BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Jumat, 15 September 2017)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu dengan kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi? Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari pada-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS” (bacaan tanggal 15-9-17) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements