YESUS MENGUNDANG KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 20 Juli 2017) 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Kel 3:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1,5,8-9,24-27 

“Marilah kepada-Ku ……” (Mat 11:28). Walaupun ditolak oleh orang-orang kampung-Nya sendiri dan beberapa tempat lainnya, seperti Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (Mat 11:21-23), Yesus tetap menyampaikan undangan besar-Nya kepada semua orang dari setiap bangsa dan generasi. Yesus menginginkan agar semua orang datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya bagaimana  menghayati kehidupan di dunia. Dia ingin memberikan kepada kita suatu visi yang akan memampukan kita mencintai surga dan memusatkan perhatian kita pada surga itu, seperti halnya para peziarah dalam suatu perjalanan ziarah.

Dalam perjalanan ini kita seringkali menjadi letih-lesu dari segala pencobaan yang kita hadapi. Lagipula hidup ini kelihatannya membuat kita berbeban berat. Kadang-kadang perasaan ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sendiri atau langkah-langkah yang telah kita ambil sendiri, yang menjauhkan kita dari Allah. Pada kesempatan lain, kita dihadapkan dengan sakit-penyakit dan kesulitan-kesulitan yang kita sendiri tentunya tidak akan pilih. Apa pun kasusnya, Yesus mengundang kita untuk dipasangkan kuk/gandar bersama-Nya dan belajar dari sang Guru. Dengan demikian barulah kita akan menemukan kelegaan.

Sekali kita mengambil langkah yang menentukan ini, maka kita akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dari sang “Raja Damai” (Yes 9:5). Dipersatukan dengan Yesus, kita akan siap untuk belajar dari Dia. Apabila beban-berat yang kita tanggung itu disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri, Dia akan mengajar kita bagaimana memilih jalan yang baru. Apabila beban-berat itu disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kontrol atau kekuasaan kita, maka Dia akan memberikan kepada kita pengharapan akan suatu realitas di mana tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan. Sebagaimana Yesus menyerahkan hidup-Nya dan kehendak-Nya kepada Bapa surgawi dan dipersatukan dengan diri-Nya, maka kita yang telah dipasangkan kuk/gandar bersama Yesus akan mengenal dan mengalami kesatuan dan damai-sejahtera yang datang dari hal tersebut.

Bilamana kita mengambil keputusan untuk menyerahkan segala cara/jalan kita dan belajar dari Yesus, maka walaupun kita masih menanggung beban, kita akan disegarkan kembali karena kita menerima kehidupan. Kehidupan yang kita terima seringkali mencakup kesembuhan dan pelepasan/pembebasan yang merupakan sebuah tanda kepenuhan final keselamatan. Memandang kehidupan kita dalam terang kasih Allah membangun hasrat dalam diri kita untuk bersatu dengan-Nya. Kuk/gandar Yesus itu ringan-menyenangkan …… karena Yesus memikul bebannya bersama kita.

DOA: Yesus, Engkaulah Kyrios yang berdaulat atas segenap alam ciptaan (Flp 2:9-11), namun demikian Engkau lemah lembut dan rendah hati. Engkau telah mengutus Roh-Mu sendiri untuk berdiam dalam diriku, dan Engkau ingin menyatakan Bapa surgawi kepadaku. Tuhan Yesus, lindungilah diriku dari kekacauan pikiranku sendiri yang timbul karena aku –  dalam kesombonganku – mencari jawaban-jawaban untuk kehidupanku tanpa mengindahkan Engkau. Lindungilah aku, ya Tuhan, dari domain pengaturan diri-sendiri. Sebaliknya, tempatkanlah diriku di bawah pemerintahan-Mu, ke mana Engkau telah memberi isyarat kepadaku untuk datang. Pasanglah kuk/gandar atas diriku, agar aku dapat memikulnya bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN” (bacaan tanggal 20-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Juli 2017 [Hari Raya S. Odilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements