YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN SEGALA HUKUM ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 14 Juni 2017) 

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9

Yesus tidak memperkenankan diri-Nya ditempatkan sebagai oposisi terhadap Hukum Taurat dan para Nabi (Mat 5:17). Melalui sarana-sarana ini, Allah berbicara kepada para kekasih-Nya, umat pilihan. Yesus membuat jelas, bahwa ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya sepenuhnya sejalan dengan Hukum Taurat, dan Ia adalah penggenapannya – Dia yang akan menyempurnakan Hukum Taurat sesempurna-sempurnanya.

Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan memenuhi tujuan Allah dalam memberikan hukum itu pertama kalinya, yaitu bahwa kita akan mampu untuk berelasi dengan Allah secara murni dan benar, demikian pula halnya dengan relasi dengan sesama. Dengan mendamaikan kita dengan Bapa surgawi lewat kemenangan-Nya di atas kayu salib, Yesus membuat setiap orang dimungkinkan untuk berdiri di hadapan hadirat Allah, bersih dan bebas dari kesalahan. Ditebus oleh darah-Nya dan dibawa ke dalam suatu kehidupan baru dalam air baptis, kita dapat dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, yang membentuk hati kita serta mengajar kita jalan ketaatan.

Dibebaskan dari rasa takut akan dihukum, semakin yakin akan kasih Allah kepada kita, sekarang kita dapat menerima kehidupan ilahi. Dari kuasa kehidupan itulah, kita dapat menyenangkan Dia lewat/oleh tindakan-tindakan iman kita. Hukum tetap diperlukan karena perjuangan terus menerus berlangsung antara daging dan roh, namun tujuannya telah dinaikkan kepada suatu tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kristus telah memberikan kepada kita hidup baru yang mentransformasikan diri kita, menarik kita semakin jauh lagi dari dosa dan semakin dekat kepada Bapa surgawi. Dengan demikian, ketika Yesus menggemakan dan menggenapi perintah-perintah berkaitan dengan pembunuhan, perzinahan, dan perceraian (lihat Mat 5:21,27,31), Ia tidak hanya memanggil kita untuk menghayati kehidupan moral yang lebih baik, melainkan juga mengundang kita ke dalam inti kehidupan Allah sendiri, yang dimulai sekarang di dunia ini.

Santo Irenaeus [c.130-c.200] dalam tulisannya, Adversus omnes Haereses (Melawan semua Bid’ah), mengatakan “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; akan tetapi kehidupan manusia adalah visi Allah” Allah dimuliakan apabila kita sampai kepada kepenuhan hidup, dan kepenuhan hidup bagi kita adalah untuk mengenal dan mengasihi Allah. Marilah kita berdoa, agar Kristus – pemenuhan segala hukum Allah – akan datang masuk lebih dalam lagi ke hati kita dan membawa kita kepada kepenuhan dalam Dia.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah pemenuhan segala hukum Allah. Dalam perayaan Ekaristi hari ini, buatlah agar kami menyambut tubuh-Mu dengan rasa lapar dan haus yang lebih besar, karena tubuh-Mulah kehidupan dan sukacita kami yang sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI” (bacaan tanggal 14-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 12 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements