SEBUAH CONTOH RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 4 Mei 2018)

 

Kemudian rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara seiman itu. Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: “Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kami telah mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tanpa mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyahkan hatimu dengan ajaran mereka. Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, kami telah mengutus Yudas dan Silas yang secara lisan akan menyampaikan sendiri hal-hal ini kepada kamu. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak bebab daripada yang perlu ini: Kamu harus menjauhkan diri makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu menjaga diri terhadap hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang memberi penghiburan. (Kis 15:22-31)

Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12; Bacaan Injil: Yoh 15:12-17 

Jikalau kita perhatikan baik-baik, “Kisah Para Rasul” memiliki segala unsur yang dimiliki sebuah novel modern: intrik, skandal, excitement, dll. “Kisah Para Rasul” bukanlah hanya sebuah catatan historis, melainkan juga kisah atau cerita mengenai orang-orang seperti kita sendiri yang memperkenankan Allah untuk bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri mereka. Dalam “Kisah Para Rasul” kita melihat kasih Allah bagi Gereja-Nya – suatu kasih yang sampai hari ini terus membawa anak-anak Allah secara aman ke dalam kebebasan Injili.

Dalam perjalanan misioner mereka, Paulus dan Barnabas mulai mendapatkan orang-orang yang menerima menjadi murid Kristus. Ke mana saja mereka pergi, di tempat-tempat itu mereka mendirikan gereja. Kedua rasul ini menyemangati dan memperkuat murid-murid Kristus yang baru itu agar tetap setia kepada Yesus, walau di tengah-tengah kesulitan hidup sekali pun. Dengan penuh kegairahan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka mewartakan KABAR BAIK Yesus Kristus, juga tentang segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan Allah di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Kasih mereka yang besar terlihat jelas di mata banyak orang. Namun demikian, pada masa itu mereka pun menghadapi berbagai kesulitan, baik di bidang legalitas (hukum), kekuasaan dan posisi.

Penulis “Kisah Para Rasul” (Lukas) menceritakan tentang suatu kontroversi yang timbul ketika beberapa orang tertentu mulai mengajarkan bahwa sebelum seorang non-Yahudi dapat menjadi seorang Kristiani sejati, maka dia harus disunat terlebih dahulu dan juga mentaati Hukum Musa. Paulus dan Barnabas dengan lantang menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap ajaran keliru ini. Mereka pergi ke Yerusalem di mana mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan (konsili) para rasul dan penatua Gereja. Di situ para pemuka Gereja di Yerusalem itu menulis sepucuk surat yang menjelaskan kebenaran Injil dan kebebasan umat (yang berasal dari orang-orang non-Yahudi) dari legalisme Yahudi. Setelah membaca surat itu umat Kristiani non-Yahudi di Antiokhia bersukacita karena isi surat yang memberikan semangat.

Seperti biasanya, pada hari ini Allah ingin membawa kita ke dalam kebebasan melalui Yesus. Ia tidak mengutus Sabda-Nya (Yesus) kepada kita untuk mengikat kita dengan segala macam peraturan dan hukum. Pada kesempatan ini marilah kita berdoa bagi semua pemimpin dan individu-individu dalam Gereja – yang tertahbis maupun awam kebanyakan – yang melakukan pelayanan pewartaan Injil kepada orang-orang lain. Kita mohon kepada Allah agar melindungi mereka terhadap berbagai godaan akan legalisme, dominansi dan cinta akan kekuasaan. Kita mohon juga agar Bapa surga menyegarkan orang-orang yang kita doakan itu dan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus-Nya, sehingga dengan demikian mereka dapat berjalan dengan sukacita sejati yang datang dari Tuhan sendiri dan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan penuh semangat dan keberanian.

DOA: Bapa surgawi, kami mempersembahkan kepada-Mu semua anak-Mu yang bekerja tanpa mengenal lelah mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Kami mohon, ya Bapa, agar Engkau melindungi mereka dari segala godaan. Berilah mereka penyegaran dalam kasih akan kehadiran-Mu, sehingga setiap orang yang mendengar pewartaan mereka akan memuliakan nama-Mu dengan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:7-21), silahkan membaca tulisan yang berjudul “KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 4-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 1 Mei 2018 [Peringatan Santo Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements