ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 4 Juni 2017

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:19-23) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1, 24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1Kor 12;3-7,12-13 

Hari Raya Pentakosta adalah salah satu hal terkuat yang mengingatkan kita akan niat Allah untuk berbuat hal yang jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar memberi pengampunan. Allah ingin agar kita ikut mengambil bagian dalam kehidupan Kristus dan menjadi saksi hidup mengenai kehidupan itu bagi orang-orang yang kita jumpai. Setiap orang Kristiani dimaksudkan untuk menjadi suatu tanda yang hidup bahwa Yesus Kristus telah mengalahkan dosa dan maut, dan sekarang Ia memerintah sebagai Tuhan (Kyrios), bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:11).

Pada hari raya yang besar ini kita diajak kembali ke ruang atas tempat para murid menumpang di Yerusalem, dan  bersama mereka ketika untuk pertama kalinya mereka berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit. Yohanes mengatakan kepada kita bahwa ketika Yesus yang telah bangkit datang kepada mereka, Dia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Injil juga mencatat bahwa para murid bersukacita ketika mereka melihat Tuhan Yesus (Yoh 20:20). Melihat luka-luka Yesus yang sekarang telah dimuliakan sungguh merobek-robek hati mereka.

Tuhan Yesus yang telah bangkit itu berulang kali menyapa para murid-Nya dengan kata-kata “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19, 21, 26). Damai yang diberikan Yesus (lihat Yoh 14:27) bukanlah sekadar suatu perasaan nyaman, melainkan juga suatu keutuhan yang mengalir dari anugerah keselamatan yang diberikan-Nya. Karena kematian dan kebangkitan Yesus, kita pun memperoleh kehidupan kekal – dan kesadaran mengenai hal inilah yang menjadi sumber sukacita dan ketenangan kita (lihat lagi Yoh 20:20).

Sebelum itu Yesus berkata kepada para murid, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9). Sekarang Ia berkata kepada mereka, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Sungguh sangat menakjubkan apabila kita menyadari bahwa Yesus mengasihi kita seperti Bapa telah mengasihi Dia, dan Yesus juga mengutus kita seperti Bapa mengutus diri-Nya. Namun hanya karunia Roh Kudus sajalah yang akan memampukan kita mengambil bagian dalam misi Sang Putera: “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22).

Setelah pemberian Roh Kudus ini kita tidak perlu lagi berlelah-lelah untuk mengidentifikasikan karya Roh Kudus. [Ada yang mengatakan bahwa penghembusan Roh Kudus oleh Yesus kepada para murid-Nya adalah “Pentakosta versi Injil Yohanes”]. Roh Kuduslah yang menunjukkan kepada para murid bahwa Yesus tidak sekadar datang kembali dari dunia orang mati, melainkan juga Dia telah mengalahkan maut dan telah dideklarasikan sebagai Tuhan (Kyrios) langit dan bumi. Perwahyuan ini memenuhi diri mereka dengan sukacita yang luarbiasa. Lewat/oleh Roh Kudus, para murid sadar bahwa karena luka-luka Yesus mereka juga dapat dipenuhi dengan kehidupan ilahi seperti yang dialami Yesus.

Ini adalah macam perwahyuan yang ingin diberikan oleh Roh Kudus kepada kita semua. Inilah Pentakosta! Setiap kali kita berdoa, setiap kali kita menghadiri Perayaan Ekaristi, Roh Kudus ingin menyatakan  Yesus kepada kita dengan cara yang  semakin mendalam. Roh Kudus ingin meruntuhkan tembok-tembok dalam hati kita yang selama ini membuat kita terjebak di dalam suatu pemahaman yang sempit dan cetek tentang Yesus dan rencana-Nya bagi kita. Dan Ia melakukan ini sedemikian sehingga Dia dapat membentuk kita menjadi sebuah umat yang  begitu dibakar oleh cintakasih kepada Yesus sehingga kita akan berani mengambil risiko apa saja demi Tuhan dan Juruselamat kita itu.

Kita tidak perlu takut kepada Roh Kudus. Ia mungkin saja datang dalam bentuk api, tetapi hanya untuk membakar hangus hal-hal yang menghalang-halangi kita berjumpa dengan Yesus. Kita dapat saja memikul banyak beban dalam hati kita, misalnya rasa takut, kecemasan dan penolakan, yang selama ini menjadi penghalang antara kita dan Yesus. Oleh kuasa salib Yesus, Roh Kudus ingin membuat ringan beban yang kita pikul agar kita dapat merangkul Yesus sebagai Juruselamat kita yang adil dan penuh kasih, yang hanya menginginkan yang terbaik bagi diri kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, dengan api cintakasih-Mu bakarlah segala hal yang menghalangi aku menyadari kehadiran-Mu di dalam diriku. Ya Roh Allah, Pribadi ketiga dalam Allah Tritunggal Mahakudus, bentuklah aku, buatlah aku menjadi murid Kristus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI” (bacaan tanggal 4-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 2 Juni 2017 [Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements