YESUS DIUTUS OLEH BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 31 Maret 2017

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: KebSal 2:1,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

“Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28).

Ketika para pemuka agama Yahudi berusaha untuk membunuh Yesus, Ia menghadapi perlawanan mereka itu dengan sikap anggun, namun dengan penuh kebulatan hati untuk tetap memenuhi kehendak Bapa-Nya. Yesus mengetahui sekali siapa diri-Nya, dari mana asal-Nya, dan ke mana Dia akan pergi. Akan tetapi, Yesus merasa perlu untuk menantang para lawan-Nya yang telah mengklaim bahwa mereka mengenal Dia (lihat Yoh 7:28). Pertanyaan yang mungkin ingin kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah, “Mengapa mereka tidak dapat mengenali kuasa Allah yang bekerja dalam diri Yesus, atau kasih Allah yang terkandung dalam kata-kata yang keluar dari mulut-Nya?” “Kitab Kebijaksanaan Salomo”’ memberi petunjuk kepada kita sebuah jawaban: “Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka” (KebSal 2:21). Mungkin terjemahan Inggrisnya lebih jelas: “Thus they reasoned, but they were led astray, for their wickedness blinded them” (Wisdom of Solomon [Wis] 2:21 RSV).

Para lawan Yesus berpikir dan mengira bahwa mereka mengenal siapa sebenarnya diri-Nya, namun mereka salah karena pemahaman benar tentang Yesus hanya dapat datang melalui perwahyuan. Di sinilah kita dapat lebih memahami hakekat doa, yaitu dengan rendah hati mencari hadirat dan hikmat Allah. Sang pemazmur mengakui: “TUHAN (YHWH) itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm 34:19). Kalau kita mengakui betapa berantakan dan penuh kedosaan kondisi diri kita, maka kita berada dalam posisi untuk menghadap hadirat Allah dan memperkenankan Roh Kudus-Nya memenuhi hati dan pikiran kita dengan kebenaran – suatu kebenaran yang akan mentransformasikan kita, bahkan ketika Dia mengajar kita.

Berbicara dari pengalaman pribadinya sendiri, Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menggambarkan perbedaan antara mengetahui tentang Allah dengan pikiran kita saja dan menerima perwahyuan: “Ambisi saya sebagai seorang muda adalah untuk menerapkan semua perbaikan dialektika pada studi Kitab Suci. Saya memang melakukan seperti itu, namun tanpa kerendahan hati dari seorang pencahari sejati. Semestinya saya mengetuk pintu agar dibukakan bagiku. Sebaliknya, saya mendorong pintu tertutup itu, dengan sombong mencoba memahami apa yang hanya dapat dipelajari dalam kerendahan hati. Akan tetapi, Tuhan yang Maha berbelas-kasihan mengangkat saya dan menjaga saya agar selamat” (Sermon 51,6).

Allah ingin mengangkat kita dan membisikkan kata-kata kasih dan hikmat kepada kita. Sekarang, kita sudah berada di tengah-tengah perjalanan masa Prapaskah menuju Hari Raya Paskah. Marilah kita dengan rendah hati memohon kepada Roh Kudus suatu perwahyuan tentang hati Bapa surgawi. Oleh karena itu marilah kita membuka telinga (hati) kita kepada suara Yesus. Allah ingin memberikan kepada kita lebih banyak lagi: rahmat untuk sungguh memahami kasih-Nya, memeluk salib-Nya, taat kepada sabda-Nya dan bertumbuh dalam kekudusan.

Ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini (Yoh 7:30) berbicara dengan “saat-Nya” – saat Tuhan –  yang sangat penting bagi kita umat Kristiani, terutama pada waktu kita menghaturkan/ memanjatkan doa-doa permohonan kepada-Nya (bdk. Yoh 2: 4; Yoh 8:20). Saat Tuhan, belum tentu sama dengan saat kita!

DOA: Tuhan Yesus, kuingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu agar aku menjadi salah seorang penerima perwahyuan-Mu yang berbuah. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA (bacaan tanggal 31-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKIABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 28 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements