BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 15 Mei 2017)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedual rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “TUGAS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements