KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Keakraban relasi antara Bapa surgawi dan Putera (Anak)-Nya, Yesus, adalah berlandaskan kehidupan yang saling disyeringkan. Hal ini dinyatakan kepada kita oleh ketaatan sang Putera, oleh konformitas total dari kehendak-Nya kepada kehendak Bapa. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya, sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19; bdk. 5:30; 7:17,28; 8:28; 14:10). Itulah sebabnya mengapa, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia …” (Yoh 8:28). Dalam kematian sang Putera di kayu salib itulah kita baru mampu memahami makna sesungguhnya dari ketaatan-Nya kepada Bapa. Dari peristiwa kematian-Nya tersebut kita akan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan: “Aku di dalam Bapa-Ku” (Yoh 14:20).

Sebagai akibat yang wajar dari pernyataan ini, ungkapan “pada waktu itulah” akan juga dipahami oleh para murid bahwa mereka akan di dalam Yesus dan Yesus di dalam mereka (Yoh 14:20). Akan tetapi, keakraban sedemikian antara umat yang percaya dan Tuhan mereka yang sudah bangkit bersifat mutualistis dan timbal-balik secara istimewa. Keberadaan-Nya dalam diri mereka berarti bahwa mereka hidup karena Dia sendiri hidup (Yoh 14:19). Namun demikian, walaupun mereka hidup karena Dia, “Aku di dalam kamu”, kebalikannya, yaitu “kamu di dalam Aku” tidak dapat diartikan bahwa Yesus hidup karena mereka. Yesus adalah seperti apa adanya Dia karena Dia adalah untuk mereka, karena Dia adalah Wahyu Bapa bagi mereka. Hanya melalui iman-kepercayaan kita kepada Yesus, hanya dengan menghidupi kehidupan mereka dalam diri-Nya, maka mereka dapat hidup. Tentu saja, menghayati kehidupan di dalam Dia berarti taat kepada perwahyuan yang dibawakan oleh-Nya, taat kepada kehendak-Nya seperti disabdakan/diperintahkan oleh-Nya.

Jadi, ketaatan kepada perintah-perintah Yesus sesungguhnya merupakan satu-satunya sarana yang tersedia bagi umat yang percaya untuk mengungkapkan kasih mereka kepada-Nya. Tidak ada sarana lainnya. Hanya dengan mentaati perintah-perintah Yesus umat yang percaya menunjukkan kepada dunia bahwa Dia (Yesus) ada di dalam mereka dan mereka di dalam Dia (Yoh 14:20); bahwa mereka adalah para murid-Nya (Yoh 13:35). Mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sungguh hidup karena Dia, Tuhan yang sudah bangkit, hidup (Yoh 14:19).

Mereka yang ingin selalu dekat dengan Yesus, yang senantiasa memiliki hasrat melihat Bapa (Yoh 14:8), yang merindukan kelangsungan dari kehadiran Yesus di atas bumi ini, semuanya dirujuk kepada perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi (Yoh 13:34,35). Tidak ada jalan lain, tidak ada sarana lain, untuk mendapatkan kasih Bapa (“akan dikasihi oleh Bapa-Ku”; Yoh 14:21) dan kasih Yesus sendiri (“Aku pun akan mengasihi dia”; Yoh 14:21). Hanya lewat ketaatan kepada perintah-perintah Yesus kita dapat memahami sepenuhnya perwahyuan yang dibawa oleh-Nya: “… akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21).

Ini adalah alasan mengapa beberapa waktu sebelumnya Yesus mengingatkan Nikodemus bahwa “… manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yoh 3:19). Sebaliknya, perbuatan-perbuatan mereka yang percaya kepada Yesus sebagai “terang dunia”, yaitu orang-orang yang mempunyai “terang kehdupan” (Yoh 8:12) akan taat kepada perintah-Nya untuk saling mengasihi.

Singkatnya, ketaatan kepada sabda/perintah-Yesus adalah syarat satu-satunya untuk berdiamnya Bapa dan Putera-Nya dalam diri umat yang percaya: “Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

DOA: Terima kasih Roh Kudus, Engkau adalah Penolong yang lain, Engkaulah Roh Kebenaran yang mengingatkan diri kami senantiasa bahwa ketaatan kepada perintah-perintah Yesus adalah satu-satunya jalan, satu-satunya sarana yang tersedia bagi kami – umat yang percaya – untuk mengungkapkan kasih kami kepada-Nya; demikian pula untuk berdiamnya Bapa dalam diri kami dan juga Yesus Kristus – Putera Bapa – Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KEHADIRAN YESUS SECARA BARU” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements