TIDAK ADA HAMBA YANG LEBIH DARIPADA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 11 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan Kapusin

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20) 

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

Kerendahan-hati atau kedinaan Allah itu begitu besar. Sebagai Trinitas, Allah diam dalam keamanan sempurna kasih ilahi. Dia tidak perlu membangga-banggakan atau mendominasi. Dia juga tidak memerlukan pelayanan kita samasekali. Namun, Dia tetap memilih untuk menciptakan kita dan berbagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita manusia.

Allah itu bisa saja rendah hati, tetapi pada awal keberadaan manusia, kita umat-Nya jatuh ke dalam dosa kesombongan dengan memisahkan diri dari Dia. Tanggapan apa yang diberikan oleh Allah terhadap pemberontakan tak-tahu-diri dari manusia itu? Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membasuh kaki kita (Yoh 13:3-15)!  Kita telah menembusi dan melukai kaki-kaki Yesus di kayu salib, namun setiap hari Dia dengan rendah hati menawarkan diri untuk membasuh kaki kita.

Tidak ada hamba yang lebih tinggi daripada tuannya (lihat Yoh 13:16). Apabila kita ingin memberi tanggapan terhadap kasih Allah bagi kita, maka hal terbaik yang kita dapat lakukan adalah untuk meneladan Dia, yaitu dengan rendah-hati melayani orang-orang lain. Apa pun profesi atau pekerjaan kita, kita semua dipanggil untuk membasuh kaki. Kita semua dipanggil untuk merendahkan diri kita agar mengangkat dan menyegarkan kembali orang-orang dengan siapa kita bekerja. Bukankah ini yang dialami para ayah dan ibu dalam menghadapi berbagai tantangan sehari-hari berkaitan dengan pemeliharaan anak-anak mereka? Apakah para imam yang mempunyai kuasa untuk mendengar pengakuan dosa umat dan memberikan pengampunan Allah dikecualikan dari panggilan untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam hal kerendahan hati atau kedinaan? Bukankah para suami-istri yang dipanggil untuk saling memelihara satu sama lain tidak diundang juga untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh Yesus. Kita dapat merendahkan diri kita dalam banyak sekali situasi, dan dalam setiap kasus Yesus hadir.

Roh Kudus berdiam dalam hati kita dengan kedinaan, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa kita ini sangat dikasihi. Dia juga selalu memanggil kita untuk mengasihi dengan sempurna pula. Dia selalu berusaha untuk membimbing tindakan-tindakan kita dan membentuk sikap-sikap kita sehingga kita dapat melaksanakan prioritas-prioritas Kristus sendiri.. Jika kita dapat belajar untuk menyerahkan diri kepada Roh Allah dan mengikuti cara Yesus melayani, maka kita tidak hanya menjadi aman berdiam dalam kasih Allah, tetapi juga dapat pergi keluar untuk melakukan hal-hal yang besar – yaitu tindakan-tindakan pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah aku mampu untuk membasuh kaki orang-orang lain dalam hidupku seturut teladan yang diberikan oleh Yesus, Tuhan dan Guru-ku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIUTUS DAN YANG MENGUTUS” (bacaan tanggal 11-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements