MARILAH KITA PERCAYA KEPADA KASIH ALLAH YANG SUNGGUH DAPAT DIANDALKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 9 Maret 2018)

Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN (YHWH), Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada YHWH; katakanlah kepada-Nya: “Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami. Asyur tidak dapat menyelamatkan kami; kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim.” Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murkaku telah surut dari pada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon. Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.

Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan YHWH adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. (Hos 14:2-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17; Bacaan Injil: Mrk 12:28-34 

Hosea seringkali dijuluki sebagai nabi kasih ilahi (prophet of divine love), seorang nabi yang berbicara mengenai Allah yang sudi menderita agar dapat memperoleh kembali Israel yang sangat dikasihi-Nya. Misalnya ada sebuah buku pengantar karangan William J. Doorly yang berjudul: Prophet of Love – Understanding The Book of Hosea (Paulist Press, 1991).

Hosea hidup pada abad ke 8 SM di kerajaan Israel sebelah Utara. Masa itu adalah masa yang penuh dengan pergolakan di mana para raja Israel berjuang melawan negeri tetangga mereka yang sangat kuat, yaitu Asyur. Akhirnya, kesabaran Asyur habis juga, dan pada tahun 726 SM Israel diserbu dan ibukotanya, Samaria, dihancurkan setelah melalui pengepungan selama tiga tahun (lihat 2Raj 17:5). Hosea memahami bahwa YHWH telah memperkenankan terjadinya penghancuran ini serta kekacauan yang menyertainya, sebagai tanggapan-Nya terhadap penyembahan berhala dan ketidaksetiaan bangsa Israel untuk bertahun-tahun lamanya. Hosea sendiri menggunakan ketidaksetiaan istrinya, Gomer, sebagai suatu metafor untuk menggambarkan ketidaksetiaan seluruh bangsa Israel terhadap Allah.

Hosea tidak pernah lupa bahwa YHWH Allah itu memiliki bela rasa. Walaupun baru saja bernubuat tentang murka YHWH Allah yang akan menimpa Efraim (lihat Hos 13), masih ada sebuah janji pengampunan: “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka” (Hos 14:5). Mereka yang hidup pada zaman Hosea tahu bahwa kesusahan mereka belum berlalu; tanah mereka, kota-kota mereka diporak-porandakan dan banyak orang ditangkap dan digiring ke Asyur sebagai orang buangan. Mereka tahu bahwa pengampunan Allah dan datangnya masa yang lebih baik mungkin saja tidak terjadi pada masa hidup mereka. Namun demikian, janji itu tetap memberikan pengharapan.

Hasrat Allah adalah tercipta dan terbinanya relasi dengan umat-Nya. Dia menginginkan hal ini terjadi, namun tak akan  terjadi apabila umat-Nya itu tidak kembali kepada-Nya dan berhenti berdosa: “Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada YHWH” (Hos 14:3). Allah ingin adanya suatu relasi penuh kasih dengan kita juga, dan memberikan kepada kita dengan banyak kesempatan untuk kembali kepada-Nya dengan kata-kata pertobatan, ketulusan dan kasih.

Apakah kita menghadapi pencobaan-pencobaan, kesulitan-kesulitan, atau penderitaan-penderitaan? Dapatkah kita mohon kepada Allah untuk menolong kita memahami bagaimana Dia sedang menarik diri kita semakin dekat kepada-Nya? Dapatkah kita belajar mempercayai rencana Allah dan menantikan transformasi yang sedang berlangsung dalam kehidupan kita, sambil berpegang teguh pada sabda Allah dan mencari terus kasih-Nya? Seringkali kita tidak melihat gambaran yang lebih besar. Pencobaan-pencobaan dalam kehidupan kita terasa tidak masuk akal dan tidak fair. Namun demikian, marilah kita percaya kepada kasih Allah yang sungguh dapat diandalkan dan berdoa agar memperoleh rahmat untuk menghayati rencana-Nya, dan menyadari bahwa Dia sedang bekerja dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang penuh kasih dan bela rasa. Pimpinlah kami melalui pencobaan-pencobaan dan berbagai kesulitan dalam kehidupan kami dengan suatu visi berkenan dengan rencana-Mu yang besar dan hasrat-Mu terhadap kami, anak-anak-Mu. Tolonglah kami untuk selalu mengingat kasih-Mu dan janji-Mu bagi kami – yaitu bahwa kami akan mengalami hidup kekal dalam Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 9-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 7 Maret 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements