IA MEMBERIKAN PUTERA-NYA YANG TUNGGAL UNTUK MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [Tahun A], 9 April 2017) 

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Perarakan: Mat 21:1-11 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9.17-20.23-24; Bacaan Injil: Mat 26:14-27:66.

Pada hari ini Gereja mengundang kita semua untuk sujud menyembah Allah yang begitu mengasihi manusia sehingga Dia memberikan segala sesuatu yang dapat diberikan-Nya guna menyelamatkan kita. Penebusan manusia adalah tindakan tertinggi kasih ilahi di mana seluruh Pribadi ilahi dalam Trinitas turut ambil bagian. Bapa sangat mengasihi kita sehingga Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia (termasuk kita). Yesus begitu mengasihi umat menusia juga, sehingga Dia sudi menjadi seperti kita-manusia dan menanggung sendiri hukuman atas dosa-dosa manusia (termasuk dosa kita). Roh Kudus juga sangat mengasihi manusia, sehingga Dia mulai berbicara kepada manusia sejak berabad-abad lalu, melalui para nabi dan raja, untuk mempersiapkan manusia untuk penebusan yang akan datang dan untuk Gereja yang akan menjadi bejana keselamatan untuk seluruh dunia.

Penebusan kita tidak datang hanya karena Allah mengasihi kita-manusia. Secara sukarela Yesus menyerahkan hidup-Nya karena Dia mengasihi Bapa dan secara total berkomitmen untuk melaksanakan kehendak Bapa, berapapun besar biayanya. Yesus tahu dan menaruh kepercayaan-Nya pada  kasih Bapa kepada-Nya, suatu penggenapan dari kata-kata nubuatan sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Yesus mampu untuk taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8), karena Dia mengandalkan kuasa Roh yang menopang-Nya dan memberikan keberanian kepada-Nya. Penebusan kita menjadi kenyataan karena kasih sempurna yang terdapat di dalam Trinitas.

Bagaimana Bapa dan Roh Kudus merespons kesetiaan Yesus? “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya  dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Flp 2:9-11). Allah Bapa sangat senang untuk memahkotai Yesus dengan nama “Tuhan” (Yunani: Kyrios) karena Dia melihat ketaatan Yesus dan kemauan-Nya untuk mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penebusan. Sekarang, disatukan dengan Kristus melalui pembaptisan, kita dapat turut ambil bagian dalam hakekat kehidupan Allah dan belajar untuk mengasihi, seperti Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus mengasihi, yaitu selalu penuh dan sempurna.

DOA: Bapa surgawi, hanya karena kasih-Mu sajalah Engkau mengutus Putera-Mu untuk menyelamatkan kami – umat manusia. Yesus, hanya melalui kasih-Mu kepada Bapalah, maka Engkau telah mengosongkan diri-Mu untuk keselamatan kami. Roh Kudus, hanya dalam kasih antara Bapa dan Puteralah, maka Engkau dapat melaksanakan keselamatan kami. Kami merasa terpesona dan takjub melihat kemuliaan-Mu, ya Allah Tritunggal Mahakudus. Kami memuliakan Engkau, memuji Engkau, meluhurkan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-7), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KASIH-NYA YANG TOTAL” (bacaan tanggal 13-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH April 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 7 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements