KOMITMEN YANG BERSIFAT TOTAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [TAHUN A], 2 Juli 2017) 

“Siapa saja yang mengasihi bapa dan ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankaan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyabut seorang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.” (Mat 10:37-42) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:8-11,14-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,16-19; Bacaan Kedua: Rm 6:3-4,8-11 

Ada 3  (tiga) ayat (Mat 10:34-36) yang tidak merupakan bacaan Injil hari ini, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari bacaan Injil hari ini. Oleh karena itu saya akan menyinggung juga 3 ayat ini dalam tulisan ini.

Memang kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil ini cukup mengejutkan (atau sangat mengejutkan?). Yesus berkata bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan perpecahan. Raja Damai mengatakan bahwa dia datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya (lihat Mat 10:34-36). Sungguh aneh. Sungguh, hampir tidak dapat dipercaya bahwa semua kata itu ke luar dari mulut Yesus sendiri. Memang kita dapat maklumi, jika seseorang sudah all out dalam mengikuti jejak Kristus, namun anggota keluarganya yang lain tidak begitu, hal itu bukanlah salah Kristus.

Yesus menuntut dari kita masing-masing suatu komitmen total: Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Yesus, maka ia tidak layak bagi Yesus dst. Seseorang yang hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri hanya akan menggiring dirinya kepada kematian. Sebaliknya, siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Yesus, maka dia akan memperolehnya (lihat Mat 10:37,39). Yesus membuat jelas bahwa orang yang mencari-selamat sendiri bukanlah tipe orang yang layak sebagai pengikut-Nya.

Kata-kata Yesus tentang mengikut Dia dan hubungannya dengan salib di atas sangatlah jelas. Yesus tidak menawarkan kekayaan duniawi, Dia menawarkan salib. Rakyat penduduk Galilea pada zaman Yesus tahu betul macam apa salib itu. Pada waktu jendral Romawi, Varus, telah menumpas  pemberontakan yang dipimpin oleh Yudas dari Galilea, dia memerintahkan pasukannya untuk menyalibkan 2.000 orang Yahudi, dan menegakkan orang-orang yang tersalib di sepanjang jalan menuju Galilea. Pada zaman kuno seorang penjahat memanggul sendiri salibnya ke tempat penyaliban dan orang-orang yang sedang mendengarkan Yesus berkhotbah telah melihat sendiri bagaimana para “penjahat” itu menderita ketika memanggul kayu salib mereka, juga betapa mendalam penderitaan mereka ketika menghadapi ajal di atas kayu salib.

Begitu banyak orang sepanjang sejarah Gereja/Kekristenan yang telah mengorbankan hidup mereka demi Kristus yang dipercayai oleh mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Tanggal 22 Juni lalu kita baru saja memperingati S. Thomas More [1480-1535], seorang pejabat tinggi Kerajaan Inggris  anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus yang rela dipancung karena kesetiaannya kepada Kristus Sang Raja sejati. Tanggal 30 Juni kemarin kita juga memperingati seorang martir Kristus lainnya, B. Raymundus Lullus [1236-1314], seorang turunan bangsawan yang juga seorang anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus. Orang kudus itu dilempari batu oleh ketika melakukan tugas pelayanan misionernya di Bougie, Afrika Utara. Beliau menghembuskan napasnya yang terakhir dalam perjalanan pulang dengan kapal laut, ketika tiba di dekat Mallorca. Ini adalah dua contoh tentang apa artinya memanggul salib dan mengikut Yesus, …… kehilangan nyawa demi/karena Yesus.

Seorang Kristiani (pengikut/murid Kristus) mungkin harus mengorbankan ambisi-ambisi pribadinya, kemudahan dan kenyamanan yang mungkin dapat dinikmatinya, karir yang mungkin dapat dicapainya, harus mengesampingkan mimpi-mimpinya karena disadarkan bahwa semua itu bukanlah untuk dirinya. Yang pasti adalah bahwa dia harus mengorbankan kehendaknya, karena tidak seorang Kristiani pun dapat melakukan apa yang dikehendakinya, tetapi apa yang dikehendaki oleh Yesus Kristus. Dalam Kekristenan (Kristianitas) salib selalu hadir, karena Kristianitas memang sejatinya adalah agama salib.

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas menunjukkan bahwa Dia tidak menginginkan ada orang memelintir ajaran-Nya tentang kasih. Yesus memperhadapkan orang-orang dengan pilihan-pilihan yang jelas: untuk Dia atau melawan Dia. Jadi jelaslah bahwa ikatan keluarga bukanlah alasan untuk tidak mengikut Yesus.

Sekarang pertanyaannya: Apakah kita sungguh-sungguh orang Kristiani yang otentik? Pahamkah kita bahwa ajaran Yesus tentang kasih dapat menyebabkan terjadinya perpecahan di antara teman-teman terdekat. Apakah kita cukup berani untuk menghadapi orang-orang lain dan membawa pesan Injil kepada mereka? Apakah kita mau menjalani kehidupan ini sedemikian rupa sehingga dapat bertentangan dengan pandangan orang-orang yang kita kasihi? Kristianitas bukanlah diperuntukkan bagi orang yang suka menghindari tugas. Kristianitas menuntut komitmen, menuntut pelayanan, pelayanan yang murah hati, bagi sesama manusia, teristimewa mereka miskin dan tertindas.

Namun demikian, di sini juga terletak ganjarannya, penemuan diri kita yang sejati. Hal ini dikatakan oleh Yesus sendiri: “Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mat 10:42; bdk. Mrk 9:41).

DOA: Ingatlah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Mazmur Daud 16:1-2). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 6:3-4,8-11), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MATI TERHADAP DOSA, TETAPI KAMU HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS” (bacaan tanggal 2-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Cilandak, 29 Juni 2017 [HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements