KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Dalam Perjanjian Lama diceritakan bagaimana dengan penuh keajaiban Allah (YHWH) memberikan makanan kepada orang-orang Israel dengan roti dari surga yang dinamakan manna (Kel 16). Ia menyediakan roti secukupnya bagi setiap orang setiap hari. Mukjizat pergandaan roti dan ikan dalam bacaan Injil hari ini tentunya mengingatkan orang banyak yang hadir dalam peristiwa itu (dan kita juga) akan manna dan burung puyuh yang disediakan Allah pada waktu nenek moyang mereka mengembara di tengah padang gurun (lihat bacaan pertama; ditambah dengan Bil 14:31 dsj.). Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini juga mengingatkan akan penggandaan roti yang dilakukan oleh nabi Elisa (2Raj 4:42-44).

Selagi kita merenungkan bacaan mengenai mukjizat penggandaan roti oleh Yesus ini, kita tidak bisa tidak akan melihat bagaimana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH, Bapa-Nya, sumber segala kebaikan bagi umat-Nya. Pada saat yang sama, Yesus menyatakan bahwa kasih Allah dan kebaikan-Nya dihadirkan melalui diri-Nya.

Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini dalam Injil Matius diceritakan langsung setelah cerita mengenai kematian Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12). Apakah kita dapat mengatakan bahwa kematian ini merupakan semacam gambaran awal dari kematian Yesus sendiri? Sebagai tanggapan terhadap berita menyedihkan itu, Yesus menyingkir dan menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil untuk bersekutu dengan Bapa-Nya secara lebih mendalam, barangkali untuk memeditasikan sengsara dan kematian-Nya kelak.

Orang banyak mengantisipasi gerak-gerik Yesus dengan cukup baik. Mereka berhasil mengikuti Yesus dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus sampai di darat sudah ditunggu oleh orang banyak yang besar jumlahnya. Yesus tidak menjadi marah terhadap orang banyak itu, sebaliknya Injil Matius mencatat: “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:14).

Dalam terang sengsara yang akan diderita-Nya, Yesus ingin memberikan suatu wawasan yang lebih mendalam menyangkut kemurahan hati yang sangat mendalam dari Allah melalui apa yang Dia sendiri siap lakukan bagi mereka. Pada waktu para murid menyarankan agar orang banyak itu disuruh pergi agar mereka dapat membeli makanan di desa-desa untuk mereka sendiri, Yesus menjawab dengan tegas: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16).

Setelah mengucap syukur, Yesus menggandakan ke lima roti dan dua ikan itu untuk memberi makan orang banyak yang dapat saja berjumlah 20 ribu sampai 30 ribu orang, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang sebanyak ini, kalau digabung dengan peristiwa penggandaan yang kedua (Mat 15:32-38) dapat mencapai sekitar 10% dari total penduduk Palestina pada waktu itu.

Yesus melakukan intervensi pada suatu situasi yang menurut pandangan para murid-Nya tidak memungkinkan, dan Ia malah memberikan makanan lebih daripada yang dibutuhkan: “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh” (Mat 14:20).

Dengan tindakan-Nya mengucap syukur dan memecah-mecah roti, kemudian memberi makan beribu-ribu orang pada hari itu, Yesus sebenarnya menunjuk kepada hal yang tidak lama lagi akan dilakukan-Nya – memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri melalui Ekaristi sebagai makanan yang memberi kehidupan kepada dunia. Pada gilirannya, Ekaristi mengantisipasi perjamuan mesianis (Messianic banquet), suatu imaji dari damai-sejahtera, sukacita, dan persekutuan yang sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan dalam Kerajaan Allah.

Pikiran orang-orang modern cenderung untuk merasionalisir atau mengabaikan signifikansi dari penggandaan roti dan ikan, tentunya berdasarkan alasan bahwa hal tersebut tidaklah mungkin. Dengan bersikap dan berperilaku seperti itu, kita gagal mengakui kemurahan hati yang teramat besar dari Allah, di masa lampau, kini dan yang akan datang – yang dinyatakan lewat mukjizat ini. Bagi mereka yang tidak percaya akan mukjizat seperti ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa mukjizat itu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).  Mukjizat di El Paso, Texas merupakan salah satu bukti nyata dari mukjizat penggandaan yang terjadi di dunia modern.

Namun demikian, keajaiban dari peristiwa penggandaan roti dan ikan itu janganlah sampai menghalangi kita untuk menangkap pesan hakiki peristiwa itu, yaitu bahwa orang yang lapar harus diberi makan. Ini adalah misi Yesus dan tanggung jawab para murid-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus senantiasa memiliki kemauan untuk berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain dan berikanlah kepadaku keberanian untuk menanggapi secara positif kebutuhan-kebutuhan mereka itu. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu, ya Tuhan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUH YANG TERLUKA” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)  

Cilandak, 4 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements