IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 1 Juli 2017) 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Dalam kesempatan kali ini, baiklah kita menyoroti iman dari seorang perwira yang datang kepada Yesus memohon kesembuhan seorang hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita. Begitu penting iman bagi Yesus! Begitu pentingnya sehingga kita dapat melihat dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjuk pada iman besar yang dimiliki sang perwira sebagai sebuah model apa artinya menaruh kepercayaan dan keyakinan kita pada sesuatu yang tidak lebih daripada sabda Yesus: “… katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Dengan iman-kepercayaan seperti ini, tanda-tanda heran dan mukjizat-mukjizat dapat terjadi!  Dalam kitab-kitab Injil kita melihat bahwa Yesus senantiasa menanggapi secara positif iman-kepercayaan yang menunjukkan rasa percaya dan keyakinan yang mutlak.

Bagaimana kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita? Pertama, secara sederhana kita dapat mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman-kepercayaan kita. Iman adalah suatu anugerah/karunia – sesuatu yang Tuhan kelihatannya siap dan ikhlas untuk berikan kepada kita atau tingkatkan dalam diri kita. Kedua, kita dapat melakukan yang terbaik untuk mengasosiasikan diri kita dengan orang-orang lain yang kelihatan memiliki iman yang kuat dan sehat. Biar bagaimana pun juga, iman itu bersifat menular. Apabila kita berkontak dengan orang-orang yang dengan penuh kasih dan penuh kepercayaan menaruh iman mereka dalam Tuhan, maka kita lebih berkemungkinan untuk melihat iman-kepercayaan kita sendiri meningkat.

Satu hal lain yang dapat kita lakukan untuk membuat iman yang lebih berani adalah untuk mulai menggunakan iman itu secara begitu! Tidak ada bedanya dengan latihan jasmani: Semakin kita menggunakan otot-otot kita, semakin kuat jadinya kita. Oleh karena itu, kita harus melatih iman kita dalam cara-cara yang lebih besar. Misalnya: Mendoakan peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dalam kehidupan kita tentunya baik dan tidak pernah boleh kita lupakan, namun kita dapat mulai fokus pada isu-isu yang lebih besar,  yang berskala nasional atau bahkan yang berskala global sekali pun. Selain mendoakan para korban “Lumpur Lapindo”, alangkah baiknya bagi kita untuk mendoakan juga saudari dan saudara kita di Sudan, misalnya. Kita harus senantiasa mengingat apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya (termasuk kita para murid pada zaman modern ini) sebelum Ia diangkat ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18). Yesus memiliki otoritas dan kuasa untuk melakukan apa saja, di mana saja dalam alam semesta. Dan kita adalah anggota Gereja semesta yang didirikan oleh-Nya.

Berdasarkan pemikiran seperti itu, pada akhirnya kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita untuk mengenal Yesus secara lebih baik melalui doa dan pembacaan serta permenungan atas sabda-Nya dalam Kitab Suci. Semakin baik kita mengenal Yesus, semakin yakin pula kita bahwa Dia sungguh mengasihi, bijaksana, maharahim, dan berbela-rasa. Kita akan percaya bahwa Dia akan selalu melakukan hal terbaik dalam setiap situasi. Seperi murid yang dikasihi pada Perjamuan Terakhir yang bersender di dekat-Nya (Yoh 13:23), maka kita pun dapat bersender pada Yesus dan memohon dari Dia apa saja yang kita butuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi Engkau. Tingkatkan imanku, ya Tuhan, agar aku lebih berani dan penuh kepercayaan datang kepada-Mu untuk situasi apa pun dalam kehidupanku – atau apa saja di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT” (bacaan tanggal 1-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 28 Juni 2017 [Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements