ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu, 19 Juli 2017)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Yesus ditolak oleh banyak orang sezaman-Nya. Orang-orang di kota-kota di mana Ia membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya menolak untuk mengubah diri, dan banyak dari mereka malah mengambil sikap bermusuhan terhadap diri-Nya (Mat 11:16-24). Para pemimpin Yahudi mencoba untuk mendiskreditkan diri-Nya di depan publik dan bahkan membuat rencana jahat untuk membunuh-Nya (Mat 12:3,14).

Walaupun Yesus menghadapi banyak rintangan, Ia masih mampu bersyukur kepada Bapa-Nya karena kehendak Allah sedang dalam proses pemenuhan (Mat 11:25-26). Yesus mengetahui bahwa Allah masih memegang kendali atas segala hal dan apa pun perlawanan yang ada terhadap-Nya, Kerajaan Allah akan tetap didirikan di atas bumi. Persoalannya adalah dalam hati orang-orang yang menolak Dia.

Kita menghadapi suatu situasi yang serupa pada hari ini, dan bagaimana kita tergantung pada sikap hati kita terhadap Yesus. Allah ingin menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada kita, namun suatu disposisi batin tertentu tetap dibutuhkan dari pihak kita untuk menerima pesan-Nya. Kontrol Yesus atas orang yang mengenal Bapa (Mat 11:27) tidak membatasi kebebasan kita memilih untuk percaya atau tidak percaya, Ia tidak menghalangi kemampuan kita untuk memahami kebenaran Allah, dan Ia juga tidak membebaskan kita dari tanggungjawab kita untuk taat kepada-Nya. Allah adalah sosok orangtua yang melakukan apa saja guna menyiapkan anak-anak-Nya untuk menjadi orang dewasa, namun akhirnya tergantung pada anak-anak-Nya sendiri bagaimana mereka akan hidup.

Orang-orang yang “percaya-diri” seringkali terjerat oleh hikmat dan pengetahuan mereka sendiri. Allah tidak dapat dipahami berdasarkan ukuran-ukuran manusia. Kita hanya dapat sampai ke titik pengenalan akan Allah apabila kita membuang segala preconceived ideas tentang Dia. “Orang kecil” yang menerima perwahyuan (pernyataan diri)  Allah (Mat 11:25) adalah mereka yang menaruh kepercayaan pada-Nya dalam setiap situasi dan terbuka bagi sabda-Nya. Hal ini tidak berarti mengabaikan dan/atau mematikan kekuatan kita untuk berpikir. Hal ini berarti percaya kepada Allah yang benar terhadap sabda-Nya, bersikap reseptif terhadap-Nya, dan membuat tanggapan sesuai kemampuan kita yang terbaik.

Kita harus memperkenankan diri kita diajar oleh sabda Allah seperti dapat ditemukan dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja, mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan artinya kepada kita. Secara bertahap kita akan mengembangkan suatu pikiran spiritual yang menghargai kebenaran-kebenaran Allah dan terbuka bagi kuasa yang bersifat transformatif dari kasih pribadi Allah bagi kita. Tujuannya bukanlah semata-semata pengetahuan kita secara intelektual, melainkan menemukan keutuhan dalam Kristus dalam tubuh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, engkau memiliki otoritas penuh atas segala hal. Ajarlah aku untuk menyingkirkan segala sesuatu yang bukan dari-Mu dan oleh rahmat-Mu bukalah pikiranku bagi kepenuhan kebenaran-Mu yang mulia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA” (bacaan tanggal 19-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 17 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements