HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI, 10  April 2017) 

Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Beginilah firman Allah, TUHAN (YHWH), yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14; Bacaan Injil: Yoh 12:1-11 

Menjelang akhir dari masa pembuangan Babel, antara tahun 550 dan 538 SM, artinya sekitar 2.500 tahun lalu, YHWH Allah berbicara kepada seorang nabi yang identitasnya begitu terselubung dalam misteri, sehingga para pakar hanya dapat memberikan nama kepadanya “Yesaya Kedua” atau dalam bahasa kerennya “Deutero Yesaya”, karena keserupaan tulisannya dengan nabi Yesaya yang  besar itu, yang hidup sekitar 200 tahun sebelumnya. Kiranya “Yesaya Kedua” ini adalah seorang beriman yang dengan tekun telah mempelajari tulisan nabi Yesaya. Dia mewartakan serangkaian pesan yang sekarang dikenal sebagai “kitab penghiburan” dalam Kitab Yesaya (Yes 40-55). Nabi yang tak dikenal ini hidup bersama orang-orang Yahudi sebangsanya di pembuangan Babel sekitar tahun 550 SM.  Kota suci Yerusalem pada masa itu telah dirusak dan diporak-porandakan, dan Bait Suci tempat berdiam YHWH telah dibakar habis-habisan. Segalanya yang dipandang sebagai berkat dari YHWH Allah – tanah mereka, raja mereka, Bait Suci mereka, semuanya sudah hilang. Sekarang mereka berada dalam pembuangan yang menyedihkan. Banyak dari mereka bertanya: “Apakah Allah telah meninggalkan mereka sepenuhnya dan untuk selama-lamanya?

Dalam suasana keragu-raguan akan kasih Allah yang hampir mendekati titik keputus-asaan ini, maka YHWH Allah – lewat mulut nabi-Nya – mengucapkan sabda penghiburan dan janji-Nya. Sepanjang nubuatan-nubuatannya, sang nabi mengatakan kepada umat Yahudi betapa mendalamnya Allah ingin memulihkan relasi-Nya dengan umat-Nya. Sang nabi memahami bahwa sejarah – baik di masa lampau maupun masa mendatang – bergantung pada penghiburan dan pengharapan yang akan datang, ketika Allah bertindak mengampuni umat-Nya dan memulihkan mereka untuk berbalik kepada-Nya.

Dalam Yes 40-50 terdapat 4 (empat) sajak yang biasa dinamakan “Nyanyian Hamba YHWH” (Yes 42:1-7;  49:1-6; 50:4-9; 52:13-53:12). Nyanyian-nyanyian ini melukiskan sebuah gambar tentang seseorang yang hidupnya diabdikan sepenuhnya kepada YHWH Allah, dan yang penderitaannya untuk YHWH mendatangkan pengampunan dan restorasi atas umat-Nya. Identitas hamba Allah ini tidak diketahui, namun Gereja secara tradisional melihat dalam nyanyian-nyanyian ini suatu gambaran kenabian dari Yesus sendiri yang diinspirasikan Roh Kudus. Yesus adalah seorang hamba Allah yang sempurna, yang sengsara dan wafat-Nya di kayu salib membawa kita kembali ke dalam pelukan Bapa surgawi.

Dalam Pekan Suci ini, Allah mengundang kita  semua untuk memusatkan pandangan kita pada Yesus, agar kita dapat mengalami kasih-Nya yang luarbiasa besar bagi kita. Sebagaimana sang hamba YHWH dalam Kitab Yesaya, Yesus memperhatikan kita dengan hati yang penuh bela rasa dan  belas kasih: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes 42:3). Konsepsi manusia tentang keadilan memang berbeda dengan konsepsi Allah. Keadilan Allah tidak datang kepada umat manusia melalui hukum atau kekuatan militer, namun sebagai seorang Manusia yang menderita karena ketidakadilan hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan kepada kita semua. Yesus adalah utusan Allah yang dipercayai-Nya untuk menghentikan segala penindasan dan untuk menegakkan keadilan (lihat Yes 42:4). Yesus datang ke tengah-tengah dunia membawakan keselamatan, bukan hukuman (lihat Yoh 3:17). Ia datang untuk membawa kesembuhan dan pengharapan kepada siapa saja yang datang kepada-Nya. Selama Pekan Suci ini, marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus, untuk menunjukkan kepada kita hati-Nya yang penuh kasih dan membuat hati kita seperti hati-Nya sendiri agar kita dapat mengasihi orang-orang lain seperti Dia mengasihi kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, bukalah hati kami bagi kasih-Mu yang lemah lembut. Oleh Roh Kudus-Mu, tunjukkanlah kepada kami bela rasa dan belas kasihan-Mu dengan mana Engkau selalu memandang dan memelihara kami. Ajarlah kami untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN BAGI YESUS” (bacaan tanggal 10-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 7 April 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements