MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirim pesan kepada Yesus dengan perantaraan dua orang murid-Nya apakah Dia adalah sang Mesias, Yesus sebenarnya dapat saja mengatakan secara sederhana dan singkat: “Ya”. Ternyata Yesus mengundang Yohanes Pembaptis untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dari kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan perkataan lain, kepada Yohanes Pembaptis diberitahukan agar menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang telah diajarkan Yesus sebagai cara untuk membedakan antara nabi-nabi yang baik dan nabi-nabi palsu: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pengujian “buah-buah” merupakan suatu reality check yang baik juga bagi kita. Kita semua mengetahui bahwa kita seharusnya menjadi “terang dunia” (Mat 5:14). Namun kita juga tahu bahwa sekadar berbicara itu sangatlah mudah. Masalah sesungguhnya adalah, apakah tindakan-tindakan kita mendukung kata-kata yang kita ucapkan. Dalam kesaksian di dalam keluarga kita sendiri dan bagi dunia sekeliling kita, apakah terdapat kecocokan antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan secara nyata? Apabila kita adalah orangtua yang sedang membesarkan anak-anak, apakah kita mempraktekkan apa yang kita khotbahkan?

Apabila kita berbicara mengenai pembentukan nurani, ekspektasi, dan kebiasaan anak-anak kita, maka keteladanan orangtua itu penting secara unik. Akan tetapi, bagi anak-anak untuk benar-benar memahami pesannya, maka pesan itu harus dikomunikasikan oleh orang-orang dewasa lainnya. Jadi apabila diriku adalah seorang kakek, bibi atau paman, pendidik, atau sekadar seorang dewasa yang mempunyai keprihatinan terhadap generasi mendatang, apakah “buah-buah” dari teladan yang kuberikan itu konsisten dengan kata-kata yang kuucapkan? Apakah aku berdoa bagi kehidupan keluarga? Bagaimana pula dengan kontak-kontakku dengan tetangga-tetanggaku, para kolegaku di tempat kerja dan sahabat-sahabatku? Apabila aku ingin agar mereka mengetahui dan mengenal kebesaran kasih Allah, maka bagaimana penghayatan hidupku sehari-hari harus mengungkapkan hal itu? Terkait dengan pokok ini, Santo Bonaventura dan Beato Thomas dari Celano menulis tentang Santo Fransiskus dari Assisi seperti berikut: “Karena dia sendiri mempraktekkan lebih dahulu dalam perbuatan apa yang hendak dianjurkannya kepada orang-orang lain dalam khotbahnya, maka ia tidak takut akan pengecam dan mewartakan kebenaran dengan penuh keyakinan” (LegMaj XII:8; bdk. 1Cel 36).

Buah-buah yang baik berarti akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, juga dengan memperkenankan Dia memangkas kita layaknya ranting-ranting anggur. Dengan mempraktekkan cara mendengarkan secara aktif, kita dapat tetap menangkap bisikan Roh Kudus. Janganlah sampai kita mengabaikan suara-Nya ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau tinggalkan! Baiklah kita hidup dalam cara yang membuat kita saksi-saksi profetis di tengah dunia! Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah secara berlimpah – buah yang tetap (Yoh15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements