-Nya.

Allah berbicara kepada Yusuf lewat seorang malaikat dalam mimpi-mimpi, dan setiap kali Yusuf mendengar dari sang malaikat, dia segera mengikuti arahan-arahan dari Allah (lihat Mat 1:20-24; 2:1-23). Situasi-situasi yang dihadapi oleh Yusuf sangatlah sulit. Pada saat kunjungan malaikat yang pertama, Allah memberitahukan Yusuf tentang Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan bahwa dia tak usah merasa takut untuk mengambil anak dara ini sebagai istrinya. Tentu saja dia telah mengalami godaan untuk merasa ragu dan prihatin mengenai apa yang akan dipikirkan dan dikatakan oleh orang-orang lain. Akan tetapi, tanpa bertanya-tanya agar lebih memahami masalah yang dihadapi – tanpa satu pertanyaan pun, Yusuf bertindak secara menentukan.

Sebagaimana halnya dengan Yusuf, kita juga dipanggil untuk menjadi para penerima rahmat Allah, kuasa-Nya yang memampukan kita taat kepada-Nya. Marilah kita membuka diri kita bagi kehendak Allah. Kita dapat mendengar Allah berbicara kepada kita pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan pada waktu kita berpartisipasi dalam perayaan liturgi, terutama Misa Kudus. Kadang kala situasi-situasi yang kita hadapi memang sulit dan kita tergoda untuk meragukan Allah. Namun kita semua yang sudah dibaptis mempunyai Roh Kudus, yang senang sekali mengajar kita untuk hidup di jalan Allah. Bilamana kita melakukan apa saja seturut kehendak Allah, maka iman kita, pengharapan kita dan keakraban kita dengan Allah akan menjadi matang, dan kita  pun menjadi lebih mampu untuk melaksanakan tugas yang disiapkan-Nya bagi kita.

DOA:  Bapa kami yang di surga, Engkau mengasihi kami dan mempunyai rencana sempurna bagi kehidupan kami. Dalam kasih Engkau memberitahukan rencana-Mu kepada kami; memberikan kepada kami rahmat untuk mendengarkan. Kami tahu bahwa Engkau mempunyai tugas-pekerjaan yang kami harus laksanakan. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk menjadi hamba-Mu atau pelayan-Mu yang taat. Amin. 

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan kepada Sdr. Yosef Sunarwinto, temanku sejak di SMA Kanisius (1959-1962) dan sekarang sama-sama menjadi warga Lingkungan S. Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan.

Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 4:13,16-18,22), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN ABRAHAM DAN YUSUF” (bacaan tanggal 20-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements