PETRUS DAN PAULUS: PILAR-PILAR UTAMA GEREJA PERDANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Kamis, 29 Juni 2017)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu  akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18

“Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” (Mat:16:18)

Pada hari ini Gereja merayakan dua orang tokoh besar yang menjadi pilar-pilar utama Gereja perdana, yaitu Petrus dan Paulus. Kedua orang ini mewakili dua aspek vital Kekristenan (Kristianitas), baik dalam dimensinya sebagai lembaga maupun dimensi individualnya: dimensi pastoral dan dimensi misioner. Sejak Pentakosta Kristiani yang pertama, kepemimpinan Petrus dalam Gereja sudah jelas terbukti. Petrus pindah dari Yerusalem ke Antiokhia, akhirnya ke Roma. Di tempat inilah para penerusnya (Paus) melanjutkan  karya pelayanan Petrus demi memenuhi hasrat Yesus untuk membangun Gereja-Nya, sebagai mata-rantai dinamis yang tak terputuskan selama 2000 tahun.

Batu ujian (touchstone) dari iman Petrus dan “lapisan tanah keras” (bedrock) dari pelayanannya sebagai pemimpin Gereja adalah pengakuannya, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Inilah iman yang dirayakan oleh Paulus tatkala dia menulis, “Tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:11). Meskipun di antara para rasul Kristus Paulus itu datang belakangan, kita dapat saja berargumentasi bahwa Pauluslah justru yang banyak berjasa dalam mengembangkan doktrin-doktrin iman yang menjadi dasar dari Credo dan masih terus menentukan Gereja sampai hari ini.

Gereja universal berbicara dengan satu suara tatkala mendeklarasikan “Yesus adalah Tuhan!” Dua orang kudus ini, Petrus dan Paulus, telah membuat jelas bahwa iman-kepercayaan kita bukanlah dimaksudkan sebagai sesuatu yang sekadar bersifat pribadi atau invidual, sesuatu yang terisolasi. Jadi bukanlah sekadar urusan antara  “aku dan Yesus”, melainkan “Kristus dan Gereja-Nya. Gereja adalah sebuah persekutuan umat Kristiani, sebuah communio. Allah tidak pernah menginginkan kita hidup terisolasi satu sama lain. Allah tidak pernah memaksudkan Kristianitas sebagai hanya suatu pengalaman pribadi. Allah memberi suatu dimensi kelembagaan kepada iman-kepercayaan kita, sehingga dengan demikian pengalaman kita akan hidup dalam Roh dapat dengan penuh kuasa didorong dan didukung dalam pengharapan oleh kesaksian penuh kepercayaan dari banyak orang percaya yang lain.

Oleh iman kita diselamatkan, dan iman ini merupakan suatu karunia yang dianugerahkan Bapa surgawi. Melalui Gereja, marilah kita membuka “kekayaan” berbagai hikmat Allah kepada dunia. Kita juga dipanggil Allah untuk menjadi pilar-pilar Gereja. Kita juga dipanggil untuk memproklamasikan di tengah-tengah dunia, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan! Untuk mewartakan bahwa yang mati disalib di Kalvari adalah sungguh Yesus, bukan orang lain yang mirip dengan Dia! Yesus yang wafat di kayu salib ini kemudian dibangkitkan oleh Bapa dari antara antara orang mati. Dengan demikian, kita yang mati bersama Dia lewat pembaptisan dalam nama Allah Tritunggal Mahkudus, kelak akan bangkit bersama Dia dan dengan demikian menikmati kehidupan kekal di surga (lihat Ef 2:4-6; Kol 3:1-2; 1Kor 15:20-22; Kol 2:9-12; Rm 8:10-11; 1 Tes 4:14; 1Kor 15:13-17; 1Kor 6:14 dll.). Kita juga janganlah takut untuk mewartakan dan bersaksi, bahwa “pemberitaan salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang  diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Sementara kita menanggapi panggilan untuk mewartakan Kabar Baik ini dan mengakui bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan kita, maka kita pun sebenarnya ikut ambil bagian dalam membangun Gereja-Nya yang sejak 2000 tahun lalu telah dimulai oleh Petrus dan dinyalakan api-terangnya oleh Paulus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memanggilku sebagai salah seorang murid-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, perkenankanlah aku mewartakan kepada dunia di sekelilingku bahwa Engkau adalah sungguh Allah dan sungguh manusia; Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku dan sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 16:13-19], bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS” (bacaan tanggal 29-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 26 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements