Archive for May 1st, 2017

YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN

YESUS ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 2 Mei 2017)

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21 

Sejak awal Allah telah memiliki kerinduan untuk memberi makan umat-Nya dengan kehadiran-Nya dan memberikan kepada mereka suatu bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Berbicara secara profetis dalam nama Tuhan, sang pemazmur menulis: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. …… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya” (Mzm 81:11,17). Misalnya, dalam Keluaran (Kel 16:4-5), Allah menurunkan hujan makanan (manna) dari surga ke atas anak-anak-Nya di padang gurun.

Yohanes bercerita di sini tentang sekelompok orang yang berkumpul di sekeliling Yesus untuk meminta bukti nyata siapa diri-Nya sebenarnya. Mereka mengemukakan fakta bahwa pada zaman Musa, Allah mencurahkan mana dari surga kepada nenek moyang mereka sebagai bukti bahwa Dia ada bersama umat-Nya. Itulah sebabnya mengapa mereka juga menginginkan sebuah “tanda” yang dapat memupus ketidakpercayaan mereka. Dalam menanggapi tuntutan tersebut, Yesus menjelaskan bahwa Dia sendiri adalah tanda yang dimaksud: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Di sini Yesus minta kepada orang-orang itu untuk mempraktekkan iman mereka.

Yesus mengatakan bahwa Bapa-Nyalah – bukan Musa – yang memberikan roti manna dari surga kepada orang-orang Israel pada waktu berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, untuk menopang kehidupan mereka dan menolong ketiadaan kepercayaan mereka kepada-Nya. Sekarang Ia telah datang sebagai roti dari surga yang sesungguhnya, diutus oleh Bapa-Nya untuk memenuhi umat dengan kehidupan ilahi. Yesus mencoba untuk menjelaskan bahwa agar menimba manfaat dari roti kehidupan ini, pada instansi pertama mereka membutuhkan iman. Tanpa iman, mereka tidak akan mampu untuk menerima semua yang ingin diberikan-Nya kepada mereka.

Percayakah kita bahwa Yesus adalah roti dari surga yang sejati? Percayakah kita bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, wafat, bangkit dan kemudian mengirimkan Roh Kudus untuk memberi makan kepada kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membawa kita kepada kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita sejak dahulu kala? Apabila kita mendekati altar Tuhan dengan iman seperti ini, maka kehidupan kita pun ditransformasikan. Marilah kita secara sadar mengambil keputusan untuk percaya kepada sang Putera Allah. Jika kita melakukannya, maka damai sejahtera dan penjaminan kembali akan memenuhi diri kita. Setiap orang yang percaya – walau pun sedikit saja – akan menerima bukti secara berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau datang untuk menyelamatkanku dari dosa dan maut. Walaupun imanku lemah, Engkau datang kepadaku dan memberi makan imanku yang kecil ini sampai menjadi sebuah dasar kepercayaan yang pasti akan segala janji-janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS(bacaan tanggal 2-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017) 

(Tulisan bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Untuk menyambut BULAN MARIA – MEI 2017, marilah kita berdoa bersama S. Fransiskus dari Assisi: 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA 

Salam, Tuan Puteri, Ratu Suci,

Santa Bunda Allah, Maria;

Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja,

dipilih oleh Bapa Yang Mahakudus di surga, dan

dikuduskan oleh Dia

bersama dengan Putera terkasih-Nya Yang Mahakudus

serta Roh Kudus Penghibur.

Dalam dirimu dahulu dan sekarang

Ada segala kepenuhan rahmat dan segalanya yang baik.

Salam, istana-Nya;

salam, kemah-Nya;

salam, rumah-Nya.

Salam, pakaian-Nya;

salam, hamba-Nya;

salam, bunda-Nya,

serta kamu semua, keutamaan yang suci,

yang oleh rahmat dan penerangan Roh Kudus

dicurahkan ke dalam hati kaum beriman,

untuk membuat mereka yang tidak setia

menjadi setia kepada Allah. 

Catatan: 

  1. Ungkapan “perawan yang dijadikan Gereja” adalah ungkapan yang berakar dalam teologi patristik dan awal abad pertengahan, arus tradisi yang mempengaruhi Fransiskus. Sesudahnya, ungkapan ini jarang dipakai, dan lebih dikenal sebutan “perawan selamanya” (virgo perpetua). Sebutan tentang Maria sebagai “perawan yang dijadikan Gereja” (= virgo ecclesia facta) harus diartikan dalam hubungan dengan ayat berikutnya. 
  1. Maria pastilah orang pertama yang dikuduskan menjadi Gereja oleh Tiga Pribadi Ilahi. Hal itu digarisbawahi oleh ungkapan-ungkapan yang menyusul: istana-Nya, kemah-Nya, rumah-Nya. 
  1. Keutaman-keutamaan diberi salam bersama Maria karena itulah anugerah Roh Kudus yang menghiasi Maria, sehingga menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal karena iman dan kesetiaan-Nya. Juga orang beriman dicurahi keutamaan yang sama, agar mereka percaya dan setia kepada Allah seperti Maria, dan dengan demikian juga dalam 1SurBerim 1:10 dan 13; 2 SurBerim 48,53,56. 

(Sumber: KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, hal. 284-285.)

Cilandak, 1 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MOHON BANTUAN DOA UNTUK ROMO AJI PRABOWO, PR

Saudari dan Saudara para pengunjung/pembaca situs/blog SANG SABDA yang dikasihi Kristus,

Pada hari Kamis lalu, tanggal 27 April 2017, saya mengunjungi Romo Aji Prabowo di WISMA SAMADI, Klender. Romo Aji adalah imam praja dari Keuskupan Agung Jakarta yang sudah belasan tahun berkarya sebagai seorang misionaris yang bertugas melayani saudari-saudara kita dari suku Dayak Iban yang hidup di Kalimantan Barat bersebelahan dengan Malaysia Timur. Romo Aji adalah mantan mahasiswa saya di FISIP UI – Administrasi Niaga.

Pada bulan Oktober 2016 Romo Aji terkena stroke dan sekarang sedang dirawat di WISMA SAMADI. Saya baru mengetahui berita itu beberapa hari sebelumnya dari situs SESAWI.net. Puji Tuhan, Romo masih dapat berbicara dengan baik, walaupun lengan kiri beliau tak dapat digerakkan, dan jalan pun masih baru mulai coba-coba. Yang penting dan menggembirakan hati saya: Wajah Romo masih ceria seperti sediakala.

Dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati saya mohon kesediaan anda sekalian untuk mendoakan Romo Aji Prabowo Pr, agar kesehatan beliau dapat pulih seturut kehendak-Nya. Semoga doa permohonan ini juga termasuk dalam daftar doa-doa syafaat anda sehari-hari.

Terima kasih dan semoga berkat Allah Yang Mahabaik senantiasa menyertai anda sekalian, komunitas/keluarga anda masing-masing, dan juga segala karya-karya kebaikan anda.

Jakarta, 1 Mei 2017 [Awal Bulan Maria]

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

p.s. Ini adalah foto Romo Aji ketika dirawat di rumah sakit di Pontianak; bersama ibunda tercinta Nyonya Moerdopo.