Archive for April, 2017

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [Tahun A], 30 April 2017)

 

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21

Dua orang murid yang melakukan perjalanan menuju Emaus adalah orang-orang yang sedang dirundung rasa sedih yang mendalam. Mereka sungguh mengharapkan segala sesuatunya masih sama seperti pada waktu sebelum Yesus ditangkap. Mereka masih ingat bagaimana kata-kata Yesus – perumpamaan-perumpamaan-Nya, janji-janji-Nya, seluruh ajaran-Nya – telah menembus hati mereka, menyembuhkan mereka dan memenuhi diri mereka dengan kasih Allah. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Lalu, di tengah-tengah diskusi mereka, seorang asing bergabung dengan mereka. Mereka tidak mengenali diri-Nya, namun ketika Dia berbicara, hati mereka lagi-lagi menjadi berkobar-kobar. Ada pengharapan dan tujuan yang mereka tidak begitu pahami yang mulai terbangun dalam diri mereka. Mereka begitu tersentuh oleh kata-kata “orang asing” itu sehingga mereka mendesak Dia untuk tinggal bersama mereka. Rencana Allah mulai menjadi masuk akal bagi mereka sementara hati mereka terbakar di dalam diri mereka. Pada akhirnya, karena kata-kata orang asing itu telah membuka hati mereka, maka mereka mampu untuk mengenali Dia ketika Dia memecah-mecahkan roti. Dia adalah Yesus sendiri!

Setiap kali kita membaca dan merenungkan sabda Allah, kita diundang ke dalam suatu persekutuan yang akrab dengan Yesus. Ia ingin menyalakan dalam hati kita suatu rasa haus yang semakin mendalam untuk mengenal diri-Nya. Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika Petrus berkhotbah kepada orang banyak, hati mereka tersayat, dan berkata, “Apa yang harus kami perbuat?” (Kis 2:37). Ini adalah hasrat Allah bagi kita juga. Yesus rindu untuk menyayat melalui kabut dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk memberikan tanggapan kepada-Nya.

Allah berbicara kepada kita dalam Misa Kudus, dalam Liturgi Sabda. Selagi sabda Allah dalam Kitab Suci diproklamasikan, Yesus sedang mengajar serta menggugah kita, mengoreksi kita, mengingatkan kita akan kesetiaan-Nya, dan mengatakan kepada kita betapa dalam Dia mengasihi kita. Maukah kita memperkenankan Kitab Suci untuk meyakinkan kita akan kasih Bapa surgawi? Melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci, ada banyak yang dihasrati oleh Yesus untuk dikatakan-Nya kepada kita. Ia akan menempatkan api kasih-Nya dalam hati kita. Ia telah memberikan suatu karunia sangat berharga dalam sabda-Nya yang hidup dan penuh kuat-kuasa. Apabila kita sungguh mendengarkan, maka pikiran dan hati kita akan diperbaharui. Kemudian kita akan mampu untuk menyambut Dia sepenuhnya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat dan mendengar Engkau dalam Kitab Suci yang telah Kauberikan kepada kami. Kami juga berkeinginan agar hati kami berkobar-kobar dengan api kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS JUGA INGIN BERJALAN BERSAMA KITA PADA HARI INI” (bacaan tanggal 30-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-5-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 27 April 2017    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Katarina dari Siena, Perawan Pujangga Gereja – Sabtu, 29 April 2017) 

Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19 

Jika kita mengenang suatu peristiwa berbahaya yang pernah kita hadapi di masa lalu, maka kita akan langsung memahami pengalaman para rasul (murid) di atas perahu mereka di tengah-tengah air danau yang bergelora karena tiupan angin kencang. Situasi mencekam ini ditambah lagi dengan suatu pengalaman yang bukan biasa-biasa: “melihat seorang manusia sedang berjalan di atas air” yang sedang diterpa badai itu, dan orang itu sedang mendekati perahu mereka. Bayangkanlah, seandainya apa yang mereka sedang perhatikan itu sekali-kali diterangi oleh cahaya, kemudian gelap lagi seperti yang sering terjadi di atas panggung teater. Maka, tidak mengherankanlah apabila para murid Yesus itu ketakutan (Yoh 6:19). Semua itu seperti adegan dalam film thriller (horror?) saja!

Kita semua tentu mengenal benar rasa takut atau ketakutan itu – dari yang kecil-kecil sampai kepada rasa cemas yang melumpuhkan. Dalam Kitab Suci diungkapkan bahwa Iblis memanipulasi manusia melalui rasa takut kita akan maut. Misalnya, penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ menyatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15). Pemikiran bahwa ketakutan kita dapat membuka pintu bagi si Iblis untuk mengikat kita, sesungguhnya dapat lebih mengkhawatirkan kita lagi. Jadi, bagaimana cara yang terbaik bagi kita untuk mengatasi masalah ketakutan ini? Marilah kita kembali kepada Kitab Suci di mana tercatat bahwa Yesus, “model” kita, juga mengalami rasa takut: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7; bdk. Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Yesus selalu membiarkan rasa takutnya menggerakkan diri-Nya kepada doa yang lebih mendalam dan iman yang lebih kuat lagi kepada Bapa-Nya (lihat Yoh 12:27-28).

Nah, Yesus menginginkan agar kita pun memiliki iman yang sama kepada kemampuan Bapa surgawi untuk melindungi kita. Tanpa iman ini kita tetap akan tetap terikat oleh ketakutan dan kecemasan. Lebih parah lagi, tanpa iman kepada ‘seorang’ Allah yang mengasihi, maka pada akhirnya kita hanya dapat mengandalkan segalanya kepada diri kita sendiri. Dan semakin lama kita hidup, semakin sadar pula kita akan betapa rentan diri kita ini. Ujung-ujungnya kita dilanda rasa takut terhadap kondisi kesehatan kita, “keamanan” keuangan (financial security) kita, orang-orang dalam kehidupan kita, apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang diri kita, dlsb.

Barangkali kita merasa terperangkap dalam suatu situasi tanpa harapan, dan tidak ada seorang pun yang mau dan mampu menolong kita. Bukankah situasi kita yang seperti ini tidak banyak berbeda dengan yang dihadapi oleh para murid Yesus seperti digambarkan dalam bacaan kita hari ini? Barangkali pemikiran bahwa Allah berada di tengah-tengah angin ribut pun menakutkan bagi kita. Apa pun yang ada dalam pikiran kita, marilah kita mencoba menenangkan hati kita dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Yesus: “Inilah Aku, jangan takut!” (Yoh 6:20). Undanglah Yesus ke dalam “perahu kehidupan kita”, maka Ia akan membawa anda ke pantai dengan selamat (lihat Yoh 6:21).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku yang sedang mengalami badai kehidupan ini. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu. Naiklah masuk ke dalam perahu kehidupanku, tenangkanlah pikiranku dan bawalah aku dengan aman ke pantai yang dipenuhi dengan damai-sejahtera dan sukacita dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAJARKAN DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH” (bacaan tanggal 29-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 28 April 2017) 

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)  

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL” (bacaan tanggal 28-4-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 26 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 27 April 2017)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36. 

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “KEMATIAN YESUS PADA KAYU SALIB ADALAH CONTOH MURKA ALLAH DAN SEKALIGUS KERAHIMAN-NYA” (bacaan tanggal 27-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI

ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II PaskahRabu, 26 April 2017) 

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada  di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatam-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

“Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.(Yoh 3:16)

Ayat yang relatif singkat ini sebenarnya mencakup hakekat INJIL itu sendiri. Dipenuhi dengan kasih bagi umat-Nya, Allah dengan sukarela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal guna menebus kita. Kasih Allah itu menjadi lebih nyata terbukti apabila kita mempertimbangkan kondisi kita yang penuh dosa. Sebagaimana dengan jelas-gamblang dikatakan oleh Yohanes, manusia berdosa telah berada di bawah hukuman, manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat (lihat Yoh 3:18-19).

Hakekat KABAR BAIK atau INJIL adalah, bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia  sehingga rela membayar biaya yang paling tinggi untuk membebas-merdekakan kita. Yesus, sang Terang Dunia, datang untuk menyingkapkan kegelapan dalam hidup kita dan menawarkan suatu jalan menuju penebusan. Ada orang yang menanggapi tawaran Yesus dengan kasih, dan mereka pun dibebas-merdekakan dari dosa dan maut. Ada pula yang menolak Yesus. Namun demikian, terang Yesus terus membawa kehidupan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Ada banyak cara atau jalan yang membuat kita menjadi budak kegelapan. Kadang-kadang memori-memori lama masih melekat dalam hati kita dan menciptakan penolakan dan kepahitan. Kata-kata penuh sarkasme dapat begitu mudahnya keluar dari mulut kita, atau kita dapat begitu cepat menyalahkan orang lain. Masalahnya adalah, apakah kita sedang duduk menghakimi kelemahan-kelemahan atau perbedaan-perbedaan orang-orang lain? Apakah kita senantiasa disibukkan dengan kepentingan diri sendiri dan menghabiskan waktu kita untuk itu semua? Apakah sikap kita untuk bersiteguh dengan cara-cara kita sendiri kadang-kadang menyebabkan kita lekas marah dan benci terhadap apa saja yang datang dari orang lain?

Terang yang berasal dari Juruselamat kita menyingkap dosa-dosa yang ada dalam diri kita – bukan untuk menghukum kita, melainkan membimbing kita kepada Tuhan untuk kesembuhan dan pengampunan. Karunia pertobatan dapat mentransformasikan hati kita. Melihat dan menyadari kebutuhan kita akan terang Yesus, maka kita pun menjadi mampu mengenal betapa besar kasih Allah melalui belas kasihan-Nya yang tanpa batas itu. Kasih (Allah) ini dapat bertumbuh dalam diri kita. Bapa kita di surga menginginkan agar kasih-Nya mengalir melalui diri kita sehingga kita pun dapat menjadi saluran rahmat-Nya bagi orang-orang lain. Penghukuman tidak memberi jalan kepada belas kasihan, dan kebencian tidak memberi peluang kepada bela rasa. Marilah kita sekarang mohon kepada Allah untuk membuka hati kita  bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencari terang-Mu hari ini. Singkapkanlah kegelapan dalam kehidupan kami. Penuhilah diri kami dengan kehadiran-Mu dan ubahlah hati kami. Buatlah kami rendah hati agar kami dapat menerima setiap berkat yang akan Kauberikan kepada kami. Semoga kasih dan hidup-Mu mengalir melalui diri kami kepada para anggota keluarga kami, teman-teman kami, bahkan musuh-musuh kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “BAPA SURGAWI SANGAT MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 26-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG PENULIS INJIL KEDUA

SANG PENULIS INJIL KEDUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS – Selasa, 25 April 2017)

 

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari istimewa yang didedikasikan kepada Santo Markus, kita dapat tergoda untuk bertanya apa yang kiranya dapat kita pelajari dari seorang “tokoh” zaman kuno. Apabila kita melihat “Kisah para Rasul”, khususnya bab 13 dan 15, kita dapat merasa sedikit terhibur karena mengetahui bahwa ternyata Santo Markus adalah seorang manusia seperti kita juga; bahwa dia juga rentan terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan. Dan semua itu bukanlah sekadar kesalahan-kesalahan kecil: Di Pamfilia dia melakukan “desersi”, melarikan diri dari tugasnya membantu Paulus dan Barnabas, dan kembali ke Yerusalem, …… semua ini terjadi di tengah sebuah perjalanan misioner untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 13:13).

“Desersi” Markus begitu serius sehingga menyebabkan timbulnya selisih pendapat apakah masih mau mengambilnya kembali seturut usulan Barnabas atau tidak (Kis 15:35-41). Walaupun Paulus merasa ragu, Markus sungguh pergi melakukan hal-hal besar untuk Kerajaan-Nya, diantaranya menulis sebuah kitab Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Sekarang, apakah yang kita pelajari dari seorang Santo Markus? Bahwa Allah tidak pernah menyerah, lalu membuang kita. Dalam Mazmur secara tetap kita mendengar bagaimana Allah menegakkan orang benar, dan dalam “Surat kepada jemaat di Roma”, Paulus menulis bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). Markus mengalami kebenaran-kebenaran tangan pertama selagi dia bergumul dengan rasa takut yang menimpa dirinya dan juga dosa-dosanya. Dengan rasa percaya yang semakin bertumbuh berkaitan dengan belas kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya untuk mentransformir diri setiap pribadi, maka Markus belajar untuk tidak memperkenankan masa lalunya mendikte masa depannya. Sebagai akibatnya, Markus mampu menjadi salah seorang tokoh Kristiani awal yang paling penting.

Cerita tentang Markus seharusnya memacu kita untuk terus mengasihi Allah dan sesama serta melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Ketika kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni kita dan bahwa Dia akan terus menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita, kita pun harus melakukan yang sama. Ketika kita mulai memahami bahwa Allah telah melimpahkan ke atas diri kita rahmat-Nya yang sebenarnya tak pantas kita terima, pandangan kita tentang orang lain akan menjadi seperti pandangan Barnabas tentang Markus:  sangat ingin memberikan kesempatan kedua dan mengisinya dengan harapan akan masa depan. Kita semua – dengan cara kita masing-masing – sebenarnya telah melakukan “desersi” – kita meninggalkan Allah, namun Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan selalu memberikan kepada kita kesempatan lagi, karena rencana-rencana-Nya dan pengharapan-pengharapan-Nya kepada kita sangatlah besar. Semoga kita tidak berputus-asa pada saat kita jatuh atau dengan cepat menyalahkan orang lain. Rahmat Allah cukup bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu melihat seperti Engkau melihat, agar aku tidak menghakimi orang-orang lain atau diriku sendiri. Semoga hatiku dapat menjadi hati-Mu, ya Yesus, hati yang mau mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Amin.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS