MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Raya Kabar Sukacita – Sabtu, 25 Maret 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)  

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

“Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, demikianlah bunyi sebagian dari doa Malaikat Tuhan (Angelus), yang kita doakan tiga kali setiap hari di luar masa Paskah (lihat Puji Syukur # 15).

Sekarang marilah kita membayangkan apa yang kiranya terjadi dengan seorang gadis desa berusia 14/16 tahun yang bernama Maria itu sekitar 2.000 tahun lalu: Malaikat Gabriel mengunjungi Maria dan memberi kabar kepada gadis itu bahwa dia telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Tanggapan Maria atas pemberitahuan malaikat tersebut adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ini adalah tanggapan dari seorang pribadi manusia yang senantiasa siap sedia untuk dipakai Allah. Sikap dan perilaku yang patut kita contoh.

Sejak Maria mengatakan “ECCE ANCILLA DOMINI FIAT MIHI SECUNDUM VERBUM TUUM” (ini versi Latin dalam Vulgata) ini, semua ciptaan tidak akan pernah sama lagi. Pada saat yang sangat penting dalam sejarah penyelamatan umat manusia itu, Allah yang Mahakuasa menyatakan kedalaman kasih-Nya: Putera-Nya merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Putera-Nya taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:7-8). Santo Athanasios Agung (296-373), Uskup dan salah satu dari empat orang Pujangga Gereja Timur, pembela iman yang benar, menulis: “Daripada makhluk ciptaan-Nya hancur-hilang dan karya Bapa bagi kita menjadi sia-sia, Dia mengambil bagi diri-Nya sesosok tubuh manusia seperti kita” (diambil dari tulisannya tentang Inkarnasi).

Yesus berhasrat untuk mengambil kemanusiaan kita bagi diri-Nya agar oleh kematian dan kebangkitan tubuh-Nya, Dia dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada kita. Yesus turut ambil bagian sepenuhnya dalam setiap aspek kemanusiaan kita. Dengan demikian Ia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya menjalani hidup dalam dunia ini. Sebagai imam besar agung yang penuh belas kasih, yang ‘ditakdirkan’ untuk memikul segala dosa manusia, Yesus menjalani kehidupan manusia sepenuh-penuhnya seperti halnya kita. Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Yesus hidup dalam dunia ini yang sudah dirusak oleh dosa. Oleh karena itu Dia mampu untuk menghibur kita dan mengangkat hati kita kepada Bapa surgawi.

Apakah anda pernah mengalami kehilangan orangtua atau orang yang sangat anda kasihi karena kematian? Sebagai manusia Yesus pun telah mengalami kematian “ayah angkat-Nya” Yusuf. Apakah anda mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah relasi tertentu? Sebagai manusia Yesus pun harus belajar bagaimana mengasihi setiap jenis pribadi manusia. Apakah anda merasa terluka pada waktu orang-orang yang dekat padamu justru tidak memahami anda? Sebagai manusia Yesus pun terus menghormati ibu-Nya, bahkan pada saat Maria sang ibu tidak dapat memahami misi-Nya (lihat Luk 2:48-51). Tuhan Yesus mendampingi kita masing-masing dalam setiap situasi, memberikan kepada kita rahmat dan memperkuat kita dengan cintakasih-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk selalu berada di sisi kita setiap saat. Baiklah kita menerima segala berkat yang tersedia bagi kita melalui keikutsertaan-Nya yang penuh kedinaan dalam kemanusiaan kita.

DOA: Aku mengasihi-Mu, Yesus, Tuhan dan Juruselamatku! Perendahan dan kedinaan-Mu untuk  ikut-serta dalam kemanusiaan sungguh tak mampu tertangkap akal budiku. Terima kasih karena Engkau telah mengambil bagian dalam hidup kemanusiaanku. Terima kasih karena Engkau selalu bersamaku dalam setiap situasi. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “KABAR SUKACITA” (bacaan tangggal 25-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements