CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 12 Juli 2017)

Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Kej 41:55-57; 42:5-7a,17-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,10-11,18-19

Bacaan Injil hari ini adalah tentang panggilan dan perutusan para rasul Yesus yang berjumlah 12 (dua belas) orang itu, namun saya akan menyoroti dua orang saja, yaitu Yudas Iskariot dan Simon Petrus.

Setiap kali Kitab Suci menyajikan daftar para rasul, maka Simon Petrus selalu disebut pertama, sedangkan Yudas Iskariot disebut terakhir dengan ditambah embel-embel “yang mengkhianati Dia” atau “yang kemudian menjadi pengkhianat” (lihat Mat 10:4; bdk. Mrk 3:19; Luk 6:16). Bayangkanlah bagaimana jadinya seorang pribadi manusia jika sepanjang masa dirinya dikenal seorang rasul-pengkhianat.

Kesalahan apa yang mungkin telah terjadi? Biar bagaimana pun juga Yudas Iskariot adalah salah seorang yang diutus oleh Yesus dan telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar besar dan menakjubkan sesuai perintah dari Yesus sendiri. Yudas Iskariot telah melihat dan mendengar sendiri segala hal yang dilihat dan didengar oleh sebelas murid lainnya. Lagipula, Yudas Iskariot bukanlah satu-satunya rasul Yesus yang telah berdosa.

Semua rasul Yesus yang tinggal berjumlah sebelas orang ini melarikan diri ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani. Kita juga tahu bagaimana Simon Petrus menyangkal sampai tiga kali bahwa dia mengenal Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah: Mengapa Petrus maju terus sampai dia dipercaya oleh Yesus untuk memimpin keseluruhan Gereja, sedangkan Yudas Iskariot pada akhirnya menggantung dirinya sendiri? Sebagian dari jawabannya datang dari cara Petrus menanggapi dosanya apabila dibandingkan dengan cara Yudas Iskariot menanggapi dosanya. Pada waktu Roh Kudus menunjukkan kepada Petrus kesalahan apa saja yang telah dilakukannya, maka jiwa Petrus menjadi hancur dan hatinya patah dan remuk (lihat Mzm 51:19), dan ia pun menangis penuh dengan air mata pertobatan. Selagi dia berdoa memohon belas kasih Allah, Petrus mulai memahami bahwa begitu mendalam Yesus mengasihi dirinya dan Yesus pun telah mengampuninya.

Sebaliknyalah yang terjadi dengan Yudas Iskariot. Ketika rasul ini menyadari bahwa dia telah mengkhianati seorang yang tidak bersalah, dia tidak dapat melupakan rasa bersalahnya dan kebenciannya pada dirinya sendiri agar dapat merangkul belas kasih Allah. Yudas Iskariot tidak percaya bahwa Allah akan pernah dapat mengampuni dirinya. Dia tidak dapat mengatasi serangan gencar dari rasa bersalahnya yang digunakan Iblis untuk menggodanya agar supaya akhirnya berputus-asa.

Apakah pelajarannya bagi kita semua? Kesadaran bahwa kita semua adalah para pendosa. Kitaa semua telah mengkhianati Tuhan sekian kali dalam hidup kita. Namun rahasianya adalah untuk mampu mengakui dosa kita ketika Roh Kudus memancarkan terang-Nya atas dosa itu dan mendorong kita untuk menyesali serta memohon pengampunan Allah dalam pertobatan. Sekali kita kita mengakukan dosa kita, kita pun diampuni, betapa besar pun dosa kita. Pada kenyataannya tidak ada dalam segenap ciptaan-Nya yang begitu besar atau begitu menakutkan yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang tanpa syarat dan belas kasih-Nya yang melimpah-limpah.

Tidak ada gunanya bagi kita untuk menunda-nunda, atau membiarkan rasa bersalah atau rasa malu kita menjadi berlarut-larut. Tentu kita juga tidak boleh berputus-asa. Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita, dan bagaimana pun juga Dia mengasihi kita. Allah yang kita sembah adalah “seorang” Pribadi yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahapengampun, …… Mahalain, sehingga tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku merasa takjub ketika menyadari bahwa Engkau masih dapat mengasihi diriku. Walaupun aku lemah dan penuh dosa, Engkau telah berbelaskasih dan baik hati terhadapku. Pancarkanlah terang Roh Kudus-Mu atas area-area dalam diriku di mana aku sungguh membutuhkan belas kasih-Mu. Biarlah rasa penyesalanku yang benar di hadapan-Mu menghidupkan aku kembali, sehingga dengan demikian aku dapat melanjutkan hidupku sebagai sebagai murid Yesus Kristus yang setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL” (bacaan tanggal 12-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Cilandak, 9 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements