PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Jumat, 8 September 2017)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)

Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23

Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 

Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488). Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.

Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.

Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).

Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.

Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements