MANUSIA LEBIH MENYUKAI KEGELAPAN DARIPADA TERANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV [Tahun B], 11 Maret 2018) 

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatan-nya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:14-21) 

Bacaan Pertama: 2Taw 36:14-16,19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:4-10 

“Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19)

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari percakapan Yesus dengan Nikodemus di suatu malam (lihat Yoh 3:1-21), kiranya sebagai hasil permenungan dari sang penulis Injil yang diinspirasikan Roh Kudus. Masalah sang penulis Injil adalah sebagai berikut: (1) Apakah makna sebenarnya dari penyaliban Yesus?  (2) Apakah maksud kedatangan-Nya ke tengah dunia? Untuk menjelaskan teologinya, sang penginjil mengambil peristiwa pada zaman Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Bilangan.

Di padang gurun, sebagai tanggapan-Nya terhadap doa Musa, YHWH berfirman kepada Musa untuk  meninggikan ular tembaga pada tiang agar supaya orang-orang Israel yang memandang ular tembaga itu diselamatkan dari pagutan ular-ular tedung yang didatangkan YHWH karena dosa pemberontakan mereka (lihat Bil 21:4-9). Di tanah Palestina memang sering ditemukan banyak jenis ular (30 jenis), dan ada beberapa jenis yang memang berbisa mematikan. Tradisi tentang ular tembaga yang menyembuhkan orang-orang Yahudi yang dipagut ular tedung di padang gurun ini, kemudian dikaitkan dengan penyaliban Yesus. “Ditinggikan” berarti diangkat tinggi-tinggi atau dimuliakan. Dalam hal ini penulis Injil menggunakan istilah ini untuk menunjukkan penyaliban Yesus (bdk. Yoh 8:28; 12:32).

Ada persamaan antara kedua peristiwa tersebut namun sekaligus ada suatu perbedaan besar juga dalam hasilnya. Dalam peristiwa Perjanjian Lama itu barangsiapa yang kena gigitan ular tedung dan kemudian memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan pada sebuah tiang, maka dia akan hidup, artinya dia selamat, tidak jadi mati. Demikian pula halnya dalam Perjanjian Baru. Ada kehidupan baru yang akan diberikan Allah kepada setiap orang yang memandang dan percaya kepada Anak Manusia yang ditinggikan di kayu salib. Namun kehidupan yang diberikan oleh Sang Tersalib jauh lebih besar daripada kehidupan yang diberikan dengan memandang ular tembaga karena kehidupan yang diberikan di sini ialah kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini dihubungkan dengan iman akan kasih Bapa surgawi yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi hidup dunia (lihat Yoh 3:16-17). Hal ini terwujud melalui salib.

“Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:18). Apakah hukumannya itu? Yakni terus berada dalam kegelapan. Mengapa? Karena Yesus adalah terang yang datang ke dalam dunia, namun manusia pada dasarnya lebih mencintai kegelapan daripada terang. Ia tidak mau berjalan dalam Terang Anak Allah agar supaya perbuatannya yang jahat itu tidak tampak. Tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah (lihat Yoh 3:19-21). Ia tidak melakukan kebenaran itu berdasarkan kekuatannya sendiri, melainkan dalam kekuatan Allah dan sesuai denga   n kehendak-Nya. Di dalam sang Terang semua menjadi nyata, apakah orang berada dalam Allah atau di luar-Nya.

Bacaan Injil hari ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari pihak Allah daripada mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi kehidupan kita (Yoh 3:16; 1Yoh 4:9; bdk. 15:13), dan kasih itu mencapai puncaknya pada salib di Kalvari. Kita semua percaya akan hal itu, namun apakah kita sungguh-sungguh percaya?

Santo Paulus adalah contoh dari seorang pribadi manusia yang percaya. Orang kudus ini tetap bersemangat dan bahkan menjadi lebih bersemangat dalam segala tantangan yang dialaminya karena kesadarannya akan kasih Allah ini (bdk. Rm 8:31-39). Bagaimana dengan kita? Semoga Masa Prapaskah ini menyadarkan kita kembali akan misteri agung ini dan mendorong kita untuk memohon dengan tekun kepada-Nya agar kita dan seluruh Gereja memahami kembali misteri kasih yang begitu besar dan agung. Siapa yang menyimpan misteri ini di dalam hatinya akan terdorong untuk meninggalkan ini-itu yang bersifat duniawi dan mengarahkan segala pikiran dan hatinya kepada Kristus Yesus seperti yang terjadi atas diri rasul Paulus (bdk. Flp 3:4b-17).

DOA: Bapa surgawi, melalui bacaan Injil hari ini kami diingatkan kembali bahwa Engkau adalah Allah yang sangat mengasihi kami semua; juga bahwa hidup adalah suatu pilihan. Barangsiapa memilih Engkau, ya Allah, akan diangkat menjadi anak-anak-Mu oleh Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal, Tuhan dan Juruselamat kami. Dengan penuh ketulusan hati kami menyatakan kepada-Mu, bahwa kami memilih Engkau, ya Allah, Bapa kami. Oleh Roh Kudus-Mu, kuatkanlah kami agar tetap setia pada keputusan kami ini. Terima kasih, ya Tuhan dan Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA HARUS DITINGGIKAN” (bacaan tanggal 11-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

Cilandak, 8 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements