RASA TAKUT DAN KURANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 4 Juli 2017) 

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Kej 19:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 26:2-3,9-12

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu takut?” (Mat 8:26), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka.  Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBENTAK DAN ANGIN DAN DANAU ITU” (bacaan tanggal 24-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 1 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements