MENDENGARKAN YESUS DENGAN SENANG HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Jumat, 9 Juni 2017)

Ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, Ia berkata, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kutaruh di bawah kakimu (Mzm 110:1). Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan senang hati. (Mrk 12:35-37)

Bacaan Pertama: Tob 11:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,7-10 

“Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan senang hati.” (Mrk 12:37)

Ambillah waktu beberapa menit untuk mengingat-ingat para guru yang pernah mengajar anda pada zaman sekolah dulu. Bagi kebanyakan dari kita, paling sedikit ada seorang guru yang menonjol dan mempunyai pengaruh sangat besar atas diri kita. Guru ini mampu menangkap imajinasi kita atau memiliki talenta luarbiasa untuk menjelaskan hal-hal yang pelik. Ini biasanya guru yang menantang kita untuk bekerja keras dan menguasai mata pelajaran yang diberikan olehnya. Pada masa saya bersekolah di SR/SMP Bruderan Budi Mulia di tahun 1950-an, saya mempunyai seorang guru yang bernama Ibu Sudjilah, seorang laskar pejuang revolusi dan lulusan sekolah suster-suster di Mendut yang terkenal itu. Rasa nasionalisme yang berhasil ditanamkannya dalam diri saya dan murid-murid yang lain masih berbekas sampai hari ini. Ibu guru ini juga sangat baik dalam mengajar. Seorang guru sejati! Ibu guru ini tidak murah dalam memberi angka, namun kebanyakan kami sungguh ingin belajar dari beliau dan selalu bersemangat pada waktu pengajaran beliau. Beliau pun selalu bersemangat dalam mengajar; meskipun menumpang di rumah saudaranya di Jalan Djambu, Menteng, dan beliau harus mengajar di kawasan Mangga Besar. Setiap hari dengan gagah (meskipun kelihatannya sedang mengidap penyakit) beliau mengendarai sebuah sepeda kumbang merek “mobilette”. Sempat terserang penyakit TBC, beliau bangkit lagi dan maju terus setelah pulih-sembuh dari penyakitnya. Seorang Kristiani teladan!

Inilah satu cara untuk memahami ikhtisar yang diberikan oleh Markus dalam Mrk 12:37 di atas. Yesus tentunya adalah seorang guru yang banyak memberi tantangan, yang juga berpengharapan besar pada para pendengar-Nya. Yesus tidak mempunyai masalah untuk mengkonfrontasikan orang-orang dengan dosa mereka dan kemudian memanggil/mengajak mereka untuk menghayati hidup bersih yang berstandar sangat tinggi dan tidak mudah dicapai. Akan tetapi, bagaimana pun juga banyak orang mendengarkan Dia dengan senang hati (Mrk 12:37).

Mengapa kata-kata Yesus dapat membawa kegembiraan/kesenangan bagi orang-orang, walaupun kata-kata ini mendesak mereka untuk melakukan pertobatan atau menuntut sesuatu yang sulit? Sebabnya adalah, karena Dia mampu mencapai ke luar melampaui batas penolakan-penolakan kodrat kita yang cenderung berdosa dan berbicara langsung kepada hati kita. Oleh kuasa Roh-Nya Yesus dapat menyentuh bagian terdalam diri kita dan memancarkan terang-Nya atas hasrat-hasrat sejati hati kita – hasrat untuk menyenangkan Allah, hasrat untuk dibebaskan dari dosa, dan hasrat untuk menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya dalam dunia ini. Bagaimana pun juga kita merasa bahwa kata-kata Yesus yang diucapkan-Nya kepada kita adalah kata-kata yang kita perlu dengar, walaupun kata-kata itu tidak mudah untuk ditanggapi.

Dengan demikian, betapa pentinglah bagi kita untuk tetap terbuka agar mampu mendengar kata-kata Yesus, kata-kata keras dan juga kata-kata yang mudah dan lembut! Pada akhirnya, semua kata-kata Yesus dimaksudkan untuk membawa kesembuhan dan pemulihan (restorasi), bagaimana pun sulit atau menyakitkan kedengarannya bagi kita pada mulanya. Kita bahkan dapat menentang/ menolak manakala Yesus mulai menyentuh dan berurusan dengan titik-titik rawan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di samping Yesus gigih Ia juga sabar sebagai sebagai seorang guru. Yang diminta-Nya dari kita hanyalah agar kita memelihara sebuah hati yang terbuka dan sepenuhnya mengandalkan kuasa Roh Kudus-Nya saja untuk mengubah kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku telinga-telinga yang terbuka agar dapat mendengar suara-Mu. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang menghargai kata-kata-Mu dan dengan rendah hati menerima segala sesuatu yang Engkau katakan kepadaku. Berbicaralah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Tob 11:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATA TOBIT DISEMBUHKAN (bacaan tanggal 9-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 7 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements