YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 1 April 2017) 

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53). 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur: Mzm 7:2-3,9-12 

“Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46).

Yesus memang berbicara dengan penuh kuasa (lihat Mrk 1:22). Ia memberikan pengharapan kepada para pendengar-Nya dan mengobarkan iman dalam diri orang-orang yang dengan tulus hati sedang mencari Allah. Imam-imam kepala, para ahli Taurat, orang-orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya adalah contoh dari orang-orang yang imannya sudah bangkrut. Mereka begitu terbelenggu oleh sikap mereka sendiri yang membuat mereka tidak dapat mendengar suara Allah, apalagi Yesus dari Nazaret si anak tukang kayu. Ajaran Yesus mengajak orang-orang untuk membuat komitmen kepada Allah; dan mereka yang berkomitmen dengan struktur-struktur buatan manusia tuli terhadap apa yang dikatakan Yesus.

Jadi, selagi Yesus melanjutkan mewartakan sabda Allah dan menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, banyak orang di Yerusalem percaya kepada-Nya – bahkan mereka yang diperkirakan sebelumnya akan melawan Dia. Para penjaga Bait Suci dan Nikodemus adalah dua contoh. Dalam banyak cara yang berbeda-beda dan dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi pula, kepada orang-orang ini Yesus mewartakan Kabar Baik-Nya. Rahmat Allah sudah mulai bekerja dalam diri mereka dan minat mereka akan Yesus jelas semakin besar. Para penjaga Bait Suci dikirim untuk menangkap Yesus sebagai seorang kriminal, namun mereka tidak dapat membawa-Nya. Ajaran-ajaran Yesus telah berhasil mencairkan hati mereka. Inilah seorang pribadi yang berbicara mengenai “mengasihi Allah dan sesama”. Pesan-pesannya juga tidak menyangkut sekadar pada tuntutan-tuntutan yang bersifat legaslistis. Bagaimana mereka dapat menangkap sang rabi dari Nazaret ini, yang kata-kata-Nya telah menembus jiwa mereka masing-masing dengan kebenaran ilahi? Di sisi lain, ada Nikodemus yang sebelumnya hanya berani bertemu dengan Yesus di malam hari (lihat Yoh 3:1-21), namun sekarang berani berdiri membela Yesus melawan rekan-rekannya sekaum, yaitu orang-orang Farisi. Dalam kedua hal ini, kita melihat orang-orang yang sedang mengalami proses pertobatan kepada Kristus.

Pada hari ini kita juga dihadapkan dengan satu keputusan yang harus kita ambil: menjadi seperti para penjaga Bait Suci, atau menjadi seperti para petinggi agama yang mengirim para penjaga itu untuk menangkap Yesus. Kita dapat mendengar kata-kata Juruselamat kita dan mulai menghayati-Nya, atau kita dapat seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – yang begitu yakin dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri sehingga kita tidak mampu membuat tanggapan terhadap panggilan Allah. Pilihan kita adalah pilihan kita! Artinya, menjadi tanggung jawab kita sendiri. Allah meninggalkan kita sendiri dalam pencaharian kita guna memahami siapa Yesus ini. Roh Kudus ingin mengajar kita makna dari sabda Yesus dan tindakan-tindakan-Nya serta membuka hati kita bagi pribadi Yesus. Apabila kita mengundang Roh Kebenaran, Ia akan memberikan kepada kita rahmat-Nya, kejelasan dan kemampuan untuk memahami dan menanggapi. Kita masing-masing mempunyai kesempatan atau peluang untuk berpartisipasi dalam kepenuhan hidup Allah, sama seperti orang-orang yang berkumpul di bukit, di padang datar, di sinagoga-sinagoga, atau di Bait Suci di tanah Palestina pada zaman Yesus. Sebagaimana Dia berbicara kepada hati mereka pada waktu itu, Yesus juga masih berbicara dengan kita sekarang, di abad ke-21 ini. Selagi kita mengundang Roh Kudus pada waktu kita membaca Kitab Suci atau mendengar sabda Allah dalam Kitab Suci yang diwartakan dalam Misa Kudus, kita dapat mengalami perwahyuan atau pernyataan ilahi seperti dialami oleh para leluhur rohaniah kita. Bersama Petrus kita dapat menyatakan: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, dan Yesus akan menjawab: “Berbahagialah engkau … sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:16-17).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus ke tengah-tengah dunia, sehingga aku dapat melihat, mendengar, dan mengasihi-Nya. Tolonglah aku agar dapat mendengarkan sabda-Nya dengan penuh kasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK KRISTUS” (bacaan tanggal 1-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 29 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements