JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Senin, 26 Juni 2017)

 

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: Kej 12:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-20,22

Pada malam sebelum wafat-Nya, Yesus berdoa untuk kesatuan/persatuan semua orang yang percaya kepada-Nya (lihat Yoh 17:21). Selama 1.000 tahun pertama, walau pun terdapat banyak halangan, Gereja mampu untuk memelihara kesatuan/persatuannya. Akan tetapi millennia kedua Kristianitas (Kekristenan) ditandai dengan terjadinya perpecahan-perpecahan yang mendalam dan menyakitkan. Sebagai akibat dari apa yang terjadi sekitar 1.000 tahun lalu, sangatlah menggoda bagi seseorang untuk memandang orang Kristiani dari denominasi yang berbeda dengan cara-cara yang justru dapat memperuncing perbedaan yang sudah ada.

Seingat saya, pada tahun 1950’an, kita (Kristiani yang Katolik di Indonesia) merasa bangga dan nyaman karena kita memiliki kebenaran penuh dan merasakan sedikit saja keterikatan dengan umat Kristiani lainnya. Namun demikian, bukankah mereka juga menyembah Allah Tritunggal? Bukankah mereka juga memiliki Roh Kristus melalui Baptisan? Bukankah hal-hal yang memisahkan kita jauh lebih sedikit daripada hal-hal yang mempersatukan kita? Memang sekarang sudah ada banyak perbaikan di bidang ekumene, misalnya dengan menerbitkan Alkitab bersama dalam Lembaga Alkitab Indonesia, melakukan kegiatan “baksos” bersama antar-gereja dlsb., namun upaya perbaikan atas dasar “kehendak baik” masih terus diperlukan.

Dalam Injil, kita diminta oleh Yesus untuk melakukan penghakiman/penilaian yang benar tentang situasi-situasi di mana kita berada, tentang orang-orang di sekeliling kita, juga tentang hati kita sendiri. Akan tetapi kita harus sadar bahwa penghakiman-penghakiman/penilaian-penilaian kita juga memiliki keterbatasan. Ketika Yesus bersabda: “Janganlah kamu menghakimi”, sebenarnya Dia mengingatkan kita untuk tidak pernah boleh memainkan peran sebagai Allah, karena hanya Allah sendirilah yang dapat menjatuhkan hukuman atau membebaskan seseorang. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kita boleh bersikap masa bodoh terhadap kebenaran atau menghindari untuk berdiri membela apa yang kita percayai. Hal ini hanya berarti bahwa daripada  sikap kita diwarnai penghukuman, kita seharusnya secara tetap memiliki pengharapan akan terwujudnya rekonsiliasi.

Keselamatan dalam Kristus adalah untuk semua orang, dan Ia memberi amanat agung kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada semua bangsa. Barangkali alasan yang paling mendesak adalah meningkatkan kesaksian kita di depan mereka yang membutuhkan pertobatan kepada Kristus. Sebagaimana perpecahan itu menghancurkan umat Israel (2Raj 17), maka perpecahan menjadi penghalang serius bagi kesaksian kita kepada dunia.

Dengan berjalan seturut bimbingan Roh Kudus, kita masing-masing dapat menjadi kekuatan signifikan untuk terciptanya persatuan dan rekonsiliasi. Setiap tindakan kerendahan hati, tindakan pertobatan, atau tindakan mulia demi kebaikan sesama manusia akan membuka lebih lebar lagi pintu rahmat dari Allah. Oleh karena itu kita tidak pernah boleh menyerah. Kita tidak boleh menghakimi, namun tetap bekerja sampai tibanya hari besar, ketika semua orang percaya berkumpul bersama sebagai satu umat yang dipersatukan dalam pujian serta penyembahan kepada satu Allah yang benar.

DOA: Bapa surgawi, persatukanlah kami dalam Kristus. Satukanlah kami sehingga melalui kesatuan/persatuan kami dunia dapat melihat kuat-kuasa dan belas kasih-Mu dan menjadi percaya bahwa Yesus adalah sungguh Anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI” (bacaan tanggal 26-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

Cilandak, 24 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements