Archive for August, 2017

PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 1 September 2017) 

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12  

Perumpamaan tentang sepuluh gadis (lima orang bijaksana dan lima orang bodoh) ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini menekankan lagi pentingnya sikap berjaga-jaga atau kesiap-siagaan dalam masa yang penuh dengan ketidakpastian sebelum kedatangan akhir zaman (bdk. Mat 24:37-44). Dalam merenungkan perumpamaan ini sangatlah baik  bagi kita untuk tidak terjebak dalam mencoba mengartikan arti simbolis yang mendetil dari hal-hal yang ada dalam perumpamaan ini, misalnya “apa arti dari 10 gadis”, mengapa tidak “20 gadis”? Apa signifikansi dari minyak dalam perumpamaan ini? Dst. Yang penting adalah menangkap pesan keseluruhan dari perumpamaan itu.

Kesepuluh gadis itu adalah para pendamping pengantin yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai laki-laki di rumah keluarga bapak mertuanya. Sangat realistis dan sungguh membumi, karena praktek ini masih dapat diketemukan pada zaman modern ini. Di rumah itulah akan diselenggarakan pesta perjamuan kawin. Para gadis itu akan menjadi bagian dari rombongan mempelai laki dan ikut serta dalam pesta. Lima orang dari mereka tidak membawa minyak dalam jumlah yang cukup untuk pelita atau “obor” yang digunakan dalam prosesi. Tidak adanya persiapan pada akhirnya menyebabkan mereka  tidak dapat mengikuti acara pesta. Inilah “nasib” mereka yang tidak siap! Tragis!

Seperti juga perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mempunyai makna langsung dan bersifat lokal, di sisi lain juga memiliki arti yang lebih luas dan universal. Signifikansinya yang langsung terarah pada orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat terpilih; keseluruhan sejarah mereka seyogianya merupakan suatu persiapan bagi kedatangan Putera Allah; mereka harus dalam kesiapsiagaan guna menyambut diri-Nya apabila Dia datang. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang Israel tidak siap menyambut-Nya. Inilah kiranya tragedi yang dialami orang-orang Yahudi karena ketidaksiapan mereka.

Sudah lama dalam Perjanjian Lama hubungan antara TUHAN (YHWH) dan Israel digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Kasih YHWH terhadap Israel sebagai mempelai perempuan-Nya dan kasih Israel terhadap YHWH dapat kita jumpai dalam “Kidung Agung”. Yehezkiel menyatakan yang sama, ketika dia menyebut kemurtadan Yerusalem sebagai zinah (baca Yeh 16:1-63). Ketika pemazmur dalam Mzm 45 melambungkan lagu bagi Raja dan Ratu, maka orang-orang memahami bahwa yang dimaksudkan di situ adalah YHWH dan umat-Nya.

Namun demikian, semua itu hanyalah persiapan belaka. Pada kedatangan Yesus Kristus, Israel baru saja memasuki suatu hubungan perkawinan Perjanjian Baru. Kristus adalah sang Mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai sahabat Mempelai laki-laki (Yoh 3:29). Namun sekarang ini masih merupakan pertunangan. Apabila Kristus datang kembali pada akhir zaman (parousia), Ia akan menjemput mempelai perempuan-Nya dan akan mulailah pesta perkawinan yang sesungguhnya. Itulah kiranya mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang perjamuan nikah surgawi. Itulah pula sebabnya, mengapa Kitab Wahyu juga menyebut peristiwa yang menyusul akhir zaman sebagai “Perjamuan kawin Anak Domba (baca: Why 19:6-10). Gereja yang telah dibersihkan dan dikuduskan akan berhias untuk menyambut kedatangan sang Mempelai laki-laki. Beberapa kali Santo Paulus menulis mengenai gagasan tersebut. Baginya pertunangan serta perkawinan insani hanyalah gambaran samar-samar saja dari pertunangan serta perkawinan antara Kristus dan Gereja-Nya. Gagasan itu dapat kita jumpai misalnya dalam Surat kepada jemaat di Efesus (lihat Ef 5:22-33).

Kesiapsiagaan adalah yang pertama dan utama. Orang-orang di rumah keluarga mempelai perempuan, termasuk ke sepuluh gadis itu tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang, namun tidak seorangpun tahu jam berapa tepatnya sang mempelai laki akan tiba. Demikian pula manusia tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang menjemputnya pada saat kematian. Manusia juga tidak tahu kepada Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput Gereja dan menjadikannya Gereja yang Berjajya. Namun, karena seluruh pikiran dan perbuatan ditujukan pada saat yang didamba-dambakan kedatangannya itu, maka masuk akallah  apabila dibutuhkan kesiapsiagaan dalam artiannya yang paling serius. Pelita (atau obor) saja tidak cukup, persediaan minyak juga harus selalu mencukupi. Jadi, secara lahiriah seseorang masuk menjadi anggota Gereja belumlah cukup, karena harus pula ada padanya iman yang hidup, rahmat pengudusan dan cintakasih sejati sebagai isinya. Tempat dan perhiasan yang indah-indah tidak ada gunanya, apabila isinya tidak ada. Maka, hanya manusia rohani, yang memiliki kekayaan ilahilah yang benar-benar dapat dinilai siap siaga. Percumalah tubuh yang sehat, kuat dan indah, akal budi yang tajam dan dipenuhi ilmu pengetahuan, kehendak yang kuat dan giat, serta hati yang bernyala-nyala, apabila semua itu tidak diisi oleh rahmat Allah. Lampu yang terbuat dari emas dan diperlengkapi dengan ukiran-ukiran yang indah-indah tak ada gunanya di dalam tempat gelap, jikalau tidak sekaligus diisi dengan minyak yang memberi terang. “Aku tidak mengenal kamu”, demikianlah bunyi jawaban yang akan diberikan Tuhan kepada mereka yang percaya kepada kekuatan, kecantikan, ketajaman budinya, kegiatan, perasaan hati, dan wataknya sendiri, tetapi tidak mempedulikan Allah, sabda-Nya, cintakasih serta rahmat-Nya. Memang orang-orang seperti ini mempunyai pelita (atau obor), tetapi mereka tidak mempunyai persediaan minyak yang diperlukan.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diperoleh pada menit-menit terakhir. Terlambatlah bagi seorang mahasiswa untuk mulai belajar pada hari terakhir menjelang ujian akhir. Juga tidak mungkinlah bagi seseorang untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara mendadak ketika tugas yang membutuhkan keterampilan tersebut sudah ada di hadapannya. Demikian pula dalam hal mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah. Dari perumpamaan di atas kita juga melihat bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipinjam dari orang lain. Gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan mengalami bahwa tidaklah mungkin untuk meminjam minyak pada waktu mereka membutuhkannya. Demikian pula, seseorang tidak dapat meminjam suatu relasi dengan Allah; dia harus memiliki relasi dengan Allah bagi dirinya sendiri. Jadi ada hal-hal yang harus kita peroleh bagi diri kita sendiri, karena kita tidak dapat meminjamnya dari orang lain.

Kesiapsiagaan harus diperagakan dengan penuh ketekunan. Sebagai Gereja (Tubuh Mistik Kristus), kita berada dalam masa pertunangan dan perkawinan. Sebagai Gereja, kita adalah mempelai perempuan sendiri yang sedang menantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki. Maka setiap orang anggota Gereja dan Gereja seluruhnya harus siap sedia menanti-nanti dengan gembira. Memang menurut koderatnya manusia itu takut terhadap kematian dan karenanya berupaya menghindarinya sedapat mungkin. Akan tetapi berdasarkan iman, seseorang mempunyai pandangan lain samasekali terhadap kematian itu. Dalam iman, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan justru merupakah awal sukacita yang besar. Itulah iman Kristiani! Misalnya, bagi Santo Fransiskus dari Assisi dan para anggota ketiga ordonya, kematian adalah seorang Saudari, Saudari Maut (Badani).

Bagi seorang Kristiani sejati, sabda Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya”, tidak lagi merupakan kesiapsiagaan yang dipenuhi rasa khawatir dan takut seperti dengan Nuh yang melihat air bah mendatang, atau seperti tuan rumah yang menantikan kedatangan pencuri. Bagi seorang Kristiani sejati, kesiapsiagaannya merupakan penantian yang penuh kegembiraan. Penantian itu akan merupakan Kabar Baik, Rahasia Cintakasih, sukacita karena pelukan mesra, persatuan antara Allah dan manusia, dan karenanya merupakan pemenuhan segala kerinduan umat yang terpendam selama ini. Mempelai perempuan mengungkapkan kerinduan terdalam itu dengan seruan: “Datanglah, Tuhan Yesus!” Sang Mempelai laki-laki berkata: “Ya, Aku datang segera!” (Why 22:20). 

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu di akhir zaman, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPELAI DATANG! SAMBUTLAH DIA!” (bacaan tanggal 1-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 30 Agustus 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SENANTIASA BERJAGA-JAGA

SENANTIASA BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 31 Agustus 2017)

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51)

Bacaan Pertama: 1Tes 3:7-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4,12-14,7 

Yesus menggunakan sebuah gambaran tidak seperti biasanya dalam berbicara mengenai diri-Nya sendiri – seperti seorang pencuri yang datang di malam hari.  Pokok yang mau disampaikan-Nya di sini adalah, bahwa “pencuri” tidak dapat membuat kita terkejut, apabila kita siap-siaga menyambut kedatangannya.

Beberapa kalimat kemudian Yesus mengatakan bahwa “pencuri” yang akan mengejutkan hamba di rumah sebenarnya adalah tuannya, yang berminat untuk melihat apa yang dilakukan oleh para hambanya. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang, …… sebaliknya, celakalah hamba yang jahat membuang-buang waktu dan  kedapatan sedang bermabuk-mabukan ketika tuannya datang.

Solusinya? Jangan biarkan Anak Manusia datang kepada kita (anda dan saya) sebagai seorang asing, sebagai seseorang yang kedatangannya kita tidak harapkan atau nanti-nantikan. Seandainya kita bertanya kepada Yesus, “Bagaimana kita dapat sungguh-sungguh bersiap-siaga?” Kiranya Yesus akan menjawab, “Berjaga-jagalah dan berdoalah”, bukankah begitu?

Jika kita mengenal Yesus dengan baik dalam doa-doa harian pada waktu-waktu tertentu yang telah kita sediakan, tentunya kita tidak akan menjadi terkaget-kaget bilamana Dia datang menemui kita. Kita dapat berkata kepada-Nya: “Aku baru saja berbicara dengan Engkau, Tuhan. Selamat datang Sahabatku!”

Apabila kita telah berhadapan dengan Yesus secara jujur, lewat waktu-waktu teratur sehari-hari bersama dengan-Nya, maka kita telah memperkenankan Dia menyiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau ingin agar aku senantiasa bersiap-siaga menantikan kedatangan-Mu, seperti hamba yang baik itu. Biarlah Roh Kudus-Mu  senantiasa membimbingku dan mengingatkan aku akan hal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 31-8-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 29 Agustus 2017 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Rabu, 30 Agustus 2017) 

Celakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12 

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua ucapan Yesus yang terakhir dari keseluruhan tujuh “ucapan celaka” yang diucapkan-Nya terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dalam ketujuh “ucapan celaka” tersebut, Yesus menamakan mereka sebagai “orang-orang munafik”.

Yesus biasanya bersikap sangat baik hati dan penuh pengampunan terhadap para pendosa. Mengapa sikap ini berubah secara tiba-tiba dalam hal dosa kemunafikan? Yesus jelas melihat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memiliki sedikit sekali niat atau kecenderungan untuk menerima kesalahan mereka, sedikit hasrat untuk melakukan pertobatan sejati. Yesus melihat bahwa satu-satunya pendekatan adalah dengan menggunakan caci-maki yang terasa keras-kuat. Barangkali Yesus telah melihat adanya kebutuhan dalam diri kita dan semua orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan kepada kita  betapa buruknya kemunafikan itu.

Oleh karena itu Tuhan Yesus menjuluki para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dicat putih, indah dilihat bagian luarnya, namun di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Sampai hari ini pun kuburan di Palestina dicat putih, suatu praktek sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Kuburan yang dicat dengan warna putih akan membantu mengidentifikasi kuburan tersebut.Dari sinilah muncul istilah white-washing yang berarti menutup-nutupi sesuatu (cover up). Terkait dengan orang-orang Farisi, Yesus mengatakan bahwa kepatuhan pada hukum sebenarnya merupakan cover up untuk sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan Hukum dan semangatnya.

Lihatlah, betapa sering kita cenderung untuk melakukan cover up atas kegagalan-kegagalan kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita mencoba untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan kita agar kita terlihat sebagai “orang benar” di mata orang-orang lain, padahal selama itu kita sendiri sangat tahu bahwa kita tidak jujur, kita takut ketahuan. Artinya, kita hidup tanpa kedamaian di dalam hati.

Mengakui kesalahan-kesalahan kita adalah jauh lebih baik, demikian pula memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kemudian kita pun disembuhkan. Kita membutuhkan penyembuhan dan pengampunan dari Kristus dan juga antara orang satu sama lain. Namun hanya dengan keterbukaan yang jujur kita dapat mengharapkan untuk menerima penyembuhan dan pengampunan.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Sembuhkanlah aku dari segala ketidakjujuran dan segala kecemasan yang diakibatkannya.

Cilandak, 28 Agustus 2017 [Peringatan S. Augustinus dr Hippo, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Selasa, 29 Agustus 2017) 

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja dengan penuh hormat memperingati kemartiran Santo Yohanes Pembaptis, sang bentara Kristus. Allah telah memanggil orang ini untuk memproklamasikan sabda-Nya dengan penuh keberanian, dan Ia berjanji bahwa walaupun para pemimpin dan/atau pemuka agama di Yerusalem akan melawannya, mereka tidak akan dapat menaklukkannya. Sekarang marilah kita mengamati karakter Yohanes Pembaptis guna menemukan apa saja yang memampukan dirinya taat pada panggilan Allah, bahkan dengan harga yang sangat mahal … hidupnya sendiri.

Sejak saat sebelum kelahirannya, Yohanes sudah dipenuhi dengan Roh Kudus (lihat Luk 1:15). Roh Kudus-lah yang mengajar-Nya untuk mendengar suara Tuhan dan taat kepada-Nya. Selagi Yohanes bertumbuh dewasa, Roh Kudus memimpinnya kepada suatu kehidupan doa dan puasa serta mati-raga …… mencari kepuasan hanya dalam relasi yang intim/akrab dengan Allah. Pengenalan akan Allah ini menghasilkan kerendahan-hati yang penuh kuasa dalam diri Yohanes. Ketika ditanyakan kepadanya apakah dirinya sang Kristus (Mesias), Yohanes menjawab bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak (lihat Yoh 1:27).

Thomas à Kempis, pengarang buku kecil terkenal “Mengikuti Jejak Kristus” menulis berkaitan dengan kerendahan hati seperti yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Tuhan melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati. Tuhan melimpahkan cinta-Nya dan memberi hiburan kepadanya. Orang yang rendah hati sungguh dekat pada Tuhan dan diberi rahmat banyak, dan setelah menderita penindasan ia dimuliakan Tuhan” (Buku Kedua, Pasal II, 2; terjemahan alm. Mgr. J.O.H. Padmasepoetra, Pr.).

Karena berkat-berkat seperti inilah maka Yohanes Pembaptis mampu bertahan dalam penjara Herodes Antipas dan kemudian dihukum pancung demi Tuhan Allah yang disembah-Nya. Sepanjang hidupnya, keprihatinan utama Yohanes adalah mencari kehadiran Allah dan bukan sibuk melihat siapa yang “pro” kepadanya atau “anti” terhadap dirinya. Tuhan Allah dan sabda-Nya kepada umat-Nya, adalah pokok yang paling penting dalam pikirannya, sehingga Yohanes dapat berbicara kebenaran dengan berani, bebas dari urusan hidup-matinya sendiri.

Thomas à Kempis melanjutkan: “Bila kita berusaha agar kita memperoleh damai dalam hati kita, maka barulah kita dapat memberi damai kepada orang lain” (Buku Kedua, Pasal III, 1). Karena kedamaian yang ada antara Yohanes dan Allah, maka dia mampu mengenali Yesus (Yoh 1:29) dan dengan efektif memimpin orang-orang kepada-Nya, tanpa peduli bahwa jumlah para pengikutnya sendiri akan menyusut sebagai akibatnya (Yoh 3:28-30).  Sungguh merupakan suatu testimoni indah bagi Yohanes Pembaptis, bahwa beberapa rasul Yesus yang paling setia pada awalnya dibina oleh nabi rendah-hati dan martir ini, yang ambisinya hanyalah menyiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

DOA: Bapa surgawi, buatlah kami rendah hati dan perkenankanlah kami mengalami kasih-Mu yang penuh kerahiman. Penuhilah diri kami dengan damai-Mu, sehingga seperti Yohanes Pembaptis, kami pun dapat memproklamasikan kemuliaan-Mu dan memimpin orang-orang lain kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “YOHANES PEMBAPTIS WAFAT” (bacaan tanggal 29-8-17N) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 28 Agustus 2017 [Peringatan S. Augustinus dr Hippo, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROH KUDUS SENANTIASA BEKERJA DI TENGAH-TENGAH KITA, KADANG-KADANG DENGAN CARA-CARA BARU DAN BERBEDA

ROH KUDUS SENANTIASA BEKERJA DI TENGAH-TENGAH KITA, KADANG-KADANG DENGAN CARA-CARA BARU DAN BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus dr Hippo, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 28 Agustus 2017) 

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22) 

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” (Mat 23:13).

Memang mudahlah bagi kita berpendapat bahwa orang-orang Farisi adalah sekelompok orang yang bersikap legaslistik dan sombong yang ingin menghancurkan Kerajaan Allah. Sebenarnya mereka bukanlah orang-orang yang paling buruk. Pengabdian mereka kepada Allah dalam artian tertentu sungguh luarbiasa dan mereka senantiasa siap untuk melakukan pengorbanan demi Allah yang mereka sembah dan umat-Nya (Ingatlah apa yang dilakukan oleh Saulus sebelum ia bertobat dan kemudian bernama Paulus). Hasrat mereka yang utama adalah melindungi Yudaisme dari penyusupan oleh sumber-sumber asing seperti kekafiran Roma. Dengan “mati-matian” mereka mempertahankan Kitab Suci dan berupaya untuk menjaga agama mereka agar tetap murni. Inilah segala kualitas mereka yang bagus, dan tentunya mereka adalah orang-orang yang mengesankan sehingga mampu menarik banyak pengikut.

Masalahnya adalah bahwa ada sejumlah orang Farisi yang begitu mati-matian ingin memelihara dan mempertahankan Yudaisme sebagaimana mereka pahami sendiri sehingga mereka samasekali menutup diri terhadap kemungkinan bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang baru.  Sungguh tak diduga oleh mereka penyelamatan Allah dapat datang melalui seorang tukang kayu miskin dari Nazaret yang “dekat” dengan para pemungut cukai dan para pendosa serta orang-orang tak beriman lainnya. Bagaimana mungkin Allah menggunakan orang yang tidak sependapat dengan keyakinan mereka?

Dengan mengingat hal ini, kita dapat melihat hati Yesus secara lebih jelas ketika Dia mengutuk orang-orang Farisi. Yesus bukan merasa muak dengan mereka, hati-Nya patah dan hancur melihat kedegilan hati dan sikap sok suci mereka. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata yang keras dengan air mata berlinang dan suara yang serak. Inilah sekelompok orang yang begitu penuh pengabdian kepada Allah seturut versi mereka sendiri, namun mata mereka dibutakan terhadap rahmat yang tersedia bagi mereka. Sungguh tragis melihat mereka yang tidak mampu mengenali Yesus dan menolak Yesus sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan!

Cerita tentang orang-orang Farisi ini dapat menjadi pelajaran guna mengingatkan kita. Sementara kebenaran-kebenaran teologis tidak pernah berubah, Roh Kudus senantiasa bekerja di tengah-tengah kita, kadang-kadang dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Sungguh mudahlah, namun sungguh berbahaya juga, bagi kita untuk mempunyai Allah yang sudah didefinisikan secara pasti. Yesus dapat saja mengundang kita kepada suatu dimensi baru dalam relasi kita dengan diri-Nya. Kita tidak boleh melarikan diri dari hal seperti itu karena hal itu berbeda daripada apa yang selama ini kita ketahui. Marilah kita menggunakan hikmat dan discernment, namun kita juga harus senantiasa siap dan terbuka bagi cara-cara doa yang tidak familiar, mendengar bisikan Roh Kudus yang tidak familiar, dan menunjukkan cintakasih kita kepada umat Allah dengan cara yang tidak familiar juga.

DOA: Roh Kudus Allah, lembutkanlah hatiku. Aku tidak ingin luput melihat diri-Mu selagi Engkau bergerak dalam hidupku dengan cara-cara baru pada hari ini. Aku tidak ingin menjadi terbatas dalam perspektifku tentang Siapa Engkau sebenarnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “DITUJUKAN KEPADA PARA AHLI TAURAT DAN ORANG FARISI” (bacaan tanggal 28-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 25 Agustus 2017 [Peringatan S. Ludovikus IX, Raja – Ordo III S.Fransikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MEMILIH SIMON PETRUS

YESUS MEMILIH SIMON PETRUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [TAHUN A], 27 Agustus 2017) 

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Yes 22:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:33-36 

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” (Mat 16:18)

Mengapa Yesus memilih Simon Petrus? Rasul ini memang membuat pernyataan iman yang berani, namun dia seringkali juga mengkontradiksikan dirinya sendiri seperti yang terjadi beberapa saat saja setelah pernyataan imannya. Baru saja Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan kepada para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya (Mat 16:20), Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat 16:21-22). Jawaban Yesus berupa sebuah teguran keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”(Mat 16:23). Lalu pada perjamuan terakhir, Petrus mencoba meyakinkan Yesus dengan pernyataannya, bahwa lebih baik dia mati daripada menyangkal Yesus (lihat Mrk 14:29-31,66-72). Memang Petrus jauh dari seorang pribadi yang sempurna!

Apakah kepemimpinan Petrus diberikan kepadanya karena prestasinya yang luarbiasa? Jelas tidak! Apa yang dilihat Yesus dalam diri Petrus adalah imannya. Memang, keterikatan penuh gairah Petrus kepada Yesus memimpinnya sedemikian rupa sampai pada suatu titik di mana dia membuat janji-janji yang tak mampu dipenuhinya, namun sebenarnya tanpa perlu diragukan lagi Petrus memiliki ketetapan hati untuk percaya. Setiap kali setelah ‘kejatuhannya’, Petrus selalu kembali kepada Yesus untuk pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Keterikatan kepada Yesus seperti inilah – ketergantungan kepada-Nya at all costs – yang membuat Simon bin Yunus menjadi “batu karang” (Bahasa Aram: Kepha (Kefas); Yunani: Petrus) di atas mana Yesus mendirikan Gereja-Nya.

Keterikatan penuh gairah kepada Yesus – meskipun kita sendiri penuh dengan kelemahan – adalah yang paling disukai oleh Bapa surgawi. Apakah kita melakukan tindakan salah atau benar, hal sedemikian itu tidak sebegitu penting ketimbang sikap dan kemauan kita untuk selalu kembali datang kepada Allah untuk pengampunan setiap kali kita berdosa. Kita mungkin saja semata-mata melihat ketidakpercayaan dan kejatuhan kita, namun Yesus melihat hasrat-hasrat yang ada dalam hati kita. Dia tidak pernah negative thinking. Oleh karena itu, baiklah kita meneladan Simon Petrus sebagai contoh iman. Yesus dapat menggunakan bahkan orang-orang yang paling lemah sekali pun, selama mereka menanggapi rahmat iman yang diberikan oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berdoa untuk mereka yang sedang goyah imannya. Bawalah mereka agar sampai kepada keakraban yang lebih besar dengan-Mu. Janganlah semangat mereka menjadi menyusut karena kegagalan atau kejatuhan dalam dosa, namun selalu mau kembali kepada Allah untuk pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:13-20), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?” (bacaan tanggal 27-8-17) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JAUHKANLAH KEMUNAFIKAN

JAUHKANLAH KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari  Biasa Pekan Biasa XX – Sabtu, 26 Agustus 2017)

 

 

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11;4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Kalau kita merenungkan sejenak bacaan Injil hari ini, terasa ada rasa jengkel, mendongkol dan marah yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan Yesus tentang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Orang-orang itu memegang posisi terpandang dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihormati, namun mereka tidak lebih daripada segerombolan orang-orang munafik.

Lain halnya dengan Yesus, kemunafikan tidak  ada dalam kamus-Nya!  Ia memperlakukan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini secara berbeda, apabila dibandingkan dengan orang banyak. Yesus melihat tindakan-tindakan dan opini-opini mereka, bukan sekadar posisi mereka dalam masyarakat. Kita – manusia kebanyakan – sering tergoda untuk menilai bagian luar saja dari diri seseorang, tetapi Yesus melihat bagian dalamnya. Yesus tidak mempunyai masalah dengan fungsi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dia bahkan mengajar orang banyak dan murid-murid-Nya untuk mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Ucapan Yesus tidak mengagetkan orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memang sangat dihormati dalam masyarakat Yahudi. Mereka dikenal untuk pengetahuan mereka dan dalam hal menepati Hukum Musa (Taurat). Yesus sendiri tidak datang ke dunia untuk meniadakan hukum Taurat. Dalam ‘Khotbah di Bukit’, Ia mengatakan,  “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Santo Paulus bahkan menulis: “Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Rm 10:4).

Yang diserang oleh Yesus bukanlah posisi terhormat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan juga pengaruh mereka. Ia tidak menyerang para ahli Taurat untuk pengetahuan mereka tentang tradisi, melainkan cara mereka memelintir semua itu untuk keuntungan mereka sendiri dan membangun kesan betapa pentingnya mereka. Yesus juga tidak menyalahkan orang-orang Farisi untuk semangat mereka sehubungan dengan hal-ikwal Allah, melainkan karena fokus mereka terlalu banyak pada hal-hal kecil yang harus ditaati, sehingga tidak cukup banyak perhatian pada Allah dan perintah-Nya untuk mengasihi. Baik para ahli Taurat maupun orang-orang Farisi berada dalam posisi di mana mereka dapat memberikan pelayanan bagi bangsa Yahudi. Mereka sesungguhnya dapat mengabdikan diri mereka untuk mendorong atau menyemangati bangsa Yahudi dalam hal doa, saling mengasihi dan merangkul belas kasihan Allah. Sayangnya semua ini menjadi kabur sebagai akibat dari kesombongan, egoisme dan cinta kehormatan (gila hormat) mereka sendiri.

Seperti para rasul, kita juga harus menaruh perhatian pada panggilan Yesus agar menjadi rendah hati dan melayani sesama kita. Kadang-kadang garis pemisah antara kekudusan dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dapat menjadi sedemikian tipis. Oleh karena itu, baiklah kita menyadari bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita mendengar suara-Nya, yang mendorong dan menyemangati kita, ajaran-ajaran-Nya, dan bahkan mengoreksi diri kita apabila diperlukan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjaga hatiku agar terbuka bagi cara-cara Engkau bekerja di dalam dunia sekarang. Semoga aku tidak terlalu terpaku pada tradisi-tradisi, sehingga luput melihat Engkau dan hati-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini bacalah juga tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATILAH YANG DIINGINKAN YESUS DARI KITA” (bacaan tanggal 26-8-17)  dalam situs/blog PAX ET BONUM http:/catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Agustus 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS