PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 1 Agustus 2017)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Dalam pelayanan-Nya di tengah masyarakat, Yesus menyerang ekslusivitas yang ditemukan-Nya dalam masyarakat Yahudi, dipromosikan teristimewa oleh orang-orang Farisi, namun dipraktekkan juga oleh kelompok-kelompok lainnya.

Yesus membentuk komunitas-Nya yang terdiri dari para pemungut cukai/pajak, para pendosa, dan juga orang-orang terhormat dalam masyarakat. Praktek ini pada gilirannya berlaku dalam Gereja setelah kebangkitan Kristus, yang sekarang merupakan campuran tidak hanya antara orang-orang yang berbeda-beda kelas sosial melainkan juga antara para kudus dan para pendosa, antara mereka yang terus mencoba untuk hidup seturut ekspektasi Yesus yang tinggi dan orang-orang tidak/kurang peduli terhadap ekspektasi Yesus. Kecenderungan dari orang-orang yang disebutkan belakangan adalah santai dan ikut-angin, sementara orang-orang yang disebutkan duluan dapat menjadi tidak sabar dan ingin melakukan upaya bersih-bersih secepatnya.

Perumpamaan ini seperti sebatang pedang yang bermata dua. Bagi mereka yang santai-malas ada penghakiman yang tidak dapat ditawar-tawar. Bagi mereka yang tergesa-gesa ingin berbenah, perumpamaan ini menganjurkan adanya kesabaran, karena waktu itu sendiri adalah rahmat, dan apa yang dinilai sebagai ilalang pada saat itu dapat saja pada akhirnya sebenarnya adalah gandum, atau sebaliknya.

Seandainya Augustinus dari Hippo dan Charles de Foucauld dihakimi atas dasar peri kehidupan mereka semasa muda, maka mereka tidak pernah akan menjadi orang-orang kudus Gereja. Hal ini bukan berarti bahwa sebuah komunitas tidak berhak untuk menetapkan standar-standar keanggotaan tertentu. Namun memang ada suatu semangat yang tidak sabar untuk mencapai kesempurnaan, hal mana kurang serasi dengan belas kasih dan kesabaran yang ditunjukkan Bapa surgawi (lihat “Perumpamaan tentang anak yang hilang” [Luk 15:11-32]).

Penjelasan atas perumpamaan di atas terdapat dalam Mat 13:36-43, bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini. Di dalam penjelasan ini dilakukan alegori dari unsur-unsurnya dan memperluas ajarannya. Ladang bukan Gereja, melainkan dunia. Pemisahan antara orang-orang yang diselamatkan dan tidak bukanlah antara anggota Jemaat/Gereja dan mereka yang berada di luar Gereja, karena ada orang yang berada di luar Gereja yang akan diselamatkan dan ada yang sekarang berada di dalam Gereja namun tidak diselamatkan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21; lihat juga 7:22).

(Adaptasi dari George T. Montague, SM, COMPANION GOD – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew, hal. 157-158)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami, dan Engkau adalah Guru Agung kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu pada hari ini, teristimewa untuk penjelasan yang Kauberikan atas “Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum”. Karena belas kasih dan kesabaran-Mu, banyak dari kami yang sebenarnya masih termasuk kategori “lalang” diberi kesempatan untuk pada akhirnya menjadi gandum. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 1-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Jakarta, 31 Juli 2017 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Pendiri Tarekat SJ] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements