PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 2 Maret 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dr Praha, Biarawati Klaris 

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

Perumpamaan Yesus yang sedikit terselubung tentang “para penggarap kebun anggur (yang jahat)” sebenarnya merupakan sebuah peringatan kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi. Israel adalah kebun anggur Allah, dan para pemimpinnya adalah para penggarap yang jahat. Allah telah mempercayakan kepada mereka tanggung-jawab untuk melayani umat/rakyat Israel, dan mereka telah mengkhianati kepercayaan itu. Para nenek moyang mereka membunuh nabi-nabi Allah yang diutus dari abad ke abad, dan sekarang mereka akan membunuh Anak-Nya yang tunggal. Orang-orang Farisi memahami pesan Yesus dalam perumpamaan ini, dan hal ini hanya membuat mereka semakin berketetapan hati untuk membunuhnya. Karena berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi dengan cara begini, maka memulai serangkaian peristiwa yang pada akhirnya membawa diri-Nya ke kayu salib di Golgota.

Dengan menyitir Mzm 118:22 (Mat 21:42), Yesus bernubuat bahwa orang-orang Farisi akan menolak diri-Nya, sang “batu penjuru.” Mengapa? Karena mereka gagal untuk melihat apa, bagaimana dan siapa sebenarnya diri mereka sendiri. Orang-orang Farisi memandang-tinggi diri mereka sendiri. Karena mereka tidak mau dan mampu melihat dosa mereka sendiri, maka mereka tidak mengakui adanya kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat. Karena mereka mengklaim telah mengikuti segala peraturan yang ada, dan karena orang-orang lain datang memohon bimbingan dari mereka, mereka membiarkan kuasa dan prestise mereka menyelubungi dosa mereka dan kebutuhan mereka akan keselamatan.

Bayangkan berapa banyak orang sepanjang 2.000 tahun ini yang telah membuat kesalahan yang sama. Pada setiap zaman, orang-orang yang memiliki kekuasaan, orang-orang yang hidup nyaman dan kaya-raya seringkali menolak Yesus. Barangkali lebih mudah bagi orang-orang miskin, orang-orang sakit, dan orang-orang yang yang tersisihkan dalam masyarakat melihat kebutuhan mereka akan seorang penyelamat. Ini adalah orang-orang yang merangkul Yesus ketika Dia berada di dunia. Orang-orang itu tidak dapat berpaling ke mana-mana kecuali kepada Yesus, yang mereka percayai sebagai Dia yang dapat membuat diri mereka utuh: sang Juruselamat sejati!

Kita hidup di sebuah dunia di mana kata “dosa” jarang terdengar dan di mana pilihan pribadi digunakan sebagai pembenaran terhadap kejahatan. Seperti orang-orang Farisi, mata (hati) kita dapat dibutakan sehingga tidak dapat melihat adanya kebutuhan akan pengampunan. Akan tetapi, yang pasti adalah bahwa kita semua rentan terhadap dosa – terhadap keserakahan, terhadap kesombongan, terhadap kemasa-bodohan. Menyadari kebutuhan kita, mengakui dosa-dosa kita dan memohon belaskasih Allah – ini adalah sikap-sikap hati yang dapat membuka diri kita bagi suatu relasi dengan Tuhan Yesus yang lebih mendalam dan lebih penuh. Ia senantiasa menantikan kita dengan tangan-tangan terbuka untuk mengampuni kita, menghibur kita dan menyembuhkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah batu penjuru hidup kami. Berikanlah kepada kami keberanian dan kerendahan-hati agar dapat melihat kebutuhan kami akan diri-Mu. Tolonglah kami untuk datang kepada-Mu sehinga Engkau dapat menyentuh kami dan membuat kami menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 2-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 28 Februari 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements