YESUS MENGKLAIM DIRI-NYA SEBAGAI PUTERA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 7 April 2017)  

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7 

Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Putera Allah (lihat Yoh 10:36), satu dengan Bapa (Yoh 10:30) dan mempunyai suatu relasi yang pribadi dan intim dengan Allah. Bagi orang-orang Yahudi, ini adalah hujat. Sebaliknya, bagi kita umat Kristiani, ini adalah fondasi dari pengharapan kita bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami Allah sebagai Bapa kita dan kita sendiri sebagai anak-anak angkat-Nya.

Yesus – dahulu dan sekarang – adalah setara dengan Bapa – satu dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus). Kita tentunya tidak setara dengan Bapa surgawi, namun kita adalah anak-anak angkat-Nya melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Rasul Paulus menulis, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Rm 8:14-16).

Melalui baptisan, kita dibawa ke dalam keluarga Allah. Selagi kita menghayati iman Kristiani dalam kehidupan kita, kita pun mulai mengalami kasih kebapaan dari Allah dan martabat kita sendiri sebagai anak-anak-Nya. Namun kita juga mengetahui adanya waktu-waktu kekeringan spiritual dan keragu-raguan, pada saat mana Allah terasa jauh sekali. Mengapa hal ini sampai terjadi?

Kadang-kadang Allah memperkenankan adanya waktu-waktu penderitaan atau waktu-waktu di mana kita merasa jauh sekali dari diri-Nya untuk alasan-alasan yang tidak dapat kita pahami. Akan tetapi, seringkali masalahnya terletak dalam hati kita. Barangkali kita merasa inferior dan tak pantas untuk terjalinnya relasi penuh harapan dengan Dia;  barangkali juga kita berpikir bahwa dosa-dosa kita terlalu besar untuk dapat diampuni; bahkan kita dapat membayangkan bahwa Allah sudah begitu bosan dengan dosa kita yang telah berulang-ulang, sehingga Dia membuang kita. Kadang-kadang kita juga dapat merasa ragu-ragu terhadap Allah, karena kita dengan bersusah payah telah mencari bukti yang berwujud sampai pada saat ini, sehingga kita melupakan karya Allah yang terdahulu dalam kehidupan kita. Kita harus mengambil sedikit waktu untuk memikirkan apa kiranya yang selama ini menjadi penghalang antara kita dan kasih yang ingin ditunjukkan Allah kepada kita masing-masing.

Melalui baptisan, Roh Kudus ada dalam diri kita dan selalu siap untuk menunjukkan kepada kita posisi kita sebagai anak-anak pilihan Allah. Tidak ada dosa yang begitu besar yang tidak ingin diampuni oleh kuasa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Tidak ada seorang pun yang begitu rendah yang dilupakan oleh Allah – karena setiap pribadi manusia diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya dan sangat dikasihi oleh-Nya. Niat Allah adalah agar setiap orang mengenal dan mengalami kasih-Nya sebagai “seorang” Bapa.

DOA: Roh Kudus Allah, buanglah dari diri kami setiap rintangan yang menghalang-halangi kami untuk mengenal dan mengalami kasih Allah Bapa. Kami ingin mengalami relasi yang penuh kasih dan intim dengan Allah yang dijanjikan dan dimenangkan oleh Yesus. Datanglah, ya Roh Kudus dan berdayakanlah diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERIKAN HIDUP-NYA SENDIRI KEPADA PARA MUSUH-NYA SECARA TOTAL” (bacaan tanggal 7-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 5 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements