KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 16 Juni 2017)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18 

Tentunya kata-kata keras Yesus ini sangat mengganggu banyak pendengar-Nya, teristimewa mereka yang membanggakan diri akan kemampuan mereka untuk mentaati hukum Allah. Namun sekarang Yesus membuat hukum itu menjadi lebih keras bagi mereka. Hukum yang berlaku tidak pernah secara khusus melarang seseorang untuk “berfantasi yang bukan-bukan”! Bukankah sudah cukup apabila seseorang tidak sampai melakukan apa yang difantasikannya – tak peduli bagaimana orang itu menikmati fantasinya tersebut?

Pentinglah bagi kita untuk memahami bahwa hukum Musa tidak pernah dimaksudkan untuk membuat orang menjadi benar. Orang-orang Yahudi memahami bahwa relasi mereka dengan YHWH dalam ikatan perjanjian merupakan suatu karunia yang sangat berharga. Dengan demikian, hukum dimaksudkan sebagai tanggapan kasih umat terhadap Allah yang telah memberikan segala berkat dan karunia kepada mereka dengan kemurahan hati. Akan tetapi pada zaman kita – seperti juga pada zaman Yesus masih hidup di atas bumi – banyak orang melakukan pendekatan terhadap “Sepuluh Perintah Allah” seakan peraturan perpajakan: untuk mencari aman kita berlindung di balik kata-kata hukum yang tersurat namun pada saat yang sama mencari “peluang” untuk sedapat mungkin menghindari pajak itu.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus menunjukkan hasrat mendalam dari Allah untuk mengubah disposisi-disposisi batiniah kita. Ia ingin menyembuhkan kita dari segala efek dosa dan memenuhi diri kita dengan damai-sejahtera-Nya dan kekuatan-Nya. Inilah alasan kedatangan Yesus ke tengah dunia, yaitu agar Ia dapat menggenapi nubuat nabi Yehezkiel, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yeh 26:25-27).

Janji Injil itu memang luarbiasa indahnya: Kita dapat belajar untuk mengasihi semurni yang dilakukan oleh Yesus! Tidak ada sikap mementingkan diri sendiri atau “pamrih” dalam cintakasih Yesus kepada kita. Apabila kita menerima kemurnian-Nya maka hal tersebut dapat menolong kita memahami secara lebih mendalam kasih Yesus kepada mempelai-Nya, Gereja. Dengan sukacita yang besar, Ia berupaya terus untuk mempersatukan kita dengan diri-Nya sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Yesus, sang Pencinta jiwa-jiwa manusia, sungguh rindu untuk memberikan kepada kita segala sesuatu yang dimiliki-Nya, bahkan keilahian-Nya. Hari demi hari, Yesus berupaya terus untuk memenuhi diri kita dengan kasih yang lebih mendalam dan juga rasa hormat terhadap segala ciptaan Allah, teristimewa kesucian hidup manusia.

DOA: Bapa surgawi, melalui pembaptisan Engkau telah memberikan kepada kami masing-masing sebuah hati yang baru. Jika kami masih juga jatuh ke dalam dosa, semoga kami dengan cepat berbalik kepada-Mu dalam Sakramen Rekonsiliasi. Pimpinlah kami ke dalam rasa hormat yang penuh dan utuh kepada tubuh kami sendiri dan bebaskanlah dunia ini dari keterikatannya pada nafsu. Semoga kasih-Mu seperti dicontohkan Yesus senantiasa tetap berjaya dalam diri kami masing-masing. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 16-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 Juni 2017 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements