KEDUA ORANGTUA SP MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria Rabu, 26 Juli 2017)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetapi tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini, tanggal 26 Juli, Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini, namun banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan mereka dan bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang satu hari kelak dipilih untuk menjadi Ibunda Putera Allah. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan di awal abad kedua dan telah banyak digambarkan dalam karya seni abad pertengahan. Gereja memilih bacaan pertama hari ini dari Kitab Yesus bin Sirakh guna menyampaikan pujian dan hormat yang memang pantas diberikan kepada kedua orangtua saleh seperti Yoakim dan Anna yang kita sedang peringati.

Kedua orangtua Maria ini memiliki rasa tanggungjawab yang mendalam untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – yang telah memanggil mereka menjadi orangtua – , bahwa Dia akan memberikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah dari ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia diberitahukan oleh malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:35,38).

Kehidupan orangtua harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan mind set melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual di mana seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajar anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.

Para orangtua yang dikuduskan dan saleh akan memperoleh pujian (lihat Sir 44:1); keturunan mereka akan mewarisi kebenaran mereka dan tetap setia kepada Allah karena teladan baik mereka (Sir 44:11); dan keturunan mereka akan tetapi tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus  (Sir 44:13) dan gereja di atas bumi akan menghormati mereka (Sir 44:14).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orangtua agar supaya mereka dapat terbuka bagi rahmat yang Kauberikan untuk mengurus keluarga mereka bagi-Mu. Berikanlah kepada kami segala rahmat untuk menguduskan diri kami bagi-Mu dalam peranan apapun yang Kauberikan kepada kami dalam kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements