JANDA MISKIN ITU MENGEMBALIKAN KEPADA ALLAH APA YANG TELAH DILAKUKAN-NYA UNTUK DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Sabtu, 10 Juni 2017) 

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Bacaan Pertama: Tob 12:1,5-15,20; Mazmur Tanggapan: Tob 13:2,6-8 

Yesus melihat persembahan janda miskin itu dan mengakui pengorbanan yang dibuatnya demi cintakasihnya kepada Allah. Sang janda miskin itu sendiri tidak sadar bahwa Yesus sedang memperhatikan tindak-tanduknya. Dia juga tidak memahami makna dari dua keping uang tembaga yang dipersembahkannya. Dia hanya melakukan sesuatu yang menurut pengetahuannya harus dia lakukan.

Pengamatan Yesus tentang kemurahan-hati sang janda miskin mengingatkan kita bahwa bilamana Dia datang kembali dalam kemuliaan dan duduk sebagai sang Hakim, maka faktor penentunya adalah apa saja yang kita lakukan atau tidak lakukan untuk orang-orang di sekeliling kita yang paling dina atau paling membutuhkan bantuan (lihat Mat 25:45). Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita sampai kepada suatu titik, bahwa apa saja yang  kita lakukan untuk orang lain, besar atau kecil, kita melakukan hal itu untuk Dia. Dia melihat semua urusan kita dengan orang-orang lain. Dia tahu berapa besar (atau berapa kecil) cintakasih yang ada dalam hati kita. Dia merasakan setiap kata baik yang kita ucapkan dan setiap perbuatan baik yang kita lakukan.

Hal ini memberikan kepada kita banyak hal untuk dipikirkan serta direnungkan, pada waktu kita melakukan pemeriksaan batin. Di penghujung hari ini, ketika anda melakukan pemeriksaan batin, ingatlah sedapat mungkin interaksi yang telah anda lakukan dengan para anggota keluargamu, teman-temanmu, rekan-rekan kerjamu dan lain-lain. Dalam setiap situasi cobalah untuk membayangkan Yesus sebagai Pribadi dengan siapa anda sedang berurusan. Tanyalah kepada diri anda sendiri: “Apakah aku bertindak dengan cara yang menunjukkan  kepada orang ini respek dan kemurahan-hati yang pantas diterima oleh Yesus? Inilah caranya kita melayani Allah – tidak dengan melaksanakan rencana-rencana spektakuler untuk mengubah dunia, melainkan dengan memperlakukan orang-orang lain seperti kita  akan memperlakukan Dia, teristimewa dalam kesempatan perjumpaan-perjumpaan kecil dan kelihatan ‘tidak berarti’ yang diberikan-Nya kepada kita setiap hari.

Apabila kita melayani orang-orang lain, apakah kita sungguh menunjukkan cintakasih kita kepada Yesus? Apabila kita menyakiti orang-orang lain, apakah itu sesungguhnya Yesus yang kita sakiti? Ya, memang demikianlah! Pada waktu Saul dari Tarsus sedang dalam perjalanan ke kota Damsyik untuk mengejar dan menganiaya orang-orang Kristiani awal, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:3-4). Janda miskin yang dilihat Yesus dalam rumah ibadat tidaklah membayar suatu kewajiban keuangannya kepada sebuah lembaga yang bersifat impersonal. Ia mengembalikan kepada Allah apa yang telah dilakukan-Nya untuk dirinya. Maka dalam setiap situasi kita pada zaman ini, baiklah kita mengingat bahwa Yesus lah yang kita sentuh, dan kepada diri Yesus pulalah kita dipanggil untuk mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, sembuhkanlah semua orang yang telah dilukai atau dilecehkan secara mendalam. Biarlah kasih-Mu yang sempurna membawakan rasa nyaman dan teduh bagi mereka. Berikanlah kepada mereka kasih dan kehormatan yang sangat mereka butuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN ISTIMEWA SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 10-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements