DIHORMATI DI MANA-MANA, TETAPI TIDAK DI KAMPUNG/RUMAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Jumat, 4 Agustus 2017)

 

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58) 

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:3-6,10-11

Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya (Mat 13:57). Penduduk Nazaret itu menjadi jengkel dan dongkol melihat “pretensi” seorang pribadi yang begitu mereka kenal sejak kecil dan sekarang tiba-tiba koq menjadi begitu luarbiasa. Rasa takjub mereka berubah menjadi rasa kesal dan dongkol serta penasaran, justru karena mereka sudah kenal lama siapa Yesus itu. Jadi pengenalan akrab mereka menjadi semacam beban, semacam liability. Mungkin dalam hati mereka berkata: “Ah, mana mungkin si tukang kayu itu tiba-tiba bisa jadi seorang rabbi/ustadz yang hebat? Di pesantren mana dia belajar Taurat?” Mereka tidak mampu keluar dari kerangka yang sudah ada dalam pemikiran mereka tentang Yesus ini.

Ketidakpercayaan mereka yang kemudian diwujudkan menjadi berbagai perasaan negatif tadi  memuncak pada saat Yesus berkata tanpa tedeng aling-aling atau pun basa-basi: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Mat 13:57). Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan oleh Yesus di situ (Mat 13:58). Artinya, mukjizat mengandaikan adanya iman-kepercayaan. Ingat kata-kata yang sering diucapkan Yesus setelah melakukan mukjizat/penyembuhan: “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22; Mrk 5:34; Luk 7:50; Luk 8:48; Luk 17:19; Luk 18:42).

Matius menempatkan cerita ini langsung setelah pengajaran-pengajaran Yesus dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan (Mat 13:1-52), untuk membuat “kontras” antara orang banyak yang mendengarkan Dia sambil berdiri di pantai (lihat Mat 13:1-2) dengan/dan orang-orang yang mendengarkan Dia dalam sinagoga di Nazaret (Mat 13:54), yaitu mereka yang sebenarnya tidak mau menyusahkan diri untuk mencari-cari Dia. Di sini letak perbedaannya: Orang-orang yang berbondong-bondong, mengikuti dan mengerumuni Yesus di pantai danau adalah mereka yang mencari suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah. Sebaliknya, orang-orang yang berada dalam sinagoga di Nazaret adalah orang-orang, yang mempunyai rasa ingin tahu juga, namun masih suam-suam kuku. Akhirnya yang suam-suam kuku inilah yang menolak Yesus. Para murid memiliki kerendahan hati meski berdosa dan masih dikuasai rasa takut, namun mereka mendengarkan Yesus, kemudian menjadi percaya dan ditransformasikan menjadi bejana-bejana rahmat yang penuh kuasa.

Bagaimana familiaritas kita yang jauh dengan Yesus menghalangi kita dan bahkan menyebabkan kita menjadi tidak percaya? Kita dengan mudah meyakinkan diri kita: “Allah itu terlalu besar dan agung, terlalu sibuk untuk memperhatikan masalah-masalahku yang kecil.” Atau, “Tidak mungkin Dia mau melakukan sesuatu yang baik bagi hidupku pada hari ini. Aku begitu berdosa, terlalu lemah, terlalu jauh dari Dia.”  Barangkali kegairahan kita untuk mengenal Dia, yang dulu bergebu-gebu, sekarang sudah menjadi dingin dan mungkin juga sudah sirna. Mungkin juga pengalaman-pengalaman yang mengecewakan telah membuat kita menjadi apatis alias masa bodoh.

Dalam keadaan yang bagaimana pun kita sekarang, marilah kita berupaya agar tetap berada di dekat Yesus, berpegang pada-Nya dengan kuat-kuat. Marilah kita terus berusaha untuk mengenal Dia secara lebih mendalam lagi. Tidak cukuplah kita hanya mengagumi Yesus dari kejauhan. Anda harus datang mendekat kepada-Nya, kemudian meminta, mencari, mengetuk, agar Dia menyatakan diri-Nya kepada anda. Biarlah Dia berbicara kepada hati anda. Anda tidak pernah akan tahu apa yang akan terjadi dengan dirimu setelah itu.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah diriku kepada-Mu. Dengan ini aku menolak semua ketidakpercayaanku dan familiaritasku yang palsu dengan diri-Mu. Aku percaya bahwa orang-orang yang mencari engkau akan menemukan diri-Mu. Buatlah mukjizat dalam hatiku. Dengarlah kerinduan hatiku pada-Mu, ya Tuhan. Aku mencintai-Mu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU?” (bacaan tanggal 4-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 2 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS