HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 

Lalu tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.

Lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. (Why 11:19;12:1,3-6,10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26; Bacaan Injil: Luk 1:39-56

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:45)

Diangkatnya SP Maria ke surga adalah suatu kepercayaan yang dalam-tertanam di dalam kesadaran Katolik dan dijadikan dogma Gereja oleh Paus Pius XII di tahun 1950, dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Doktrin tentang “Maria diangkat ke surga” merupakan salah satu penghalang terbesar bagi saudari-saudara kita umat Kristiani. Terkadang, dalam menghadapi keluhan dan/atau tantangan bahwa doktrin ini tidak sesuai dengan Alkitab, orang-orang Katolik akan setuju, namun kemudian mengatakan bahwa doktrin ini berasal (atau bertumpu pada) dari tradisi, bukan dari Kitab Suci.

Tanggapan orang-orang Katolik seperti ini memang dapat dipahami, akan tetapi gagal untuk “menangkap” sesuatu yang signifikan berkaitan dengan kepercayaan ini. Keyakinan akan kebenaran kepercayaan ini berasal dari kalangan para pendoa, teristimewa para rahib dan rubiah di biara-biara monastik, yaitu mereka yang menyediakan bagian waktu terbanyak kehidupan sehari-hari mereka untuk memeditasikan sabda Allah dalam Kitab Suci. Jadi akan lebih akurat dan menolong apabila kita melakukan pendekatan terhadap doktrin “Maria diangkat ke surga” dengan memandangnya sebagai sesuatu yang didasarkan atas Kitab Suci, namun dengan cara yang berbeda dengan hal-hal lainnya untuk mana kita dapat menunjuk suatu teks khusus sebagai bukti.

Kepercayaan akan “Maria diangkat ke surga” konsisten dengan data alkitabiah dengan jangkauan  yang luas. Maria adalah perempuan yang dengannya Allah mengadakan permusuhan dengan si Ular Tua atau Iblis (Kej 3:15). Lalu, memang ada beberapa orang kudus Perjanjian Lama yang diangkat ke surga secara fisik, misalnya Henokh (Kej 5:24) dan Elia (2Raj 2:11-12). Maria sendiri dibandingkan dengan tabut perjanjian; ia adalah pribadi di dalam rahimnya Putera Allah dikandung oleh Roh Kudus dan berdiam. Maria juga adalah perwujudan Puteri Sion (Zef 3:14; Za 9:9; Mat 21:5; Yoh 12:15), yang mempersonifikasikan Israel, dia yang membalikkan kutukan atas Hawa dengan tindakan penuh kepercayaan kepada utusan surgawi (malaikat agung Gabriel; lihat Luk 1:21-38).

Diangkatnya Maria ke surga harus dilihat dari perspektif kekal sebagai bagian dari rencana Allah baginya untuk menjadi ibunda dari Putera ilahi-Nya. Fiat atau “ya”-nya Maria kepada pemberitahuan malaikat agung Gabriel diucapkan olehnya dalam pandangan akan kemuliaan akhir surga. Tujuan final ini di samping Yesus yang dimuliakan adalah buah penuh dari kata-kata Elisabet: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Perspektif surgawi ini harus diterapkan atas bacaan dari kitab Wahyu hari ini. Tentulah bukan suatu kebetulan bahwa visi/penglihatan perempuan yang berselubungkan matahari dan mengenakan sebuah mahkota dengan dua belas bintang menyusul terbukanya Bait Suci Allah dan suatu pemandangan tentang tabut perjanjian Allah (Why 11:19). Dalam penglihatan ini ini, baik Israel dan Maria direpresentasikan; yaitu dari Israel, khususnya dari Maria-lah bayi-Mesias dilahirkan.

Pada hari raya ini, marilah kita mengangkat hati dan pikiran kita ke surga untuk mengkontemplasikan rencana Allah yang mulia dan pemenuhannya dalam diri Maria, orang Kristiani yang pertama.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memahkotai SP Maria pada hari dia diangkat ke surga dengan suatu kemuliaan yang tiada bandingnya. Engkau memandang kerendahan hatinya dan membuatnya ibu dari Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal. Bentuklah kami semua menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati sesuai dengan teladan hidup SP Maria, agar kami pun dapat diselamatkan oleh misteri penebusan Yesus Kristus dan ikut ambil bagian bersamanya dalam kemuliaan kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 13-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements