Archive for July, 2017

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 1 Agustus 2017)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 1-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Jakarta, 31 Juli 2017 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Pendiri Tarekat SJ] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI DIBERIKAN KEPADA KITA PADA SAAT KITA DIBAPTIS

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI DIBERIKAN KEPADA KITA PADA SAAT KITA DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam – Senin, 31 Juli 2017)

Serikat Yesus [SJ]: Hari Raya Ignasius dr Loyola, Imam, Pendiri Tarekat

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya. Untuk memenuhi Mzm 78:2, Yesus berkata, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat 13:35). Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Perwahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu  dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

Yesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “ADONAN RAHMAT” (bacaan tanggal 31-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 28 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA TIDAK PERLU TAKUT

KITA TIDAK PERLU TAKUT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVII [TAHUN A], 30 Juli 2017)

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (Mat 13:44-52) 

Bacaan Pertama: 1Raj 3:5,7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:57,72,76-77,127-130; Bacaan Kedua: Rm 8:28-30

Apakah kematian harus terjadi? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah akan ada suatu penghakiman terakhir, suatu pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:31-46), pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30)? Ya! Semua perumpamaan yang mengacu pada akhir zaman ini sungguh riil dan semua itu menenangkan hati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pikiran tentang akhir zaman itu memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan agar tetap berdiri tegak penuh keyakinan dalam hari penghakiman terakhir.

Kitab Suci tidak bosan-bosannya mengingatkan kita bahwa mereka yang hidup dalam Kristus adalah “ciptaan baru” (2Kor 5:17) dan mereka yang percaya kepada Yesus telah berpindah dari kematian ke kehidupan dan “tidak turut dihukum” (Yoh 5:24). Kebenaran yang membebaskan dari Injil adalah bahwa apabila kita tetap hidup dalam Kristus, kita menjadi “ikan-ikan yang baik”. Dalam Dia kita adalah “domba-domba” dan bukan “kambing-kambing”, “gandum” dan bukan “lalang”.

Apakah keniscayaan akan adanya penghakiman terakhir menakutkan anda? Atau apakah anda menghindarkan diri dari isu atau topik sekitar penghakiman terakhir, dan kemudian menyibukkan diri anda dengan kesibukan sehari-hari? Untuk dua situasi ini, jawabnya terletak pada suatu pernyataan yang lebih dalam dari Yesus. Ia akan menunjukkan kepada anda bahwa anda tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia juga akan menolong anda menempatkan hal-hal dalam  kehidupan anda secara teratur sehingga dengan demikian anda dapat memusatkan perhatian anda pada hari di mana anda akan memandangnya muka ketemu muka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, selagi kita (anda dan saya) datang kepada Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menunjukkan kepada kita betapa berharga harta yang kita miliki dalam Dia, dan Ia pun akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara-cara yang menyenangkan hati-Nya.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa baptisan hanyalah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana hidup “dalam Kristus” setiap hari sehingga dengan demikian apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, kita dapat berpegang pada janji-janji keselamatan-Nya dan tetap yakin bahwa kita ditebus dalam Dia. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sendiri kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Engkau. Usirlah kekhawatiranku tentang kematian dan penghakiman terakhir. Tolonglah aku untuk memusatkan perhatianku pada tujuan untuk memandang Engkau muka ketemu muka dan hadir dalam pesta perjamuan di dalam kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-52), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul  “JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN” (bacaan tanggal 30-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014) 

Cilandak,  28 Juli 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGENAL MARTA, SAUDARI DARI MARIA DAN LAZARUS DARI BETANIA

MENGENAL MARTA, SAUDARI DARI MARIA DAN LAZARUS DARI BETANIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Sabtu, 29 Juli 2017)

Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”  Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8 atau 1Yoh 4:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15 atau Mzm 34:2-9; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42.

Marta dan saudara-saudarinya – Lazarus dan Maria – adalah sahabat-sahabat dekat Yesus dan juga pengikut-Nya. Dalam bahasa Aram “Marta” berarti “nyonya”. Sifat pribadinya memang cocok dengan perannya sebagai nyonya, karena Marta menyambut Yesus ke dalam rumahnya (Luk 10:38-42), jelas sebagai sang kepala rumah tangga. Lukas menggambarkan Marta sebagai seorang yang sibuk melayani dalam rumah, barangkali dalam mempersiapkan makanan dan minuman dan melihat apa yang dibutuhkan oleh para tamunya.

Bacaan Injil hari ini berlatar-belakang kematian Lazarus. Yohanes menggambarkan Marta pergi mendapatkan Yesus dan menyapa-Nya dengan suatu pernyataan iman (Yoh 11:21-22). Di sini tidak ada kata-kata “menegur” Yesus seperti yang diucapkan kepada-Nya sebelumnya (lihat Luk 10:38-42). Yang ada hanyalah penerimaan kenyataan akan ketidak-hadiran-Nya ditambah dengan suatu kepercayaan akan kuat-kuasa-Nya. Di sini Yohanes Penginjil menggambarkan seorang perempuan yang sudah lebih matang/dewasa dalam imannya ketimbang yang digambarkan oleh Lukas dalam Luk 10:38-42. Yesus telah mengajarkan kepada Marta tentang pentingnya berupaya mengenal hal-hal surgawi.

Marta telah sampai kepada pemahaman bahwa Yesus mempunyai suatu relasi istimewa dengan Bapa-Nya di surga. Yesus mencoba untuk mengembangkan iman-kepercayaan perempuan ini dengan berkata: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23). Marta mengetahui tentang hal kebangkitan dari kepercayaan yang meluas di antara orang-orang Yahudi saleh pada zaman itu bahwa akan ada suatu kebangkitan pada akhir zaman: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman”  (Yoh 11:24). Namun Yesus menanggapi ucapan Marta tersebut dengan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup, siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26). Mendengar kata-kata Yesus itu, Marta membuat suatu lompatan iman yang besar dengan mengatakan: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).

Kiranya inilah pesan bagi kita pada hari ini. Apabila kita duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan belajar dari diri-Nya, iman kita akan bertumbuh selagi Dia mengajar kita jalan-jalan-Nya. Waktu yang kita luangkan bersama Yesus dalam doa, pembacaan dan permenungan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan Ekaristi akan menolong memperdalam iman-kepercayaan kita selagi kita diajar oleh Yesus dan menyimpan sabda-Nya dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap Engkau dan duduk bersimpuh di dekat kaki-Mu untuk mendapat pengajaran dari-Mu. Semoga kami semua terbuka bagi sabda-Mu yang disampaikan kepada kami dalam doa-doa kami, selagi kami membaca dan merenungkan sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan dalam Ekaristi. Tolonglah kami agar dapat merangkul ajaran-Mu sehingga dengan demikian kami dapat percaya bahwa Engkau adalah sungguh kebangkitan dan hidup. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:19-27), bacalah tulisan yang berjudul “MARTA DARI BETANIA PERCAYA” (bacaan tanggal 29-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 27 Juli 2017 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARYA TRANSFORMASI DARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA

KARYA TRANSFORMASI DARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 28 Juli 2017)

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Kel 20:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Bayangkanlah orang banyak yang berkumpul di tepi danau untuk mendengarkan Yesus berkhotbah. Begitu banyak orang-orang itu sehingga Dia naik ke perahu dan duduk di situ untuk berkhotbah kepada mereka tentang Kerajaan Allah.  (lihat Mat 13:1-2). Yesus mulai dengan “perumpamaan tentang seorang penabur” (Mat 13:3-9).

Yesus ingin agar orang banyak itu menyadari, bahwa dalam diri-Nya, Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah mereka. Dalam perumpamaan ini, benih yang ditabur adalah sabda (logos) Kerajaan. Yesus sendiri adalah sang logos (Sabda, Firman; Yoh 1:1) yang masuk ke tengah dunia menyatakan kepada umat manusia hidup Allah sendiri. Dengan kedatangan Yesus, maka Kerajaan Allah dimajukan dalam dunia kita yang terbatas ini. Akan tetapi, selagi Kerajaan ini melangkah maju, si Jahat berupaya untuk menghalang-halangi kemajuannya.

Perumpamaan Yesus ini membedakan tiga jenis rintangan yang dapat terjadi dalam kehidupan pendengar. Yang pertama adalah ketiadaan pemahaman yang menghalangi kemampuan kita untuk melihat dan menerima kebenaran Allah: “datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan” (Mat 13:19). Yang kedua adalah kesusahan dan penganiayaan yang menantang kedalaman komitmen dari para pendengar terhadap Kerajaan Allah. Sukacita awal terkait dengan kehadiran Allah dalam diri para pendengar ditantang oleh berbagai kesulitan dan pengejaran serta penganiayaan (Mat 13:20-21). Akhirnya, yang ketiga adalah urusan duniawi dan daya tarik kekayaan juga dapat menghambat gerak-maju dari Kerajaan Allah. Sifat mutlak dan tanpa reserve dari komitmen iman kita dapat dibuat menjadi kabur dengan mencoba untuk mengambil “yang terbaik dari dua dunia”, yaitu mengkombinasikan iman akan Kristus dengan kerinduan akan barang-barang duniawi (Mat 13:22).

Akan tetapi, terobosan Kerajaan Allah berarti bahwa Yesus telah menang atas si Jahat yang memang selalu ingin merusak kemajuan kerajaan Allah. Kita semua sebenarnya dapat menjadi “tanah yang baik”, mendengar dan memahami sabda Kerajaan dan menghasilkan buah bagi Allah, bekerja untuk memajukan Kerajaan-Nya dalam hidup dan dalam “dunia” kita. Karya yang mentransformasikan dari kematian dan kebangkitan Yesus begitu mentransformasikan dunia sehingga benih yang ditaburkan dapat menghasilkan buah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Mat 13:23).

DOA: Bapa surgawi, kami sungguh tidak ingin memperkenankan adanya rintangan terhadap gerak-maju Kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat memberi tanggapan positif terhadap undangan Yesus dengan penuh pengertian dan ketaatan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 28-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-7-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 26 Juli 2017 [Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HUKUM KEHIDUPAN YANG KERAS

HUKUM KEHIDUPAN YANG KERAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 27 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II – Ordo Santa Klara) 

Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Kel 19:1-2,9-11,16-20b; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-54,56 

“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya.” (Mat 13:12)

Secara sekilas lintas ayat ini terdengar sangat kejam; namun secara sederhana sebenarnya menyatakan sebuah kebenaran yang merupakan suatu hukum kehidupan yang tidak dapat dihindari.

Dalam setiap lapisan kehidupan, sesuatu yang lebih diberikan kepada orang yang mempunyai, dan yang dipunyainya diambil dari orang yang tidak mempunyai. Dalam hal beasiswa, seorang mahasiswa yang bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan menjadi mampu untuk memperoleh lebih banyak lagi pengetahuan. Kepadanyalah diberikan kesempat untuk research, mata-mata kuliah tingkat lanjut; hal itu sedemikian karena lewat kerajinannya dan kesetiaannya dia telah membuat dirinya cocok dan pantas untuk menerima semua itu. Di sisi lain, mahasiswa yang malas dan menolak untuk bekerja pada akhirnya akan mengalami kehilangan, bahkan pengetahuaan yang dimilikinya.

Misalnya, banyak orang kehilangan kemampuannya untuk menguasai bahasa asing yang dipelajari mereka pada masa sekolah dulu. Saya sendiri mengalaminya dalam hal bahasa Jerman, padahal angka ujian akhir/negeri SMA saya untuk bahasa Jerman jauh lebih baik ketimbang bahasa Inggris. Mengapa? Karena mereka (termasuk saya) tidak pernah berupaya untuk mengembangkan dan menggunakan bahasa-bahasa asing tersebut. Dalam hal kemampuan berbahasa asing dan berbagai keahlian lainnya, seorang pribadi yang rajin dan suka bekerja keras dan cerdas berada dalam posisi untuk diberikan lebih dan lebih lagi, sedangkan seorang malas dapat saja kehilangan apa yang telah dimilikinya selama ini. Setiap pemberian/anugerah itu dapat dikembangkan, dan karena tidak ada yang tetap sama dalam kehidupan ini, maka jika suatu pemberian/anugerah/talenta tidak dikembangkan atau dilipatgandakan, maka ujung-ujungnya akan hilang, … “gone with the wind”.

Demikianlah halnya dengan kebaikan. Setiap godaan yang berhasil kita patahkan membuat diri kita mampu untuk mengatasi godaan berikutnya, dan setiap godaan yang membuat kita jatuh akan membuat kita kurang mampu untuk tegak menghadapi serangan berikutnya. Setiap pekerjaan baik yang kita lakukan, setiap tindakan penuh disiplin-diri, juga pelayanan kita; ini semua membuat kita lebih mampu untuk tahapan berikutnya. Sebaliknya, setiap kali kita gagal untuk menggunakan kesempatan sedemikian membuat kita kurang mampu untuk menggunakan kesempatan berikutnya ketika kesempatan itu datang.

Kehidupan selalu merupakan sebuah proses untuk memperoleh lebih atau kehilangan lebih. Yesus telah mengungkapkan kebenaran bahwa semakin dekat seseorang hidup dengan-Nya, maka semakin dekat pula orang itu akan bertumbuh dengan ideal Kristiani. Sebaliknya semakin jauh seseorang dari Kristus, maka semakin kurang mampu pula bagi dirinya untuk mencapai kebaikan; karena kelemahan, seperti juga kekuatan, adalah sesuatu yang sifatnya meningkat.

Catatan: Uraian di atas merupakan adaptasi dari William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE, The Gospel of Matthew, Volume 2 Chapter 11-28, hal. 66-67).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku ingin membuat tanggapan terhadap rahmat yang Dikau tawarkan kepadaku sekarang. Ampunilah aku karena terkadang aku tidak membuka pintu hatiku dan mencoba untuk menjauh dari diri-Mu.  Ya Tuhan dan Allahku, aku telah berketetapan hati untuk selalu terbuka bagi kehendak-Mu atas kehidupanku, sekarang dan selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS TERUS SAJA MENGETUK HATI KITA” (bacaan tanggal 27-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Cilandak, 25 Juli 2017 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria Rabu, 26 Juli 2017)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetapi tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini, tanggal 26 Juli, Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini, namun banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan mereka dan bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang satu hari kelak dipilih untuk menjadi Ibunda Putera Allah. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan di awal abad kedua dan telah banyak digambarkan dalam karya seni abad pertengahan. Gereja memilih bacaan pertama hari ini dari Kitab Yesus bin Sirakh guna menyampaikan pujian dan hormat yang memang pantas diberikan kepada kedua orangtua saleh seperti Yoakim dan Anna yang kita sedang peringati.

Kedua orangtua Maria ini memiliki rasa tanggungjawab yang mendalam untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – yang telah memanggil mereka menjadi orangtua – , bahwa Dia akan memberikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah dari ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia diberitahukan oleh malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:35,38).

Kehidupan orangtua harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan mind set melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual di mana seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajar anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.

Para orangtua yang dikuduskan dan saleh akan memperoleh pujian (lihat Sir 44:1); keturunan mereka akan mewarisi kebenaran mereka dan tetap setia kepada Allah karena teladan baik mereka (Sir 44:11); dan keturunan mereka akan tetapi tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus  (Sir 44:13) dan gereja di atas bumi akan menghormati mereka (Sir 44:14).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orangtua agar supaya mereka dapat terbuka bagi rahmat yang Kauberikan untuk mengurus keluarga mereka bagi-Mu. Berikanlah kepada kami segala rahmat untuk menguduskan diri kami bagi-Mu dalam peranan apapun yang Kauberikan kepada kami dalam kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS